Wednesday, October 9, 2013

Review Bis Semarang - Jogja

http://buslovers.com
 
Saya duduk tanpa kepastian kapan bus akan tiba. Kadang lima menit, kadang sepuluh menit, bahkan kadang sampai setengah jam bus yang saya tunggu belum juga datang. Akhirnya bus reyot itu datang. “jogja jogja magelang jogja..” teriak sang kondektur sambil mengacung acungkan tangannya kepada saya. Spontan saya lalu langsung menstop dan masuk ke bus yang pasti sudah penuh. Tidak ada sisa tempat duduk. Untuk berdiri pun terkadang sudah susah karena terlalu berjejal.

Ya, Jumat atau Sabtu sore, setiap saya hendak pulang ke Magelang dari Ungaran ini, mendapatkan tempat duduk di bus ekonomi/ bumel Semarang – Jogja adalah sebuah keajaiban. Bahkan sepanjang Ungaran – Bawen, bus yang sudah sesak ini tambah di jejal oleh karyawan pabrik yang rata rata pulang dari pabrik ataupun pulang berakhir pekan ke kampungnya.

Saya selalu saja harus memendam dalam dalam harapan bisa tidur nyaman di bus dan terbangun ketika sudah sampai Magelang. Andaikan itu terjadi, pasti saya dapat tempat duduk ketika sudah sampai Secang. Tragis ya? Ya seperti itulah… kondisi di dalam bus pun tidak senyaman yang dibayangkan. Dengan tanpa AC, peluh para penumpang pun saling bertukar dan menghasilkan aroma yang bermacam macam. Tidak jarang, saya juga menemui beberapa bus tua yang masih beroperasi dengan konfigurasi seat yang sudah rusak. Terkadang sobek, terkadang busa nya sudah terkoyak, dan lain sebagainya. Sudah memprihatinkan singkatnya.

Ya, semacam itulah ‘derita’ yang harus saya alami tiap saya pulang ke Magelang pada akhir pekan menggunakan moda transportasi bis bumel. Trayek Semarang – Jogja PP selama ini memang dalam benak saya terkesan standar saja. Tapi, sejak saya rajin naik bus Semarang – Solo dan Jogja – Surabaya, kesan standar tadi sudah mulai turun. Menjadi kesan buruk.

Bagaimana tidak, dengan jarak yang sama sama ditempuh sekitar 3 jam Semarang Jogja dan Semarang Solo, ternyata jalur ke Solo lebih memiliki bis bis yang bagus. PO yang banyak, armada yang banyak (bisa tiap 2 menit ada) dan tentu saja manajemen per-tiketan nya jelas. Tarif yang jelas dan karcis/tiket setiap perjalanan. Tidak ada tawar menawar. Selain itu, pilihannya juga banyak. Bisa menggunakan Ekonomi Non AC (Ismo, Safari Biasa), AC Seat 2-2 Tarif biasa (Royal Safari – Taruna), AC Lux (Safari Lux), dan Patas (Raya, Muncul, Rajawali, New Ismo, Shantika). Benar benar pelayanan bus yang memuaskan bila berkendara di jalur Semarang – Solo ini.

Selain itu, karena dalam waktu waktu terakhir saya sering bepergian ke Jawa Timur menggunakan bus, saya juga merasa bahwa manajemen bis disana lebih baik dari yang saya temui di trayek AKAP Semarang Jogja. Meski sama sama AKAP, Bis Jogja – Surabaya kini di semua kelas ekonomi sudah ATB (Ac Tarif Biasa) kelas ini dikuasai oleh Mira dan Sumber Grup (Sugeng Rahayu, Sumber Selamat) dengan armada yang sangat banyak, bahkan bila dua bis ATB tadi di gabungkan, makan setiap 1,5 menit sekali lewat. Jadi, proses menunggu bis adalah sesuatu yang tidak menjenuhkan. Berbeda dari penuturan saya di awal tadi.

Setiap ikut bis ini pun, harga tiket selalu mengikuti aturan yang ada. Dan pasti diberi karcis untuk bukti pembayarannya. Beberapa waktu yang lalu bahkan ada sistem KL (Kartu Langganan) untuk mendapatkan potongan harga. Itu yang saya rasa sebagai sebuah terobosan peraturan yang mantap tentang tarif bis. Dengan kata lain, bis Semarang – Jogja sebenarnya juga bisa melakukan seperti itu.
bismania.com

Kembali ke Semarang – Jogja. Selain kelas ekonomi non AC, jalur ini dilayani oleh Patas yang hanya dikuasai oleh Ramayana dan Nusantara. Jadwalnya pun terbatas. Dan menaik turunkan penumpang hanya dilayani di agen. Dengan perbedaan tarif yang sangat kentara, saya rasa worth it untuk sesekali menumpang Patas ini. Meski saya pribadi harus rela naik angkutan dari Ungaran menuju ke Agen Sukun Banyumanik sebelum bisa mendapatkan tiket Patas seharga 25 Ribu untuk jurusan Magelang. Selisih 13Ribu dari Ekonomi. Saya lebih memilih Nusantara dengan busnya yang bagus-bagus dan pelayanannya yang menurut saya lebih baik.

Oya, untuk kelas ekonomi non AC, bus bus yang ngeline di trayek ini adalah Sumber Waras Grup (Sumber Waras, Mustika, Trisulatama), Tri Sakti, Santoso, Ramayana, PO Wolu, dan Maju Lancar. Untuk kualitas bus, jangan ditanya. Rata rata usianya sudah uzur dan seadanya. Sedikit flashback sekitar tahun 2006, saya pernah sekali naik Maju Lancar. PO yang berkantor di Wonosari YK ini waktu itu memiliki armada ATB. Pertama dan satu satunya di trayek ini. Ya, saya ingat, bus AC ini dengan seat 2-3 bertingkah sebagaimana bus ekonomi. Namun, hanya sekali itu saja dan setelah itu entah kenapa sekarang sudah tidak ada lagi.
http://f1.pepst.com

Masih di Jawa Tengah, kondisi yang mungkin lebih mengenaskan adalah bus bus tua yang ‘dipaksa’ ngeline trayek Semarang – Purwokerto. Maju Makmur, nama PO bus tersebut. PO yang berkantor di Jl. Soekarno Hatta Magelang ini sejatinya sudah tua tua dan maaf, jelek. Tapi masih saja melayani penumpang ekonomi Semarang – Purwokerto, baik itu via Wonosobo Banjarnegara, ataupun via Magelang – Kebumen. Beberapa bus bahkan saya lihat membeli bekas dari PO Safari di Salatiga. Sampai saat ini, penumpang mungkin hanya bisa berharap armada armada kelas ekonomi Maju Makmur dan lainnya (Aneka, Langsung, Trikusuma, Sumeh) bisa meremajakan armadanya dengan mencontoh ATB nya Mira dan Sumber Grup. Yah, meski begitu, trayek jalur tengah dan selatan Jawa Tengah ini masih menang di pemberangkatan yang 24 Jam. Tidak seperti trayek Jogja – Semarang yang hanya sampai sekitar jam 18,00 saja. Oya, selain itu, PO besar yang menguasai jalur selatan Jawa Tengah adalah Sumber Alam. PO yang beralamat di Kutoarjo ini memiliki Patas dan Ekonomi Jurusan Semarang – Cilacap PP via Magelang. Bus ekonominya sedikit lebih ‘baik’ daripada Semarang Jogja, yaitu dengan konfigurasi seat 2-2 di beberapa armadanya.
http://juprex7r.files.wordpress.com

Saya sendiri sampai saat ini juga bingung dengan harga tiket bumel Semarang – Jogja. Dengan manajeman yang ‘kurang’ transparan, harga tiket pun tidak pernah pasti karena pemberian tiket sifatnya ‘suka suka’ kondektur. Dapat dipastikan, hal ini karena sistem yang digunakan oleh PO adalah setoran. Bukan penggajian karyawan. Sekali waktu, saya naik Tri Sakti dari Muntilan untuk ke Ungaran dengan 15,000, dan sebelah saya yang adalah ‘pelanggan’ naik dari Mertoyudan – Semarang dengan membayar 10,000 saja. Sama sama tanpa tiket.
bismania.com
Setelah kenaikan BBM ini, saya hanya mengira ira saja tarif bis bumel Semarang – Jogja adalah sbb :

Trayek    Harga Tiket
Semarang – Jogja / Jogja - Semarang    23,000
Jogja – Muntilan / Semarang – Ungaran / Bawen / Ambarawa    5,000 – 7,000
Jogja – Magelang / Secang – Semarang / Magelang - Ungaran    10,000

Sementara Tarif Patas (Resmi PO Nusantara)

Trayek    Harga Tiket
Semarang – Jogja / Jogja - Semarang    45,000
Semarang – Secang/Magelang    25,000

Nah, untuk tarif ATB (kalau misalnya ke depannya ada)
Trayek    Harga Tiket
Semarang – Jogja / Jogja - Semarang    35,000
Jogja – Muntilan / Semarang – Ungaran / Bawen / Ambarawa    10,000
Jogja – Magelang / Secang – Semarang / Magelang - Ungaran    20,000

5 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. Maaf, gambar bus Ramayana-nya saya take ya ...

    ReplyDelete
  3. @Johan : silahkan. Itu dari bismania.com :)

    ReplyDelete
  4. aku jujurnya males mas naik bis di Indonesia ini...-__- Ga nyaman..kalo mudik k solo, aku lbh milih naik mobil sendiri ato KA.. drpd hrs bis.. manalah supirnya suka ngebut seenak udel, bagian dlmnya dgr2 jg ga nyaman dan jorok.. -__- Bisa2 mabok darat kalo kupaksain naik

    ReplyDelete
  5. @Fanny : Sebenernya nggak gitu2 amat juga sih mbak. Coba pakai bis yang super eksekutif. Saya pernah nyoba juga sekali Jakarta Magelang. bisnya longgar. Tiketnya mahal sih. Tapi nyamat banget :D Tapi kalau disuruh milih, masih mending KA, tetep :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...