Monday, November 13, 2017

Hal Apa Saja yang Kamu Lakukan Saat Senggang?






Di kampung di mana saya berasal, menjadi seorang pegawai kantoran dianggap sudah sangat mulia dan berderajat tinggi. Meski sebenarnya saya di perantauan juga hanya karyawan rendahan di sebuah kantor instansi pemerintah. Namun pada dasarnya, apa yang telah saya tempuh sejauh ini, bagi saya merupakan capaian yang besar. Yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Lulus STM, bekerja serabutan, diterima CPNS, menikah, membeli motuba, mengkontrak rumah dan memiliki anak. Semua terlihat perfek. Perfek utangnya.

Dahulu, sebelum kehidupan saya serepot sekarang ini, saya termasuk orang yang aktif. Apalagi saat saya masih berkutat dengan pekerjaan sebagai teknisi fingerprint, merangkap tukang kurir obat dan alkes, dan masih merangkap lagi sebagi instruktur robotik. 
Juara 1 Nasional Robotik 2011
  
Pergi pagi pulang pagi, bahkan nggak pulang-pulang pun sering saya jalani. Bagi saya, bekerja dengan tulus dan sungguh-sungguh memang benar, adalah jalan kebahagiaan yang sesungguhnya. Dengan catatan, pekerjaan yang kita jalani sesuai passion kita. Memang, passion saya saat itu sebagai kurir obat.
Traveling di sela-sela kurir obat, Purbalingga 2012

Di sela kesibukan yang super sibuk tersebut, saya masih suka mencari-cari waktu senggang. Contohnya jika pekerjaan luar kota telah usai dan waktu masih ada, jangan buru – buru pulang kantor. Tapi mumpung waktu senggang, dolan dulu jadi nanti kalau pulang kantor tinggal nunyuk fingerprint, langsung deh pulang.

Nah, kata siapa karena kerjaan yang seabrek kita jadi nggak bisa menyalurkan hobi? Saya bisa, kok.


Traveling
#Secangkirsemangat Jepara 2017
Entah sejak kapan saya suka jalan-jalan. Kalau tidak salah sejak saya pertama kali punya motor sendiri. Pada tahun-tahun awal memiliki Sri – nama motor saya, dia langsung saya tunggangi keliling kota. Ohya, saat itu saya tinggal di Magelang dan Sri saya ajak jalan – jalan ke Banjarnegara, ke Semarang, bolak balik ke Salatiga dan hingga akhirnya berhasil keliling Jawa Tengah. Jalan-jalan tersebut biasanya hanya bisa saya lakukan di akhir pekan saja. Maklum, di hari kerja, saya hampir sangat jarang bisa mengajukan cuti. Nah, sepulang liburan biasanya badan terasa capek dan pasti ngantuk. Untuk itu, pada hari kerja kantor berikutnya, saya harus senantiasa menjaga kebugaran jiwa dan raga salah satunya dengan minum kopi. 

Sejauh ini, saya hampir pasti selalu menyiapkan Kopi Kapal Api, ada yang kopi hitam, dan varian lain yang saya suka yaitu Grande White Coffee with Choco Topping. #Secangkirsemangat kopi krimer dengan taburan gula kelapa dan cokelat rasanya sungguh membuat pekerjaan serasa ringan, apalagi jika tidak dikerjakan.
 
Blogging
Sejak 2009, saya aktif menulis di blog. Pada awalnya saya menulis blog hanya sebatas sebagai pengganti buku harian. Terus terang saja, mungkin saya satu diantara sedikit pemuda yang susah move on dan ketergantungan curhat pada buku harian. Semenjak internet merangsek ke dalam hidup saya, saya mulai mengenal blog dan mulai menulis cerita cerita keseharian di blog. Lambat laun, keahlian tulis menulis saya semakin terasah dan tema blog saya juga berubah dari menye-menye menjadi bertema petualangan yang kadang masih berbumbu cerita menye-menye. Salah satu prestasi besar blog saya adalah menjadi salah satu blog pendukung komunitas yang saya ikuti, Kota Toea Magelang. Dari blog dan komunitas tersebut, saya bahkan bisa berjalan-jalan gratis ke Pantura beberapa waktu lalu, untuk melihat dangdut pantura, eh bukan, maksudnya untuk menjadi duta wisata barang sesaat bersama Dinas Pariwisata Propinsi Jawa Tengah.
Selain itu, saya juga sempat mengisi artikel sejarah dan perbioskopan di salah satu harian nasional pada tahun 2013. Nah, salah satu rahasia mencari inspirasi menulis ala saya adalah dengan adanya secangkir Kopi Kapal Api sebagai teman ngeblog. Inspirasi pun mengalir deras layaknya air terjun Niagara.

Musik
Boleh dibilang, saya punya bakat terpendam dalam dunia musik. Dari kecil, saya diperkenalkan Bapak dengan alat musik harmonika, selanjutnya saya mulai belajar memencet-mencet tuts kibord mainan dari Bapak. Waktu berganti tahun berlalu, saya ternyata memilih untuk mendalami permainan gitar berbekal gitar pemberian bapak sewaktu saya SMP. Dari gitar tersebut, grup band saya jaman SMP bernama the terrible band, pernah mengikuti festival band se Jateng dan menjadi satu-satunya band yang eksis dan digandrungi oleh cewek-cewek SMP hingga kami lulus.

Hingga hari ini, saya masih senang bermusik untuk mengisi waktu. Dengan sebuah gitar bolong dan kibord second yang saya beli beberapa tahun yang lalu, beberapa lagu bertema cinta dan sosial berhasil saya buat. Salah satu yang meledak di pasaran berjudul tabung elpiji. Saat ini, bersama band saya yang saya bentuk tahun 2010, masih sesekali kami ngejam bareng. Sudah agak jarang sih, karena dua personil kami sudah berkeluarga salah satunya saya. Dan juga dua personil kami menjadi perantau, salah satunya saya juga. Grup band kami, obscure adalah band yang kami bentuk karena kesamaan karakter kami. Karakter yang ingin memainkan musik keras namun lembut sebagaimana musik rock, tapi sesekali masih ingin bermain musik-musik slow seperti lagu-lagu Malaysia.

Biasanya, jika kami sama-sama memiliki waktu senggang, malam minggu biasa kami habiskan untuk genjrang-genjreng sebagaimana pemuda kampung lainnya. Tetapi bedanya, setelah itu kami langsung masuk studio dan rekaman. Di rekam menggunakan hape. Di dalam studio, kami biasa latihan secara fleksibel. Tidak kaku. Ada kalanya saya memegang gitar, ada kalanya gantian saya yang ngedrum, kalau pengen lagu selow, saya main kibord dan kalau nggak ada kerjaan saya motret motret aja. Dan lain sebagainya. Terimakasih!
Obscure di salah satu sesi latihan

Salah satu kunci kekompakan kami dalam bermusik, salah satunya dipengaruhi oleh kegemaran kami yang sama-sama suka ngopi. Beragam kopi warungan sudah kami coba tetapi hanya satu yang jelas lebih enak, itulah Kopi Kapal Api yang senantiasa menemani kami meraih kesuksesan dalam bermusik hingga sekarang ini – yang juga masih belum bisa dikatakan sukses sepenuhnya.
Seru kan jika waktu senggang kita bisa digunakan untuk hal-hal positif seperti saya? Apalagi jika ditemani Kopi #KapalApiPunyaCerita. Takaran antara racikan kopi arabika dan robusta yang pas, dijamin membuat suasana ngopi kalian jadi tambah hangat. Selain itu, juga tidak usah bingung jika sesekali bosan dengan kopi yang itu-itu saja karena varian Kopi Kapal Api amatlah banyak jadi tinggal pilih deh yang kalian suka. Kalau waktu senggang kalian, biasa kalian gunakan untuk apa, gaes?

Ceritain yuk sambil ngopi Kapal Api..

https://waktunyakapalapi.com/kapalapipunyacerita-blog-competition/


Read More..

Tuesday, October 31, 2017

Mencecap Nikmatnya Kopi Kelir



Sumber : minumkopi.com
Hari masih pagi, saat saya dan beberapa teman menyengajakan diri bermain ke kampung penghasil kopi, di sekitar Bukit Kelir, Jambu Kabupaten Semarang beberapa waktu lalu. Kebetulan cuaca tidak begitu terik, cenderung gerimis. Kami merangsek memasuki salah satu kampung dan bertemu dengan seorang petani kopi bernama Hari. Dengan ramah, ia menyambut kami dan mempersilakan kami masuk ke rumahnya.

**
Jalan Raya Ambarawa-Magelang memiliki medan yang berbukit dan berkelok-kelok. Dengan lebar yang hanya dua lajur, jalur ini kerap mengalami macet panjang saat ada iring-iringan truk bermuatan yang sulit didahului oleh kendaraan di belakangnya. Butuh konsentrasi dan kesabaran ekstra untuk menyetir di daerah ini.

Jika pengendara melewati daerah Bedono hingga Jambu, maka pemandangan indah perbukitan dan rel bergerigi di kanan jalan dan jurang-jurang terjal di kiri jalan akan menjadi santapan sepanjang perjalanan. Bagi pengendara yang santai, tentu hal ini tidak terlalu menjadi masalah. Nah, pernahkan anda perhatikan kawasan tersebut? Banyak rumah makan, iya, banyak penjual nangka, iya. Dan mungkin yang belum begitu banyak tahu, disana ada sentra kopi bernama Kampoeng Kopi Sirap.

Pemerintah Kabupaten Semarang sebagai pemangku wilayah, beberapa waktu belakangan telah mulai sukses mengangkat potensi tersebut. Apalagi, kopi dari daerah tersebut terkenal memiliki citarasa yang unik yang diminati oleh para penikmat kopi, bahkan hingga menembus pasar internasional.

**
Hari, siang itu tidak terlalu sibuk. Kebetulan diluar rumah juga sedang hujan. Rumahnya berada di kaki Bukit Kelir yang berdasarkan salah satu sumber yang saya ketahui, adalah salah satu penghasil kopi sejak jaman kolonial.
Hari, (tengah)

Beberapa waktu belakangan, ia bersama masyarakat setempat tengah menggeluti bisnis kopi. Jika sebelumnya, komoditi kopi di tempat tinggalnya hanya dipanen sebagai konsumsi rumahan dan skala industri kecil – rumah tangga, maka sudah lebih dari dua tahun terakhir ia mengaku lebih fokus terhadap pekerjaan tersebut.

Kini, pemuda-pemuda di kampungnya memilih menggantungkan hidup dari manisnya biji kopi. Tahapan demi tahapan pengolahan kopi dilakukan dengan baik demi menjaga kualitas. Terbentuknya kelompok-kelompok petani kopi, menjadikan warga kian semangat untuk menggenjot produksi, bukan karena apa – apa, tetapi ternyata permintaan pasar saat ini memang sudah besar. Salah satu standar pasar ekspor saat ini adalah bentuk biji kopi ose dengan kandungan air kurang dari 13 %. Nikmatnya kopi kelir telah terbang hingga Eropa, Timur Tengah dan negara - negara Asia lainnya.

Perbincangan kami dengan Hari, tidak lengkap rasanya jika belum mencicipi kopi itu sendiri. Maka dengan sigap, Hari telah memasak air dan menghidangkan kopi produksinya dihadapan kami. Lengkap dengan kudapan ala ‘ndeso’ yang menggugah selera di sela dinginnya angin pegunungan.
Nikmatnya Kopi dan Ampyang
“Rasa kopinya unik, terasa bercampur dengan cokelat atau moka” ucap Ryan, salah satu teman saya dalam dolan kali ini. Ia sendiri merupakan ‘ahli’ kopi yang hingga kini sibuk mengurus bisnis KopiPanggilnya di Magelang sana.

Hari pun mengamini pendapat Ryan. Memang karena faktor geografis yang unik, kopi yang dihasilkan di daerah Kelir ini memiliki citarasa seakan-akan ada aroma dan rasa cokelat. Maka tidak heran, di pasar internasional, kopi Kelir sering diistilahkan dengan Java Mocha.

Indonesia, saat ini menjadi eksportir kopi nomer empat di dunia, setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Komoditi yang bisa di’jual’ sebagai ikon daerah setempat ini juga telah mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Semarang dengan mengikutsertakannya pada pameran-pameran produk unggulan di tingkat nasional. Selain itu, unsur kearifan lokal untuk mempopulerkan nama kopi kelir juga telah diangkat dengan kegiatan seperti panen raya kopi di Dusun Gertas, Brongkol Jambu yang pada kesempatan beberapa waktu lalu turut hadir Bupati Semarang, Mundjirin.

“Kami minta petani benar-benar menjaga mutu kopi kelir yang tergolong super ini. Jadi jika belum matang benar jangan dipetik,” Ujar Bupati usai secara simbolis memulai panen raya pada kegiatan tersebut.

*
Nah, bagi anda yang tertarik untuk mencicipi nikmatnya Kopi Kelir, anda dapat sesekali rehat sejenak jika dalam perjalanan dari Semarang menuju ke Magelang atau sebaliknya. Salah satu tempat yang mudah ditemui adalah Rumah Makan Jambu Alas di daerah Kelurahan, Jambu. Selain itu, di Dusun Sirap sendiri juga telah ada kedai kopi yang berada dekat dengan kios-kios penjual nangka. Jika memiliki waktu lebih senggang, Kampung Kopi Sirap kini juga tengah bergeliat dengan mengusung tempat wisata kopi. Untuk masalah harga, jangan takut karena nikmatnya kopi kelir bisa anda cecap dengan harga mulai dari lima ribu rupiah saja secangkir. Tertarik?




Read More..

Wednesday, October 25, 2017

Temukan Obatmu di Taman Djamoe Indonesia



Memiliki anak kecil, terkadang menjadi hambatan dalam sebuah keluarga untuk piknik. Kerepotan yang mungkin terbayangkan, membawa peralatan susu, membawa ganti baju dan diapers, dan lain sebagainya. Padahal saya dan istri sebagai orang tuanya, yang masih suka gaya hidup anak muda, masih belum bisa sedewasa itu – untuk tidak berpiknik.

Solusinya, piknik yang dekat-dekat saja. Dan yang edukatif sehingga anak kecil kita bisa belajar dari perjalanan yang kita lakukan.

**
“Piknik yang enak kemana, ya? Yang adem-adem aja”
Tanya istri saya beberapa waktu silam tatkala kami sedang sibuk masak di dapur. Kebetulan saat itu hari libur.
“Nggak banyak pilihan sih, kalau mau ke lereng Gunung, semacam Bandungan tentu kejauhan kasihan kita punya anak kecil” timpal saya.
“Hutan wisata Penggaron rekomended nggak ya?”
“Udah pernah kesana, tempatnya sepi. Kurang pas bawa anak kecil” Jawab saya. “Gimana kalau ke Taman Djamoe Indonesia?” sambung saya kemudian.
 
**
Jam sepuluh pagi, yang sebenarnya sudah menjelang siang, tetapi awan tampaknya sengaja menutup sinar matahari sehingga suasana masih terbilang teduh. Corolla tua kami membelok terparkir seorang diri di depan Taman Djamoe Indonesia, Bergas. Saya lihat suasananya sepi saja seperti dugaan kami. Memang, tempat ini biasanya ramai jika ada kunjungan dari sekolah sekolah atau instansi yang ingin mengerti tentang seluk beluk perjamuan dan tanaman obat. Padahal, sebagai masyarakat biasa nan awam seperti kami pun sebenarnya sangat layak untuk mengunjungi tempat ini.

Sapuan pandangan saya sekeliling, tampak para pegawai tengah bersiap-siap untuk menyambut kami, yang ternyata adalah tamu pertama pada hari itu.

“Silakan pak. Tiketnya sebelah sini” Sambut mbak-mbak penjaga loket masuk. “Jangan lupa isi buku tamu, ya pak”

Di hari biasa, kami harus merogoh kocek murah saja, hanya Rp. 7,500 per kepala. Sementara di hari libur tinggal tambah saja Rp. 2,500,-.

Museum dan Taman Jamu ini terletak tidak jauh dari Pasar Karangjati ke arah Bawen. Tepatnya di Jalan Soekarno Hatta Km 28, Bergas Kidul Kabupaten Semarang, seberang SMAN 1 Bergas. Jika dari Bawen, maka lokasi ini berada di kanan jalan setelah Pabrik Jamu Sido Muncul.
 
Adalah PT. Nyonya Meneer yang merupakan maestro perjamuan di Indonesia kala itu, membangun tempat ini. Selain sebagai tempat menampung koleksi pribadi Ibu Nyonya Meneer, di dalam ruangan museumnya juga memajang aneka pernak pernik peralatan jamu dari jaman dulu. Bahkan di dalam display display lemari di sana juga bisa dijumpai aneka contoh bahan jamu yang merupakan tanaman-tanaman obat yang telah dikeringkan.
 
Puas membaca riwayat dan melihat-lihat koleksi sang legenda, kami pun beranjak ke halaman belakang. Halaman belakang ini boleh dibilang adalah menu utama dari tempat wisata ini. Hamparan luas rumput hijau dengan ratusan jenis tanaman obat yang siap menyambut kami.

Di areal seluas kurang lebih 3 hektar tersebut, dilengkapi jalan beraspal untuk berkeliling. Sejauh mata memandang dan disekeliling kami hanya ada tanaman – tanaman obat. Namanya pun unik unik. Jangan takut bingung, sebab di masing-masing tanamannya ada namanya dan juga khasiatnya.

Beberapa contoh yang unik adalah tanaman soka yang menurut papan informasi khasiatnya adalah untuk menyembuhkan luka baru. Contohnya jika habis putus cinta, maka luka yang baru terasa itu akan mudah sembuh dengan memakan tanaman ini.
 
Kemudian adalah tanaman prasman yang menurut gambaran saya, adalah sebagai obat busung lapar. Lho kok bisa? Ya bisa karena tanaman ini bisa dimasak sayur kemudian disajikan secara prasmanan untuk makan. Laparnya sembuh, kan? Hehehe..

Dan satu lagi contoh yang tidak kalah unik adalah tanaman pacar tembok. Bisa jadi, ini merupakan obat yang manjur bagi jomblo akut. Kalau mentog tidak punya pacar, pacarin aja tembok rumah gebetannya.

**
Siang itu, anak kami Dayu yang baru beberapa minggu bisa berjalan tampak sangat sumringah dan senang bisa berjalan jalan diantara hijaunya tetanaman. Setiap kali melihat bunga, ia langsung memetiknya. Ia juga tertarik dengan beberapa patung kera yang ada di depan tempat spa. Siang itu, tempat spa ini tutup sehingga kami yang tidak niat untuk mencoba, menjadi semakin tidak niat.
 
Lebih ke belakang lagi, area taman jamu ini juga dilengkapi dengan ruang kaca yang di sana bisa kami temui beberapa spesies tanaman unik dan memerlukan perawatan khusus, namun tetap memiliki khasiat penting. Selanjutnya, juga ada sebuah menara gardu pandang yang dari atas, kami bisa melihat panorama indah sekeliling. Karena berada di dekat Gunung Ungaran, maka suasana di sini sangat sejuk, tenang dan damai.
 
Selain itu, disediakan pula beberapa gasebo yang bisa kita gunakan untuk beristirahat sembari menikmati bekal, bagi yang membawa bekal.

Puas berkeliling di taman, kami kemudian kembali ke depan dengan harapan bisa mencoba Es Krim Jamu. Namun sayang, siang itu es krim jamu sedang kosong. Hanya ada beberapa botol jamu di dalam show case. Sebagai tombo gelo, akhirnya kami membeli beberapa potong healthy yoghurt. Yang merupakan yoghurt buah-buahan yang diolah sedemikian rupa dengan tambahan jamu-jamuan sehingga siapapun yang mengkonsumsinya, dipastikan akan semakin sehat.
 
Nah, menurut berita, seiring dengan pailitnya perusahaan PT Nyonya Meneer, maka Taman Djamoe Indonesia (TDI) yang merupakan salah satu asetnya, kini dibeli oleh PT Sido Muncul yang kebetulan memiliki pabrik tidak jauh dari TDI.

Meskipun Nyonya Meneer sudah pailit, jasa-jasanya dalam industri jamu nasional tidak boleh kita lupakan begitu saja. Dan sebagai salah satu produk lokal, sudah selayaknya kita nguri-uri budaya minum jamu dan mengolah sendiri obat kita dari tanaman di sekitar kita. Yuk, temukan obatmu di Taman Djamoe Indonesia!

*Tips : Datanglah pagi hari atau sore hari, jangan lupa membawa lotion anti nyamuk.




Read More..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...