Monday, October 28, 2013

Magelang di Mata Andries Schell de Nijs - Sebuah Kenangan Masa Lalu


Catatan ini saya peroleh dari facebook Komunitas Kota Toea Magelang. yang ditulis oleh Andries Schell de Nijs. Setelah saya download dan saya baca, isinya sungguh luar biasa. Selamat menikmati ;) 

[copy tanpa mengubah apapun]

Tentang Aku dan Keluargaku

Perkenalkan namaku Jean Andries SCHELL DE NIJS. Sebuah nama yang jika di Spanyol kami menggunakan nama kedua keluarga, yaituayah(1st) dan ibu (2nd). Saya dilahirkan di sebuah kota yang indah dengan udaranya yang sejuk  karena dikelilingi oleh gunung dan pegunungan, Magelang. Sebuah kota yang sangat nyaman untuk ditinggali.

Ayah saya bernama John, beliau dilahirkan di Rotterdam, sebuah kota di negeri Belanda/Holland;sedangkan ibu saya bernama Aerda yang dilahirkan di sebuah kota di utara Magelang, Ambarawa. Ibuku merupakan putri dari nenekku yang berasal dari Indonesia yang bernama Mila,tetapi siapa kakekku yang juga berasal dari  Indonesia tidak diketahui siapa namanya hingga kini. 

Nama keluarga Belanda diberikan melalui perkawinan ibu dari ayahku pada tahun 1922 dengan Agustus Ferdinandus Jacobus de Nijs. Ayah saya janda istri Indonesia, Kona, kemudian menikah dengan ibu saya.Pernikahankedua berlangsung di Langsa (Sumatera) pada tanggal 10 November 1937. 

Dua saudara saya dilahirkan di Lokhseumawe dan kota Langsa, sedangkan saudari saya di lahirkan di  Kotaraja (Banda Aceh). Dua saudara saya yang lain dan saya sendiri dilahirkan di Magelang. Waktu itu, ibu saya telah bekerja di Aceh sebagai kepalaperawat di rumah sakit militer.Ibusaya terus melakukan pekerjaan yang sama di hospital militar/rumah sakit militerselama dua tahun pertama saat  tinggal di Magelang di antara tahun 1938-1940. Meskipun demikian,di tengah kesibukannya ibu saya juga mengurus rumah tangga dan anak-anak. 

 
Militair Hospitaal, tempat kerja ibuku sebagai kepala perawat
Sumber:

Kami memiliki dua orang perempuan yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Satu sebagai juru masak (kokkie) dan seorang lagi menjadi pembantu rumah tangga (babu), serta seorang laki-laki sebagai“djongos”. Semuanyaada tiga orang pembantu yang sangat berguna dan baik dengan anak-anak. Saya masih ingat betul saat pembantu saya yang bernama Itih sangat manis dan penuh kasih sebagai layaknya seorang wanita. Setiap dua hari sekali ibu dan kokkie pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. 

Meskipun ayah saya menjadi seorang perwira Belanda, kehidupan sosial dengan keluarga Belanda itu tidak sangat mudah untuk ibu saya dan anak-anaknya. Anda bisa mengatakan bahwa keluarga kami ada di antara keturunan  Indo dan keturunan Belanda (totok). Teman-teman kami memang sebagian besar adalah orang Indo, meskipun di sekolah kami memiliki beberapa teman orang Belanda. Namun, itu agak sulit untuk dapat bersama-sama setelah selesai jam sekolah. 

Orang-orang Indo itu jauh lebih mudah untuk memiliki hubungan dengan keluarga Cina dan campuran keluarga Cina-Belanda. Saya harus mengatakan bahwa orang tua saya cukup terbuka untuk menerima keluarga Indonesia dan Cina. Saya ingat bahwa pada hari-hari khusus seperti hari libur, mereka menyelenggarakan perayaan acara bersama dengan beberapa perkumpulan  keluarga. Kami para anak-anak sangat menikmati sajian makanan dari mereka,terutama permen dan makanan lainnya, seperti kue lapis, dodol, klepon, dan sebagainya.

Dalam enam hari dari seminggu, menú makanan kami untuk sarapan di pukul tujuh pagi adalah roti, margarin, selai, atau selai kacang (pindakaas) dengan gulaaren, telur rebús, dan teh, atau cokelat susu. Untuk pukul satu siang, kami makan nasi, ikan, atau daging (semur, opor, rendang, atau sate), sayur, dan buah. Pada pukul enam malam, ada sup, hidangan nasi sederhana (misalnya nasi goreng, atau nasi dengan semur daging, atau ikan goreng) atau mie goreng, atau telur dadar. Sebelum kita pergi tidur kami mendapat segelas susu hangat. 

 
Militarr Zwembasin atau kolam renang militer di daerah Pisangan dekat dengan Sungai Elo, di sinilah aku sering berenang.
Sumber:

Satu hari dalam seminggu sebuah truk datang dari perkemahan dengan ransum yang biasanya terdiri dari tepung, gula, susu bubuk, kering seluruh telur, tepung kentang, kering buah plum atau aprikot, kakao, dan coklat. Itu adalah hari yang kami makan di malam makanan Belanda: kentang atau kentang tumbuk, sayuran, dan daging  yang direbus atau cincang

Kadang-kadang kami pergi untuk berenang di akhir pekan. Meskipun kami  memungkinkan untuk berenang di kolam renang milik Hotel Loze yang ada di timur Aloon-aloon, tetapi kami malah sebagian besar lebih suka pergi ke kolam renang militer di Pisangan di timur Sungai Elo. Sebab, jika berenang di Hotel Loze kadang-kadang kami mendapat masalah dengan anak-anak Belanda dan dengan orang tua mereka, meskipun kami tidak pernah mempermasalahkan untuk hal itu. Sebagian besar keluarga yang tinggal di daerah kami adalah pernikahan campuran, seperti halnya kami ini. 

 
Badplaats Hotel Loze, kolam renang di belakang Hotel Loze, kadang-kadang aku berenang juga di sini.
Sumber:



Tentang Masa Kecilku

Ada sebuah cerita tentang tetanggaku yang bernama Mr Weizig yang tinggal di seberang rumah kami. Di halaman rumahnya, tumbuhlah pohon-pohon yang besar dan kekar yang dimana akar-akarnya menjuntai dan menggantung yang bisa untuk dinaiki. Di dalam halamannya, secara diam-diam kami bermain bergelantungan mirip dengan tarzan. Setiap kali, Mr. Weizig menemukan kami  telah duduk-duduk di pepohonan itu lagi. Diapun menunggu ayah saya yang pulang dari Akademi.

 Ketika ayahku pulang ia pun berseru dari pekarangannya,
”Anak-anak nakal lagi!Apa yang kalian lakukan?”Tanya ayah saya.
'’Mereka menggantung cabang-cabang saya, tetapi besok aku akan mengergaji cabang-cabang ini.'’
“Oh ya...baik jika Anda mau mengergaji cabang-cabang tersebut.“
Dan memang keesokan harinya pohon-pohon itu benar-benar telah kosong dari bawah. Namun, ya kami tidak terkesan, karena kita juga bisa memanjat pohon dengan baik. Hanya di bawah bagian atas kami datang, kemudian hanya berteriak pada satu sama lain
 “Huwhaaa..., huwhaaa.
Dan apa yang di lakukan oleh Mr. Weizig adalah bukan mendekati kami, tetapi menjauhi  dari kami.
Kami yang masih anak-anak sangat suka bermain-main, apalagi tepat di depan kompleks rumah kami ada sebuah tanah lapang yang cukup luas yang di sebut dengan Bada’an Plantsoen. Atau di jalan tepat di depan rumah kami sering bermain dengan sekelompok kawan Indo. Jika kami bertemu dengan anak-anak  lain di jalanan maka sangat senanglah kami. Permainan kesukaan kami adalah sebagian besar bermain kasti, bermain game, main kuda-kudaan, layang-layang terbang, bermain prajurit atau banyak bercanda adalah kegiatan kami. Jika kami bermain maka sangat berisiklah kami sehingga membuat  tetangga terganggu saat  tidur siangnya

Jadi, jika kita bermain terlalu gaduh atau ramai, maka Mr. Weizig bisa terganggu dan melupakan tidur siangnya. Pernah pada suatu saat karena terganggu tidurnya, ia datang dengan benar-benar marah berteriak dengan masih memakai piyamanya.

 “Kalian pergi, kalian harus pergi, Anda membuat terlalu banyak kebisingan, terlalu banyak keributan!”
Di tahun barupun kami mengganggu dia dengan terlalu. Kami bersembunyi di belakang  pagar dengan bomblet mercon dan kami berteriak memanggilnya.
“Mr. Weizig!“
Segera Mr. Weizig membuka pintu rumahnya, lalu kami menyeberangi kembang api dan melemparkan ke arahnya.
Bleddaaaar”,
Dan kamipun melarikan diri.
“Orang jahat.
Ia meraung-raung ke kami. Dan di jalan saat menyeberang kamipun menyalakan mercon tikusan ke arahnya,
"Fwieeeet...Bledaaaar!"
Dia gila karena kemarahan  kita.

Namun, dia bukanlah manusia yang tidak baik.Apabila dia melihat aku, dia meminta saya untuk datang bersamanya.Kemudian, dia memberi saya beberapa buah jambu.

“Terima kasih tuan.

Aku berkata sopan,tetapi aku tidak memakan sendiri buah-buahan itu.Aku berbagi dengan teman-temanku.Aku sudah punya cukup buah lezat yang dicuri dari kebunnya.

Kenakalan kami juga pernah menemui batunya. Pada hari itu, kami berada lebih jauh dari rumah dan tiba di Jordaanlaan di dekat balai kota (Raadhuis Gemeente Magelang). Di jalan itu berada terdapat lampu lentera yang indah. Tiba-tiba Samalo, kawanku, mengambil ketapelnya dan kami mulai mencari batu dan kacang kenari. Ketika kita sudah memiliki cukup batu dan kenarinya, maka diadakanlah kontes siapa yang bisa mengenai lampu lentera itu dengan ketapel. Ketika kita mulai menembak dengan ketapel, kita tertangkap oleh kepala agen polisi Jawa yang sedang naik dengan sepedanya. Jadi, mereka harus ke pos polisi/politiehuis di Alun-Alun untuk laporan resmi.
 
Kweekschool di Djalan Pastoeran
Sumber:

Kami berjalan baik dengan agen itu sampai kita mencapai gedung sekolah pembiakan pegawai negeri sipil. Jalan ini dibagi menjadi dua bagian, kiri dan kanan. Ketika kami tiba di Kweekschool,kami berlari ke sisi kiri, hal itu membuat terkejut si agen itu. Kami berlari ke Kweekschoolmelalui kebun-kebun dan turun ke jalan keluar di Keresidenan, hingga di situ kami belum melihat agen itu mengejar kami.
 
Hotel Loze, hotel di timur Aloon-Aloon kotaku
Sumber:

Jembatan gantung yang ada di Botonstraat adalah tempat main khusus bagi kami. Jembatan ini dibangun dari tali dan bambu dan jika kita berlompatan semua, maka jembatan itu akan bergoyang-goyang. Hal itu kita lakukan kepada wanita-wanita yang tidak menyangka apa-apa dan apalagi jika sudah setengah jalan melalui jembatan itu. 

“Hé, awas ya, bisa terjatuh.

Mereka berteriak dalam keadaan panik. Kami terus pura-pura tidak mendengar dan hanya berhenti ketika mereka berteriak. Namun, ketika mereka kemudian berjalan melewati kami, mereka memberi senyum kepada kami.

Kami merasa berani, benar-benar berani. Namun, saat kami melihat  petugas polisi Belanda dengan tanda garis-garis pada lengan mereka, maka kami berada langsung di penjaga kami. Mereka datang pada kami dengan sangat tegas dan kemudian meminta: 

“Dimana Anda tinggal? Berikan katapel yang langsung di sini.
Lalu, mereka segera menarik  kami.
Agen Indonesia adalah orang-orang yang benar-benar baik. Suatu hari mereka diminta untuk menyebutkan nama kami. Satu per satu dari kita, tiga orang yang ditunjuk. 

Namaku  Andries.
"Namaku juga Andries.”
“Saya juga...Andries.“
 “Jadi kalian disebut semua Andries?“Dan merekapun terkejut.
“Ya, kita adalah Andries bersaudara.”
 Aku berkata, kalau aku adalah anak bungsu dari kami tiga bersaudara.

Kadang-kadang juga datang seorang tukang kue ke rumah kami. Yang unik adalah jika kita membeli sesuatu,maka kita bisa menggambar di tukang kue itu. Mereka menempel cincin logam. Gambar itu gambar hewan yang memungkinkan Anda mendapatkan tambahan kue jika bisa menang. Rusa dua potongan, jerapah tiga, dan untuk Gajah delapan potongan. Kadang-kadang pula di jalan, kami kedatangan seorang penjual es yang membawa es lilin dengan rasa yang berbeda, seperti vanili, mangga, sirsak, dan jeruk.

Saya juga ingat, sambil bermain di kebun, secara teratur melihat orang  India 'Sikh' di jalan bermain sejenis seruling, kemudian duduk di depan, dan membuka keranjang yang ternyata malah muncul ular kobra. Setiap kali itu terjadi aku pergi menjerit dan berlari ke dalam rumah.  Saat itulah untuk pertama kalinya  saya dipanggil dengan nama 'Indo'. Sejak saat itu, penamaan ini telah selalu menyertai saya, bahkan ketika tinggal di Belanda sekalipun;sedangkan saat ini saya tinggal inggal di Barcelona, Spanyol. Meski demikian, saya bangga disebut  dengan Indonesia. Walaupun saya sekarang ini memiliki kewarganegaraan Spanyol.


Tentang Rumahku
 
Inilah rumahku di Rembrandtlaan
Sumber:

Rumah kami memiliki halaman yang luas dengan taman yang indah. Yang  selalu saya ingatadalah adanya 'pohon cemara' yang tinggi menjulang. Dan dari sana pula,saya bisa melihat kerucut biru dari Gunung Sumbingyang ada di sebelah barat. Rumah kami berada dekat, saya percaya dan meyakininya, sebuah daerah yang disebut dengan Bada'an, di mana di daerah ini semuanya adalah rumahuntuk para perwira militer(nieuwe officierskampement).
 
Nieuwe Officierskampement, di kawasan inilah aku tinggal
Sumber:

Rumah saya berada di sebuah jalan yang telah saya sebutkan sebagai Rembrandtstraat atau Rembrandtlaan. Sebenarnya, rumah saya berada di zona atau kawasan tangsi militer atau kaderschool yang sangat luas, karena kemana pun kita pergi akan menemui orang-orang militer, bangunan, serta rumah keluarganya.
 
Wacht Provoosthuis Militair Auditie, bangunan megah di timur lapangan tangsi militer  Aloon-Aloon “kaderschool.


Kaderschool sendiri ada di timur rumahku. Di tengah-tengah tangsi militer Kaderschool tersebut nampaklah lapangan yang sangat luas yang biasa disebut dengan Militaire Aloon-Aloon, tempat untuk menggelar parade dan latihan militer. Di sisi timur nampaklah sebuah bangunan megah yang berfungsi sebagai Wacht Provoosthuis Militair Auditie. Di atas gedung itu nampaklah sebuah jam rakasasa sebagai petunjuk waktu. Di sisi utara dan selatan lapangan inilah bangunan-bangunan tangsi militer berdiri.
 
Militair Aloon-Aloon, tempat latihan dan upacara militer
Sumber:

Kalau dari rumahku untuk menuju kawasan tangsi militer “kaderschool” itu kita harus melewati Plengkoeng, semacam terowongan buatan di mana di atasnya mengalir sebuah selokan air yang mengalirkan air dari Sungai Manggis di Pucangsari. Saluran air ini membelah kota menuju Pontjol-Aloon-Aloon-Tengkon-Bajeman dan berakhir di Djagoan. Saluran air ini biasa disebut dengan “Boog Kota Leiding” semacam aquaduk atau fly river. Kalau kita mendaki ke atas Plengkoeng ini, maka kita dapat melihat gunung-gunung yang mengelilingi kotaku.Apalagi kalau melihat ke sisi barat, nampaklah keindahan Perbukitan Giyanti nan-elok.Sawah dan desapun terlihat dari atas Plengkoeng itu.
 
Plengkoeng Baroe di dekat rumahku
Sumber:

Entahlah sejak kapan bangunan ini di bangun, Akan tetapi, pada dinding bangunan PlengkoengBaroe di Badaa’an itu tertulis “1920”. Bisa jadi di tahun itulah bangunan ini berdiri. Atau bahkan lebih tua dari itu karena di dinding atas Plengkoeng Lama malah tertulis angka “1883”.Yang luar biasa di kotaku ada 3 plengkung yang bentuknya berbeda. Satu ada di Bada’an, satunya ada di dekat Grooteweg Noord Pontjol, dan yang lainnya ada belakang Patjinan, dekat di kampung Tengkon. Bisa jadi cuma di kotaku saja yang ada selokan air yang letaknya lebih tinggi dari tanah sekitarnya.
 
Plengkoeng Lama, ada di selatan Plengkoeng Baroe
Sumber:



Kalau dari rumahku untuk menuju ke kawasan tangsi militer ini kita harus melewati rel kereta api. Tangsi militer ada di sisi timur dari Grooteweg Noord ini, dan jalan ini berdampingan dengan rel kereta api yang melintas menuju ke arah utara yaitu ke Ambarawa, Temanggung,  dan Parakan. Jika ke selatan menuju ke Muntilan, Sleman, dan  Jogja.
 
Stasiun Magelang Kotta yang ada di dekat rumahku
Sumber:

Saatkereta uap melewati jalan ini, maka terdengarlah suaranya yang nyaring ‘nguuuk…nguuukk….nguuuukkk’. Berikut asap hitamnya yang mengepul di atasnya. Terlebih tidak begitu jauh di belakang rumah kami terletak stasiun kereta api Magelang Kotta, sungguh betapa ramainya suasananya di saat itu. Kereta uap ini ada yang menyebutnya dengan nama “sepur truthug” atau “sepur kluthuk” karena jika berjalan teramat lambat sekali. Maklum saja kereta uap itu bahan bakarnya adalah kayu bakar.

Di dekat Aloon-Aloon juga terdapat tempat pemberhentian kereta api yang di sebut dengan “stopplaats”. Di tempat ini orang-orang bisa naik turun kereta api jika mau atau hendak ke Aloon-Aloon.
 
Stopplaats kereta api di timur Aloon-Aloon
Sumber:


Tentang Kotaku

Kotaku yang ku tinggali ini sangat menawan dan sejuk sekali, coba bayangkan sebuah kota dikelilingi oleh gunung, pegunungan, bukit, dan perbukitan, serta sungai. Di sisi timur, membentang Gunung Andong, Telomoyo, Merbabu, dan Merapi. 

Di sebelah barat membujur beberapa gunung, yaitu Gunung Sindoro, Sumbing, dan Perbukitan Giyanti. Di selatan ada Pegunungan Menoreh, dan yang paling istimewa adalah di tengah kota terdapat sebuah bukit, Bukit Tidar namanya. Bukit Tidar ini di percaya sebagai pusatnya tanah Jawa sehingga di juluki ‘’De Spijker van Java”.
 
Merapi, di sisi timur kotaku
Sumber:

“De zwarte spijker symboliseert de goenoeng”Tidar” het middelpunt van Java, in de Indische oceaan is vast gespijkerd”.
[‘’Paku hitam melambangkan GunungTidar’ sebagai pusatnya Pulau Jawa, di Samudra Hindia adalah tetap dipaku"].
De naam “MAGELANG” stamt vermoedelijk uit zeer oude tijden. Een der legenden, die in omloop zijn, verhaalt hieromtrent, dat een landbouwer zich met zijn vrouw en dochter op weg begaven om een vruchtbaar stuk grond te zoeken.
De dochter, bemerkende dat zij haar armband verloren had, riep, zeer verschrikt:
“Ma, gelang“[Moeder, mijn armband!]
Al zoekende naar den armband, ontdekte de vader de buitengewone kwaliteiten van den grond en vestigde hij zich op de plaats waar de armband werd teruggevonden.
Dit “verhaal” klinkt nogal fantastisch, zoodat men gewilliger aanneemt, dat het woord “Magelang” is afgeleid van “Mahagelang” = “groote ring”.

[Menurut sebuah legenda nama "Magelang" mungkin berasal dari zaman yang sangat kuno. Salah satu legenda yang beredar, menceritakan dalam hal ini, bahwa seorang petani pergi dengan istri dan anak perempuannya di jalan untuk mencari tanah yang subur. Sang putri memaham ibahwa ia telah kehilangan gelangnya, menangis, dan sangat ketakutan sambil berkata:"Ma, gelang"[Ibu,gelangsaya!].
Sementara ia mencari gelangnya, ayah menemukan tanah yang luar biasa kualitasnya, dania menetap ditempat di mana gelang itu ditemukan.
Ini"cerita" terdengar agak fantastis,jadi kam irela menerima bahwa kata"Magelang" berasal dari
 kata "Mahagelang" ="cincin besar"].

 
Bukit Tidar “De Spijker van Java
Sumber:

Nah, karena di kelilingi oleh gunung, pegunungan, bukit, dan perbukitan, inilah yang membentuk sebuah lingkaran besar yang bagaikan “gelang raksasa’’ atau “Maha-Gelang” sehingga orang menyebutnya dengan nama “Magelang”.
 
Gunung Sumbing ada di sebelah barat kotaku.Mooi Magelang
Sumber:

 Bahkan, di sebelah timur kotaku juga mengalir dari utara ke selatan  sebuah sungai yang disebut dengan Sungai Elo atau Ello rivier,sedangkan di sebelah barat mengalir juga sebuah sungai bernama Sungai Progo/Progo rivier. Jadi, selain dikelilingi oleh gunung, bukit, perbukitan, dan pegunungan, kotaku juga di apit oleh dua buah sungai.Jadi, wajarlah jika banyak pemandangan nan-elok ada di kotaku, memadukan dengan sawah, desa, hutan, jalan, dan lain sebagainya.Mooi Magelang.
 
Sungai Progo membatasi sisi barat kotaku
Sumber:

 Karena demikian, eloknya ada sebuah kepercayaan jika kotaku adalah sebuah surga yang dijatuhkan dari langit bak permadani nan-indah. Pantaslah jika kotaku mendapat julukan sebagai “Middelpunt van den Tuin van Java”.
 
Sungai Elo di sebelah timur kotaku
Sumber:

Di dekat selatan kawasantangsi militer yang menjadi Kaderschoolada sebuah hotel yang disebut dengan Hotel Centrum. Posisinya tepat di pertemuan jalan antara Grooteweg Noord Pontjoldan Kampementslaan.
 
Hotel Centrum yang ada di Grooteweg Pontjol
Sumber:

Di belakang Hotel Centrum ini ada sebuah kanal yang biasa di sebut dengan Manggisleiding, sebuah sungai buatan yang mengalirkan air dari Sungai Progo di Kranggan Temanggung membelah Kota Magelang sejauh hampir 20 kilometer.Manggisleiding ini fungsi utamanya adalah sebagai saluran irigasi untuk pertanian dan perkebunan.
 
Groote weg Pontjol, berdampingan dengan rel kereta api
Sumber:
 
Grooteweg Noord Pontjol
Sumber:

Pada sisi seberang selatan dari Grooteweg NoordPontjolterletak Hotel Sindoro. Sebuah hotel yang sangat cantik di kota ini. Di selatannya lagi dekat dengan persimpangan jalan juga ada sebuah hotel, Montagne namanya.
 
Gemeentehuis/Raadhuis atau balaikota tempat kantor BurgemeesterMagelang yang ada di Residentielaan
Sumber:

Di dekat daerah di belakangRaadhuis atau balaikota di Jordaanlaan ada sebuah bioskop (de Bioscoop) yang bernama Al Hambra yang dekat dengan Kampung Botton. Bioskop ini salah satu bioskop selain Bioskop Roxy yang  terletak timur Aloon-Aloon.Di bioskop inilah tempat hiburan terfavorit kotaku.
Melihat hal itu kita bisa mengatakan bahwa di daerah Pontjol itu merupakan akhir dari  kawasan zona militer dan jika terus menuju ke arah selatan, maka mulailah tampak nyata kota Magelang secara umum (sipil).
 
Hotel Montagne di Grooteweg Pontjol
Sumber:

Di sekitar pojok Aloon-Aloon terdapat sebuah bangunan megah yang bernama Watertoren yang fungsinya sebagai menara air minum. Watertorenini dibangun pada tahun 1920 oleh seorang arsitek bernama Herman Thomas Karsten. Di sekitarnya kita bisa menemukan berbagai sekolah, seperti MOSVIA danHogeKweek School/HKS, ada jugamasjid/mesigit/moskee, kelenteng/chinneesekerk, gereja Katolik/roomschskatholijkkerk dan gereja Protestan/protestankerk. Dimana HKS, christelijk Mulo terletak antara keresidenan/residentwoning, Kuil, dan Pastoeran.
 
Watertoren ini di bangun tahun 1920
Sumber:

Saya juga masih ingat adanya sebuah penjara di selatan Aloon-Aloon Kidoel, yaitu di Kerkopan. Di timur Aloon-Aloon ada poskantoor, Hotel Loze, Escompto Bank, Bioskop Roxy, dan Restaurant Bandung.
 
Societeit  De Eendracht, di pojok Aloon-aloon
Sumber:

Di pojok utara juga ada regenwoning, tempat tinggal bupatiMagelang/regentwoning. Ada juga Societieitde Eendracht” tempat berdansa dan bermain bola sodok;sedangkan Pasar itu, seperti yang saya katakan sebelumnya,  ada di Groote Weg Zuid, dekat dengan stanplaats dan stasiun Passar di ujung selatan Patjinan.

Op deze foto van de Magelangsche aloon-aloon ziet men naast het fraaie Roxy-theater [gebouwd door Pluyter] het filiaal van de Escompto-maatschappij, terwijl naast het bankgebouw nog juist een deel van prachtige flatlogeergebouw van Hotel “Loze” te zien is.
Aan de aloon-aloon heeft men voorts het Postkantoor, het Kadaster-kantoor en de gebouwen van eenigst overgebleven Mosvia van Ned. Indie. Verder siert de prachtige Moskee dit plein, terwijl de R.K. kerk, de Prot. Kerk, de kaboepaten en de Societeit De Eendracht de kring van gebouwen om de aloon-aloon sluiten.”
[H.J. Sjouke 1935]

“Ini gambar Aloon-Aloon Magelang terlihat di samping Roxy Theatre indah[dibangun oleh Pluyter] dekat dengan Bank Escompto. Sementara di sebelah gedung bank masih terlihat bagian dari bangunan yang indah dari sebuah Hotel"Loze". Pada Aloon-Aloon juga ada Kantor Pos, kantor Pendaftaran Tanah,dan sisanya bangunan Mosvia untuk Hindia Belanda. Selain itu, dihiasi juga dengan Masjid yang megah, sementara itu juga ada gereja  Katolik Roma,  Gereja Protestan, Rumah Kabupaten, dan Societeit de Eendracht di mana bangunan ini melingkari Aloon-Aloon."

 
Patjinan, tempat orang-orang Cina membuka kios untuk berjualan
Sumber:
 
Stasiun Passar di kotaku, di selatan Patjinan
Sumber:

Untuk menuju ke pasar harus melewati Patjinan, tempat deretan toko-toko milik orang-orang China. Di samping itu, ada juga pejagalan. Bisa di bayangkan jika di dekat pasar sangat ramai sekali karena ada stasiun, stanplaats, dan Patjinan menjadi satu.
 
Stanplaats oto yang ada di depan stasiun Passar
Sumber:




Tentang Sekolahku

Kakak-kakak saya pergi ke “Europeesche Lagere School”tidak jauh dari rumah kami, sedangkan adik saya ke sekolah dengan para Zuster Franciscan. Sekolah ini seharusnya sudah dekat dengan Aloon-Aloon karena aku ingat saat berjalan dengan ibu, saya pergi meninggalkan ibumenuju Aloon-Aloon untuk melihatWatertoren dengan bangganya. Yang bagi saya Watertoren ini sebagai lambang kota Magelang.
Sekolah saya ada di Tweede Europeesche Lagere School, lokasinya ada di Groote Weg dekat dengan Kampung Gelangan. Di sekolah, saya punya dua orang teman Indo, namanya Oetie Willems dan Okke Johansen.  Aku juga punya seorang teman Cina-Belanda bernama Rudie Yap. Di lingkungan, kawanan kami kebanyakan adalah teman-teman Indo, aku ingat ada yang namanya Hans Vorstman, Henk Kalama, Winnie Scholten, dan Joep Theunissen. Kami biasanya satu kelompok berjumlah delapan anak laki-laki, tetapi aku sudah tidak begitu ingat dengan  nama-nama kawanku yang lain.
Postkantoor di timur Aloon-Aloon
Sumber:

Tentang Akhir Cerita di Kotaku

Kebahagiaan kami berakhir hampir satu tahun setelah ayah saya diambil sebagai tawanan-perang/internir oleh tentara Jepang. Alasannya adalah meskipun ibuku berasal dari Indonesia, tetapi dia terdaftar dengan nama keluarga Belanda tirinya. Jepang kemudianmenganggap kita berkebangsaan Belanda. Seorang teman dari Indonesia yang telah bekerja dengan ayah saya menyarankan ibuku bahwa Jepang akan segera datang dalam beberapa hari,baik untuk menjemput kami atau memesan kita untuk menampilkan diri. Ini mungkin berarti kami akan dibawa ke kamp-kamp di Ambarawa.
Ibu saya dengan bantuan pembantu kami mampu menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan saat itu. Pembantu kamiyang menemani kami ke kampung di sekitar daerah itu yang disebut dengan Patèndjoerang (?). Pembantu inilah yang tinggal di Kampung Doekoeh (mereka bekerja di garnisun dengan ayah saya), jika sesuatu yang diketahui tentang keberadaan ayahku (kita tidak tahu jika ia dikirim ke Thailand). Kami tinggal di kampung sampai dengan bulan Agustus 1945.
 Ibuku membuat pakaian untuk membantu orang yang sakit karena pengalamannya sebagai mantan kepalaperawat rumah sakit. Di bulan Agustus 1945 keluarga Indonesia datang untuk menjemput kami dan membawa kita ke rumah mereka diKampungDoekoeh karena mereka takut untuk kita karena awalBersiap. Kami tinggal bersama mereka sampaimenunggu ayahku pulang dengan selamat, datang untuk membawa kita kepada RAPWI Satu.
 
Aku sekarang ini di tahun 2013
Sumber:

Kemudian, kami pergi ke Semarang dari waktu di mana saya juga memiliki kenangan emas. Kenangan dari Magelang dan Semarang, telah membantu saya selama bertahun-tahun tinggal di Holland. Kami tidak memiliki awal yang sulit, terutama karena fakta bahwa kita tidak disambut, menjadi orang Indo. Ibu saya dan saya sudah sangat dekat dan keduanya tidak bisa melupakan apa yang kita sebut 'kami mimpi Pulau Jawa'. Kami berdua dihargai kenangan hijau dan emas sawah, kerucut biru Sumbing, Gunung Merapi, dan Merbabu, untuk membantu kita menyesuaikan dengan iklim basah dan dinginnya Holland.

Aku pergi ke Spanyol pada tahun 1963, ke kota Barcelona. Saya menikah dengan seorang gadis Spanyol. Kami memiliki seorang putra dan dua putri, semuanya sudah menikah. Mereka memberi kami enam cucu. Pada tahun 1989 saat ulang tahun pernikahan kami yang ke 25 tahun, istri saya, 3 orang anak-anakku, dan aku pergi ke Indonesia.

Aku ingin anak-anak kami harus tahu tentang asalku, mimpi saya adalah Pulau Jawa, Magelang adalah tempat lahirku, Semarang adalah kota dimana saya tinggal dari 1948 hingga keberangkatan ke Belanda pada tahun 1950. Dan juga sekarang mereka memiliki Indonesia yang manis dan merasa bangga telah menjadi  bagian darahku.

Saya sudah kembali ke Indonesia sebanyak lima kali, berharap bahwa Allahdan kesehatanku, akan memungkinkan saya untuk melakukan itu lagi.

Saya bangga denganibu saya karena darahnya berjalan melalui pembuluh darahku dan tidak akan pernah akan aku lupakan.Olehkarena itu, saya akan selalu membawa dalam hatiku Kota Magelang.

                                                                       
            BARCELONA, 31 MEI 2013.

Sumber
-       Wetenswaardigheden van Magelang, H.J. Sjouke 1935
-       Yusuf Kusuma, 1969.
-       KITLV.
-       Tropen Museum.


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...