Friday, September 11, 2015

Menguak Masa Lalu Ungaran

Peta Ungaran 1922 (kitlv.nl)

Berbicara tentang masa lalu Ungaran, memang sulit sekali untuk mencari referensi. Bahkan hingga di era seperti ini, saya yang berusaha mengulik informasi dari internet-pun merasa sangat kesulitan. Tulisan ini adalah tulisan kedua saya tentang Ungaran tempo dulu. Pada postingan yang saya buat 2011 lalu, belum banyak informasi valid yang bisa saya tuliskan, sehingga pada tulisan kali ini saya akan mengupas beberapa kisah menarik tentang masa lalu Ungaran.

Fort de Ontmoeting
Denah Fort de Ontmoeting (kitlv.nl)
Benteng ini sempat terbengkalai selama beberapa tahun. Tahun 2011 lalu saya berhasil memotretnya dan tidak lama kemudian benteng ini direnovasi dan sekarang menjadi sangat cantik. Sebagai salah satu ikon Kota Ungaran, benteng ini saat ini dimiliki oleh Kepolisian dan dijadikan sebagai Balai Pertemuan Polisi dan Masyarakat. Sempat terdengar ada kabar bahwa benteng akan dikembangkan menjadi museum dan hingga hari ini belum terdengar perkembangannya.

Alkisah pada 1746, Keraton Solo dipindah dari Kartasura ke Surakarta. Pada saat itu untuk memperlancar jalur militer antara Semarang – Surakarta maka dibangunlah beberapa pos militer Belanda. Selain di Boyolali dan Salatiga, maka di Ungaran pada 1786 dibangun sebuah benteng dengan nama Fort de Ontmoeting. Benteng ini dibangun untuk memperingati pertemuan antara Gubernur Jenderal van Imhoff dengan Pakubuwono II yang diadakan di Ungaran.
Benteng Oengaran 1933 - Tropenmuseum
Benteng Ungaran 2015

Benteng yang selanjutnya populer dengan nama Benteng Oengaran/Willem II ini turut mewarnai perkembangan sejarah sosial politik di Jawa. Pada 1811, benteng ini merupakan pertahanan terakhir tentara Belanda sebelum akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Inggris di Tuntang. Peristiwa itu disebut dengan Kapitulasi Tuntang dimana salah satunya berisi bahwa Belanda menyerahkan kekuasaan atas Nusantara ke tangan Inggris. Pada era Perang Jawa (Java Oorlog 1825-1830) benteng ini merupakan tempat penahanan Diponegoro setelah ditangkap dengan licik oleh Belanda di Magelang. Sang Pangeran diinapkan selama tiga hari baru kemudian diasingkan ke Makassar.

Pada era setelah kemerdekaan, Benteng ini digunakan juga sebagai asrama polisi hingga kemudian ditinggal dan tidak terawat. Beruntung pada sekitar Tahun 2012 lalu, pemerintah menggelontorkan uang untuk revitalisasi benteng. Benteng ini sekarang bisa menjadi jujugan wisata sejarah yang edukatif.

Kweekschool

Cerita berawal dari Tahun 2011 dimana sebuah bangunan yang sangat saya sukai terlihat terbengkelai. Bangunan itu biasa disebut orang dengan PHB. Lokasinya ada di Jl. Diponegoro depan SMA 1 Ungaran. Waktu itu, salah satu gedung dalam kompleks PHB ini digunakan oleh Pabrik Sidomuncul sebagai salah satu kantor. Tetapi, sekitar 1-2 tahun kemudian, PHB dan kompleksnya ini justru ditutup dengan pagar seng. Beberapa teman saya dikantor menjelaskan bahwa PHB tersebut dulunya merupakan asrama TNI. Dan sebelumnya lagi, digunakan oleh satuan Perhubungan (PHB) dan juga Satuan Musik Militer Kodam IV Diponegoro. Saya sendiri malah baru mudeng jika PHB berasal dari singkatan Perhubungan. Semenjak tahun 2007, para penghuni asrama tersebut dipindahkan ke asrama TNI di Watugong, Semarang. Sehingga bangunan tersebut terpaksa mangkrak.

                               

Bagian bangunan mulai rapuh, rusak ditelan waktu. Rumput-rumput mulai menjulur membuat bangunan pelan-pelan mulai hancur. Beruntung, tahun 2011 lalu saya sudah berhasil mengabadikan fotonya. Terhitung sejak tahun 2012-2013, gedung kantor Sidomuncul tersebut berhenti beroperasi dan keseluruhan kompleks ditutup dengan pagar seng! Sementara bangunan inti PHB mulai ditanami dengan pohon sengon. Nah, menurut informasi yang berkembang, lokasi tersebut telah diincar oleh investor yang akan membangun pusat ekonomi, ruko atau mall. Tetapi rencana investor tersebut terganjal oleh status Benda Cagar Budaya (BCB). Pemerintah Kabupaten Semarang sendiri tampaknya juga kesulitan mengurus  BCB tersebut karena status kepemilikan yang masih mengambang antara TNI atau Pemerintah.


Disatu sisi, terlihat upaya pembiaran baik oleh unsur TNI atau Pemerintah sebagai penguasa wilayah untuk membiarkan bangunan tersebut pelan-pelan rusak. Sehingga jika sudah rusak, maka penghapusan status BCB tersebut akan mudah lolos sehingga rencana investor membangun kawasan tersebut menjadi mudah.

Dua minggu yang lalu saya mampir ke PHB karena kebetulan bangunan tersebut terlihat bersih, dan pagar sengnya dibuka. Ternyata gedung tersebut kini digunakan sebagai pool Bus Rapid Trans (BRT). Saya kemudian disambut oleh dua orang penanggunjawab disana. Begitu memarkir motor dan masuk, ruangan utama nya sudah sangat rusak. Kerusakan yang ada dibagian plafon mencapai 90 persen. Sementara bangunan sayap pendukung di kiri-kanan, sudah dihancurkan. Di ruangan utama tersebut, salah seorang bapak tadi bercerita bahwa sudah sekitar satu bulan ini bangunan ditempati. Mengenai status kepemilikan tanah, justru jatuh ke perorangan dengan bukti Sertifikat Hak Milik (SHM). Pool BRT sendiri hanya mengantongi ijin pemakaian bangunan dari Bupati dan diketahui oleh pihak TNI.
                               


Dari berbagai sumber yang pernah saya gali, selalu saja menghasilkan jawaban bahwa bangunan PHB dahulu digunakan untuk asrama TNI, Kantor Satuan Perhubungan, dan Kantor Satuan Musik Militer. Selebihnya, belum ada yang tahu.
 
Bangunan yang selama ini dikenal dengan PHB tersebut menurut peta Tahun 1922, merupakan bangunan sekolah bernama Kweekschool. Melihat dari sisi penanggalan, sesuai dengan tulisan pada salah satu sisi bangunan, sekolah ini mulai beroperasi tahun 1910. Kweekschool berarti sekolah calon guru. Masih menurut peta tersebut, bangunan ini sebenarnya memiliki sayap kanan-kiri yang digunakan sebagai ruang kelas. Sebagaimana sekolah-sekolah di Indonesia pada masa kolonial, arsitekturnya mengadopsi arsitektur indisch dengan model simetris dan langgam eropa yang kuat. Pintu berada ditengah, dan ruang utama adalah sebagai kantor kepala sekolah.


Jika melihat keberadaan dua bangunan pendukung yang ada disekitaran kompleks, dapat diduga bahwa bangunan tersebut merupakan rumah tinggal bagi sang kepala sekolah. Sayangnya, saya belum berhasil menemukan foto lama dari bangunan tersebut. Tetapi, saya berhasil mengkomparasi foto lama dengan keterangan “de 1 klas van de Kweekschool te Oengaran” dengan bangunan yang kini berada tepat di depan SMA 1 Ungaran. Tidak jauh dari bangunan inti. 
de 1e Klas van de kweekschool en een echtpaar te Oengaran 1900an (Kitlv.nl)
Bekas kweekschool depan SMA 1 Ungaran
Dugaan sementara saya, bahwa kompleks Kweekschool ini memanjang mulai dari sebelah SPBU Diponegoro hingga sebelah Gereja Kristus Raja Ungaran. Sayangnya bangunan ini sekarang mangkrak dan tidak terawat sama sekali.

Bosopzichtersschool (B.O.S)
Bangunan ini sangat ikonik dan mewakili salah satu Bangunan Cagar Budaya yang terpelihara. Bangunan yang kini ditempati oleh SMP Negeri 1 Ungaran tersebut ternyata memiliki masa lalu yang sama-sama sebagai sekolah. Bosopzichterschool jika diartikan secara harfiah  berarti Bos : hutan, Opzichter : Pengawas. Sehingga sekolah ini adalah sekolah Calon Pengawas Kehutanan.  Sayangnya saya belum mendapat bukti yang valid tentang kapan dibangunnnya B.O.S ini. Tetapi jika menilai bentuknya, perkiraan saya tidak jauh dari akhir 1800 hingga awal 1900an. Menurut gambar pada peta tahun 1922,  B.O.S ini merupakan kompleks dari empat bangunan. Uraiannya adalah bangunan utama menghadap jalan raya, bangunan samping sayap kiri-kanan dan bangunan belakang. Bangunan ini menjadi salah satu BCB di Ungaran yang hingga kini fasadnya masih terlihat asli. Tidak banyak informasi yang bisa saya jadikan referensi tentang bangunan ini. Bahkan, saya kira banyak orang Ungaran yang tidak mengetahuinya. Namun, saya memiliki pandangan jika Ungaran saat itu (sekitar awal 1900) merupakan kota bagi daerah perkebunan disekitarnya. Tengoklah perkebunan karet di Ngobo atau Jatirunggo, belum lagi perkebunan Pala di Bandarredja (Bandarjo), juga perkebunan lain di daerah Kalisidi. Sekolah ini pada masanya, saya duga adalah untuk membentuk  calon-calon pengawas kehutanan (mungkin sekarang semacam polisi hutan) yang akan ditugaskan untuk mengawasi perkebunan-perkebunan di sekitar Ungaran. Masuk akal, kan? 
B.O.S Oengaran (Kitlv.nl)

  

Rumah-rumah sekitar B.O.S

Jika berjalan di sepanjang Jl. Diponegoro sekitar SMP dan SMA 1 Ungaran, maka akan tercecer banyak sekali rumah berarsitektur indisch. Bangunan rumah tinggal bercat putih dan biru disebelah utara SMP 1 Ungaran tersebut ternyata masih berkaitan dengan B.O.S. Melihat foto dari koleksi KITLV dibawah ini tercatat jelas bahwa bangunan tersebut merupakan bangunan rumah tinggal bagi Direktur Sekolah Calon Pengawas Hutan. Kedua rumah tersebut kondisi saat ini masih baik, namun pada rumah bercat putih sudah dipugar sebagian dengan menambah bangunan pendukung yang terlihat kurang selaras.
Woning van de directeur van de B.O.S (kitlv.nl)
 
Adapun bangunan bercat biru masih mempertahankan keasliannya. Hanya saja, pada bagian bangunan pendukung (pavilion) sudah dirubah atau ditambah (?) dengan bangunan baru dengan nuansa modern. Tidak cukup sampai situ, masih ada beberapa bangunan lain yang masih terlihat bagus disepanjang jalan hingga SMA 1 Ungaran. 

Sedangkan bangunan yang ada di lokasi SMA 1 Ungaran, menurut peta merupakan bangunan besar memanjang menghadap ke jalan. Sayang sekali, saya tidak tahu persis ada bangunan apa sebelum didirikan SMA 1 Ungaran tersebut. Tetapi, ada salah satu foto yang mungkin bisa diduga sebagai jawaban. Foto dibawah ini memiliki keterangan Opleidingschool Voor Inlandsche Ambtenaar – OSVIA (Sekolah Pamongpraja Untuk Pribumi). Sekali lagi, pada sepanjang Jl. Diponegoro ini menurut peta merupakan pusat dari keramaian kota Ungaran dan disebut dengan wilayah Poetatan. Sehingga bukan tidak mungkin, sekolah OSVIA tersebut memang berada di sekitar SMA 1 Ungaran. 
Opleidingschool van indlansche ambtenaar Oengaran (kitlv.nl)

Gedong Kuning

Satu lagi bangunan artistik dan besejarah di Ungaran yang membuat banyak orang penasaran adalah Gedong Kuning. Bangunan ini terletak di ruas Jl. Gatot Subroto tepatnya didepan asrama TNI Kebonpolo. Jika melihat papan informasi, maka bangunan tersebut adalah aset PT KAI. Tetapi apa hubungan KAI dengan Ungaran? Bukannya Ungaran tidak dilalui kereta api?



Hal aneh lain adalah penghuni rumah bercat kuning tersebut adalah para pensiunan tentara. Mungkin ini berkaitan dengan pembangunan asrama militer di Kebonpolo. Pada catatan saya terdahulu, rumah ini diperkirakan merupakan rumah pejabat elit kolonial. Adanya relief kepala singa dibeberapa sisinya memperlihatkan bahwa rumah ini sangat bergengsi pada masanya. Selain itu, juga dilengkapi beberapa balkon yang menghadap langsung ke panorama sekitarnya.

Saat ini kondisi rumah ini sangat memprihatinkan. Pada bagian mahkota bahkan hampir rubuh. Pada bagian lantai II, sudah lama sekali tidak ditinggali karena lapuk. Tetapi untuk lantai I, masih ada beberapa keluarga yang meninggali. Bau kotoran kelelawar menyeruak diseluruh ruangan. Menurut informasi yang saya gali, bangunan ini terjadi sengketa kepemilikan antara pihak KAI dan TNI sehingga upaya pelestariannya selalu terganjal. Padahal bangunan ini selain memiliki nilai artistik yang tinggi juga sempat digunakan sebagai markas pejuang kemerdekaan.

Saya sendiri hingga hari ini belum mendapat bukti sejarah yang jelas tentang rumah ini. Bahkan foto lawas pun saya belum berhasil menemukan. Tetapi, sedikit yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan kemungkinan adalah ; pertama rumah ini adalah rumah tinggal untuk pejabat yang berdinas di Kota Semarang. Ungaran sebagai kota yang sejuk membuat penghuninya merasa nyaman dan damai. Sehingga dibangunlah sebuah villa disitu. Yang kedua, adalah kemungkinan rumah ini berhubungan dengan Kebonpolo (Kebun Pala). Bisa jadi, rumah itu sengaja dibangun untuk kepala kantor untuk mengawasi para pekerja perkebunan. Nah, balkon sengaja dibuat salah satunya menghadap ke arah Kebon Polo sehingga sang kepala dapat langsung mengontrol kegiatan di perkebunannya. Bagaimana?



Ayo, save heritage and history van Oengaran!  

Gambar lainnya

Sebelah SMA 1 Ungaran (sering dipakai untuk tempat parkir motor)


Dekat dengan SMA 1 Ungaran


Gedung belakang Polsekta Ungaran. Menurut peta tahun 1922, bangunan ini berfungsi sebagai hotel



Bagian dalam gedung kweekschool (depan SMA 1 Ungaran). Saat ini digunakan oleh pengusaha sebagai gudang Palawija.

Jl. Diponegoro tahun 1900an. Terlihat rumah direktur B.O.S dan sekolah B.O.S di kejauhan (kitlv.nl)

Bagian dari kweekschool (sebelah SPBU)

20 comments:

  1. yang gedung aset milik pt kai kok belum dijelaskan detail kenapa bisa jadi milik kai? hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga belum mudeng mas. Hahaha.. Besok2 tak cari informasi lagi :D

      Delete
  2. Bro, aku ngilerrrrrr baca postingan ini. Ternyata Ungaran sebegitu hebatnya di masa lalu. Suk anter muter-muter ya bro, my eyes udah ijo lihat gambar2mu hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha.. Oke broh dengan senang hati siap mengantar Regent Vorstenlanden ke Ungaran. Kabar-kabar saja :)

      Delete
  3. Walah, komuteran Magelang-Semarang tapi aku ra tau menggok :3

    ReplyDelete
  4. Meskipun sebagian kondisinya memprihatinkan, tapi kalau ditilik lagi Ungaran cukup beruntung karena banyak bangunan masa kolonialnya yang masih berdiri hingga kini.

    Dan itu denah Benteng Ontmoeting nya keren banget ya, bersegi-segi macam itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas. Ada beberapa yang masih eksis. Cuma, sepengetahuan saya kesadaran masyarakatnya untuk konservasi lebih rendah dibanding kota/kabupaten lainnya

      Itu denah dari Kitlv. :)

      Delete
  5. Wah, ternyata Ungaran punya banyak cerita ya mas. Dulu sering sekali ke sini, tapi cuma numpang lewat saja. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. lain kali harus mampir mas supaya tahu ceritanya . Hehehe

      Delete
  6. Rumah sampeyan dmn kang, rekomended bgt

    ReplyDelete
  7. Di salatiga jg bnyk bcb nya. Bnyk yg msie bs dinikmati keindahanya. Paling bgus di belakang meubel remaja baru. Rmh belanda, sgt terawat dan asli.ayo ungaran, tiru salatiga dlm merawat warisan bangsa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas. kalo di Ungaran udah berat statusnya hehehehe

      Delete
  8. Dulu masa kecil saya tinggal di sebuah rumah bengunan belanda seberang benteng ungaran ( skrg dibangun jadi kantor bupati ) mohon infonya kalau ada,karena sy kehilangan dokumentasi...org tua camat ungaran sekitar 1974-1979.

    ReplyDelete
  9. Wah, akhirnya bisa tahu sejarah kota sendiri. Makasih infonya, Mas. Btw aku alumni SMP N 1 Ungaran, sewaktu ospek dulu emang guru2 di sana jelasin kalo dulunya ini sekolah buat polisi hutan. Keren gedung utamanya dan ada satu lorong gitu, jadi ada ciri khasnya.

    ReplyDelete
  10. Masih punya koleksi foto Sekolah Rakyat Ungaran th 1950an ( sekarang SD Induk )

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...