Monday, June 29, 2020

Single Touring Pakai Bekakas, Kedungjati - Blora - Ngawi

Bekakas, Smash

Berhubung sudah lama sekali saya tidak touring maka ketika ada kesempatan, kegiatan touring ke Ngawi tidak saya sia-siakan. Kemarin, saya memutuskan untuk single touring menggunakan bekakas (bergejil suka motor bekas) kesayangan yang merupakan motor gojlogan yang sudah terbiasa disiksa. Yaitu Suzuki Smash 110 cc Tahun 2007. Yang mana sudah bolak balik ke Ngawi.

Single touring kali ini saya menyengaja untuk mencari rute rute yang tidak biasa, salah satunya adalah jalan yang belum saya coba sama sekali seumur hidup yaitu Purwodadi – Blora. Nah sepanjang jalan itu yang membuat saya penasaran bagaimana rasanya riding di sana.

Saya start dari Ungaran sehabis jumatan (26/6/2020) kemarin. Cuaca terbilang mendung sehingga tidak lupa harus mengisi perut dengan tolak angin dahulu agar perjalanan terasa hangat. Dari Ungaran, saya memutuskan untuk belok kiri di Pertigaan Karangjati dan menuju Pringapus. Rute ini adalah salah satu pintasan menuju Salatiga via Bringin. Kenapa saya memilih melalui sana, karena satu, medannya seru, dan yang kedua mendekatkan ke kawasan Bringin yang akan saya tempuh untuk menuju Kedungjati.

Kantor Desa Jatirunggo
Desa terakhir dari Pringapus adalah sebuah desa perkebunan karet Jatirunggo. Dari sana, medan terjal menurun menukik membelah hutan jati. Untung saja saat ini sudah mayoritas dicor jalannya sehingga lebih nyaman untuk dilalui. Jalan jalan cor ini terus tersambung melalui Dusun Kunciputih hingga PLTA Timo di Kecamatan Tuntang.
Saya cukup hafal rute ini karena pernah beberapa kali melewatinya kira kira satu dasawarsa lalu sebagai jalan alternatif menuju Salatiga.

Kondisi medan tembus Ungaran - Bringin
PLTA Timo
Sebenarnya jika memang ingin, saya bisa melalui salah satu PLTA bersejarah lagi yaitu PLTA Jelok. Tetapi karena ada jalan pintas ke Bringin, maka saya mending melewati saja jalan pintasan kampung itu. Alhamdulillah sekarang pembangunan telah merata dibanding sepuluh tahun lalu dimana saya harus ekstra hati hati karena banyak jalan belum beraspal.

Namanya sudah kepala tiga, ada saja yang lupa ketika melewati sebuah pertigaan sehingga harus Gunakan Penduduk Setempat.
“Boy, mau tanya jalan ke arah Bringin lewat mana yha?” tanya saya kepada seorang pemuda bermotor Satria F yang tak sengaja saya jumpai di dekat warung nasi rames.

“Lurus aja mas”
Akhirnya saya mengikuti arahannya dan melewati Dusun Kroyo sebelum sampai di pusat Kecamatan Bringin.
**
Reaktivasi jalur Kereta Api Ambarawa Kedungjati via Bringin yang digadang – gadang pemerintah beberapa waktu lalu nyatanya masih mogok saja. Saya tengok bekas stasiun Bringin yang masih ndongkrok, ditutup seng. Pun rencana jalan kereta yang telah dibersihkan dan beberapa diantaranya sudah dibetulkan jembatannya, kelihatannya masih menunggu untuk dikerjakan. Sepanjang Bringin – Gogodalem – Tempuran memang mudah ditemui bekas jalur kereta (bukan relnya) tapi terlihat secara visual medannya.
Kecamatan Bringin
Menjelang Gogodalem, saya melihat salah satu sahabat perjalanan yaitu Pertamina. Rupanya ini adalah SPBU Baru. Terlihat dari bangunannya yang masih bersih dan pegawainya yang masih sopan sopan dan muda muda.

“Mau ke mana mas?” tanya pegawai SPBU
“Mau ke Ngawi via Purwodadi Blora mas”
“OK”
(Percakapan yang sebenarnya tidak terjadi)
SPBU Bringin
Saya menyukai jalur ini dibanding jalur lain karena sudah lama tidak lewat sini. Terakhir kira kira dua tahun lalu saat booming lagu Ya Habibal Qalbi nya Nissa Sabyan. Waktu itu saya sengaja iseng menjajal jalur ini dengan Motuba untuk menuju Gubug.
Masuk Grobogan dari Bringin

Sepanjang jalur ini rutenya didominasi oleh pemandangan hutan jati. Selain itu, rutenya yang berkelok membuat saya fresh karena tidak bosan. Saya jelas tidak hafal betul jalan jalan ini sehingga sesekali saya mengira bahwa ini sudah mendekati Kedungjati. Eh ternyata belum.
Sekitar Kedungjati

Dekat dengan Kedungjati, banyak kawasan pemukiman yang model rumahnya sangat kuno yaitu menggunakan konstruksi kayu jati. Eksotis.. salah satunya adalah bangunan gereja. Di sekitar situ kelihatannya memang banyak rumah rumah pegawai perhutani.
Dok Agus Trisarjoko melalui googlemap

Baru ketika saya melihat sebuah tempat pelelangan kayu (TPK) akhirnya saya baru ingat bahwa saya sudah hampir sampai Kedungjati. Yay benar. Akhirnya saya sampai di Kedungjati. Sebuah kota kecil yang saya bayangkan sangat ramai pada masanya. Terutama karena ada stasiun besar di sana. Sebuah stasiun yang mirip atau mungkin malah sama dengan Stasiun Ambarawa. Merupakan stasiun percabangan rute antara Surabaya – Semarang – Jogja (Vorstenlanden).

St. Kedungjati
Hanya sekali lagi, rencana reaktivasi diatas masih belum ada progres pekerjaan. Kurang tahu karena apa.

**
Sebenarnya saya mentarget bahwa dalam satu jam perjalanan saya harusnya sudah sampai di Purwodadi. Ternyata jauh panggang dari babi. Karena dari Kedungjati ke Gubug pun tak sedekat yang ada di pikiran saya. Selain itu juga, dari Gubug ke Purwodadi pun tidak sedekat yang melesat di otak.

Sepanjang Gubug hingga Purwodadi, jalanan relatif halus. Kalau ada satu dua lubang di aspal sih saya kira normal saja. Yaa memang ada beberapa ruas yang kacau seperti di daerah Godong, tetapi tidak seberapa fatal, sih.
Salahsatu gerbang desa yang sangat megah
Disini, waktu telah menunjuk jam tiga kurang setengah jam. Artinya saya sudah satu setengah jam berkendara dan belum ada tanda tanda saya segera sampai di Purwodadi, pusat Kabupaten Grobogan. Saya coba geber smash. Sehabis ganti rantai dan gearset memang terasa sangat nyaman. Karena speedometer saya sudah mati, setiap ada lintasan lurus dan mulus maka saya geber dengan kecepatan kira kira 300 Km per 3 Jam.
Suasana Pertigaan Gubug
Gerbang masuk Kota Purwodadi

Jam tiga, terdengar suara adzan ashar ketika saya sampai di pusat kota Purwodadi. Purwodadi kotanya tidak begitu ramai. Pembangunan ikon ikon kota terlihat begitu megah dan mewah seperti tugu selamat datang, atau simpang Segitiga Emas. Semua nampak gagah.
Ikon Segitiga Emas, Purwodadi

Saya pelankan motor untuk berfoto sejenak di kawasan alun alun sekaligus minum. Sementara tangki saya tengok masih terlihat baik dan belum ada tanda tanda minta segera diisi.
**
Alun alun Purwodadi
Dari alun-alun Purwodadi saya putar gas menuju arah Blora. Kecamatan yang dilewati diantaranya adalah Tawangharjo dan Wirosari. Di sepanjang dua Kecamatan itu jalanan sebagian beraspal halus dan sebagian bercor halus. Nyaman. Hanya beberapa ratus meter saja di dekat pusat kota Wirosari terlihat beberapa ruas yang rusak. Selebihnya gas pol.
Alun alun Purwodadi

Dalam benak saya, jalur ini hampir mirip dengan jalan pantura Rembang ketika belum ada pelebaran. Kanan kiri berupa sawah sawah dengan aroma laut dan aroma damen yang kuat. Sesekali berpapasan dengan bis tanggung jurusan Purwodadi – Sulursari. Mana ya Sulursari saya tidak tahu.

Perjalanan ini bagi saya sangat lama sekali karena meskipun sepi dan gaspol, saya merasa tidak sampai sampai di Perbatasan Blora. Dan setelah mengumpulkan kesabaran, ditambah dengan cuaca yang bersahabat akhirnya saya sampai di perbatasan Grobogan – Blora. Tugu masuk Kabupaten Blora sungguh megah. Yang rupanya, perbatasan ini tidak seperti biasanya berada di Sungai, tetapi di Pemukiman. Akhirnya minggir sebentar untuk berfoto.

Gapura Batas Grobogan - Blora
Masuk di Kabupaten Blora, kecamatan pertama yang saya lalui adalah Kunduran. Di sana saya tengok jam di pergelangan tangan kiri menunjukkan hampir pukul empat. Akhirnya saya tepikan motor di salah satu SPBU setelah KDR Park (Kunduran Park). Ohya, saya lihat ada tempat wisata yang mungkin lain kali bisa dieksplor untuk bahan video #dinoiki seperti Kunduran Park, taman wisata air (lupa namanya) dan Goa Terawangan (semoga tidak salah).

Mampir ke SPBU untuk shalat ashar dan istirahat sejenak minum es teh. Saya lihat tangki saya sudah minta diisi, tetapi berhubung antrian pertalite sangat panjang akhirnya saya putuskan untuk mengisi di SPBU selanjutnya saja. Dua puluh menit beristirahat kiranya sudah cukup.

Setelah bulak panjang, kembali saya tarik penuh tuas gas dan menyalip beberapa kendaraan lokal baik dari roda dua, mobil pribadi, bus dan truk semua saya libas tanpa ampun. Bulak panjang berakhir ketika masuk ke sebuah Kecamatan. Ngawen namanya. Mampir sebentar minum Pertalite dua puluh ribu kemudian perjalanan tampak sudah berasa aroma aroma Kota. Tinggal ikuti saja petunjuk ijo ijo ke arah Blora / Surabaya. Pusat kota Ngawen juga tampak ramai sore itu. Ada banyak penjual makanan khas pinggir jalan yang sudah membuka lapaknya seperti molen, gorengan, martabak, kue bandung, dan lain sebagainya.
SPBU Ngawen Blora

Masuk Kota Blora

Koplakan, foodcourt Blora
Di salah satu sudut jalan, tertulis baliho besar iklan salah satu hotel di Blora dengan jarak empat kilometer lagi. Wah berarti saya sudah hampir sampai nih, gumam saya dalam hati. Benar saja, tidak begitu lama saya segera menemui tugu perbatasan masuk Kota Blora. Blora Mustika, slogannya. Kota yang bersih dan kecil. Sengaja saya lewat dalam kota karena ingin melihat suasana Blora pada sore hari.

Beberapa ratus meter dekat dengan alun-alun ada sebuah bangunan mewah yang difungsikan sebagai foodcourt (sepertinya) bernama Koplakan. Di pinggir – pingir jalan juga telah siap mereka yang menggantungkan hidup dari berdagang seperti angkringan dan penjual onde onde mini.
**
Pendopo Bupati Blora
Alun-alun Blora tampak rampai sekali sore itu. Bahkan di masa pandemi ini, sebuah istana balon mainan anak telah berdiri seakan mengabaikan kedatangan virus Covid 19. Sementara itu berjejer sepeda motor tumpah ruah mereka beraktivitas di pusat kota. Di depan Pendopo Bupati Blora, tampak beberapa komunitas sepeda memarkir sepeda kesayangannya masing-masing dengan rapi.

Alun alun Blora
OK, Blora maaf saya hanya lewat saja karena waktu memperlihatkan sudah cukup sore. Mungkin lain waktu bisa nunut singgah barang semalam.

Blora kotanya tidak begitu besar. Banyak bangunan kuno di pusat kota seperti kantor kantor militer dan lainnya. Selain itu juga ada sebuah bangunan besar bekas Stasiun Blora yang kini masih tegak berdiri dipinggir jalan, beralih fungsi menjadi pasar.

Perjalanan dari Blora ke Cepu terakhir saya lakukan lima tahun lalu dengan kendaraan dinas Shogun 125. Kala itu, kondisi jalan masih sempit dan bisa dibilang tidak halus. Tapi kini semua telah berubah. Blora ke Cepu sudah sangat mulus dan lebar. Bahkan, berhubung kota – kota ini tidak berada di lintasan utama Pulau Jawa, maka suasana lalu lintas menjadi sangat sepi. Gas saya pentokkan hingga mesin smash berhasil mengajak lari saya maksimal 110 Km per jam. Sayang, bolam lampu dekat saya mati sehingga terpaksa menggunakan lampu jauh sembari melihat barangkali masih ada bengkel yang masih buka.

Sepanjang Blora - Cepu
Dua wilayah yang saya lintasi yaitu Jepon dan Jiken, kesemuanya bisa saya libas beberapa menit saja. Saya bahkan tidak menyangka kalau ke Cepu bisa secepat ini.

**
Adzan maghrib menyambut saya ketika masuk kota Cepu. Cepu sebagai salah satu kecamatan di Blora perkembangannya sungguh menggeliat. Jika dilihat lihat suasana kota Cepu mirip mirip daerah Muntilan atau Ambarawa. Tapi sayangnya gapura masuk Cepu dari Blora kok biasa saja dan kurang wow...

Gerbang Masuk Kota Cepu
Saya tidak hafal tentang kota Cepu dengan jalan-jalannya. Yang saya tahu, saya pasti akan bertemu beberapa bangunan kolonial yang masih terawat seperti Polsek dan Koramil, juga Stasiun Cepu. Hari sudah mulai gelap, saya ikuti saja petunjuk arah menuju Bojonegoro.
Suasana Kantor L
Gerbang Batas Jateng Jatim

Dan akhirnya saya pun masuk Jawa Timur setelah menyeberang jembatan Bengawan Solo. Sudah hampir gelap. Saya sudah melupakan untuk mencari bengkel membeli bohlam cadangan. Saya hanya ingin menunggu angka jam menunjuk angka 6 dan beristirahat shalat maghrib di sebuah SPBU.

Dari Cepu ke Ngawi, tinggal belok kanan di bangjo Padangan, Bojonegoro. Dari sana, suasana jalanan sangat lebar dengan konstruksi cor. Saya bisa melesat dengan sangat cepat karena sepinya lalu lintas. Hingga saya putuskan untuk berhenti mampir di sebuah SPBU Baru daerah Padangan untuk shalat maghrib dan berdoa semoga perjalanan lancar sampai Ngawi.
Istirahat SPBU Padangan

**
Lepas istirahat 20 menit, kembali saya gojlog smash melahap sepinya jalan raya menuju Ngawi ini. Berbeda dengan dulu yang masih banyak jalan rusak, kini sudah mulus semuanya. Bahkan ketika melewati medan berkelok, saya tidak pernah bisa mengurangi tarikan gas karena jalan yang sungguh nyaman dan mulus serta suasana yang sungguh sepi. Hingga di satu titik, sepinya malam kian mencekam. Saya riding seorang diri tanpa ada yang berpapasan maupun menyalip dari belakang. Terlihat kanan kiri hanya hutan hutan jati dan dilangit tampak bertabur bintang.
Suasana antara Cepu - Ngawi

Saya tepikan motor sejenak untuk merasakan suasana yang sangat hening ini. Satu yang saya suka yaitu melihat kerlap kerlip bintang di langit dengan zero polution baik polusi udara maupun polusi cahaya. Indah!
Perjalanan terus dilanjutkan untuk mencari gerbang masuk ke Ngawi setelah melewati Kecamatan Margomulyo. Eh rupanya, gerbang selamat datang Kabupaten Ngawi ini tidak dilengkapi pencahayaan sehingga ketika gelap sangat susah terlihat. Sehingga terlewat untuk saya potret.
Kartonyono Medot Janji
Dari gerbang Kabupaten Ngawi ini, perjalanan tinggal sebentar saja untuk sampai ke Kota Ngawi. Paling lama 10 menit saya sudah berhasil masuk Ngawi dan merangsek ke pusat kota untuk memotret Tugu Kartonyono.

 *
Jam 7 malam saya sampai di rumah Ngawi setelah menempuh perjalanan kurang lebih 130 mil (330 Km) versi google map yang saya tempuh selama enam jam. Benar benar perjalanan yang menyenangkan!


Meski smash saya sudah berusia 13 tahun, tapi tarikannya masih gaspol. Dan julukannya sebagai sigesit irit masih saya rasakan hingga kini. Dari Ungaran, tangki terisi sekitar 10 ribu, dan sepanjang Ungaran hingga Ngawi melalui rute map berikut (330 Km) saya hanya mengisi pertalite 2 x Rp 20.000 saja. Tidak menyesal saya punya bekakas ini.


Read More..

Friday, August 23, 2019

Menanjak ke Guci Pakai Motuba


Motuba yang berhasil sampai di Guci! yeah



#Hari Pertama, Jumat 12 Juli 2019

Mencicip Es Cokelat Pak Jan
Setelah jumatan kami berangkat dari rumah. Untunglah sekarang ini tol Trans Jawa sudah tersambung sehingga bisa memudahkan perjalanan kami ke Tegal. Dari Ungaran kami langsung masuk tol dan sesuai rencana saya, kami akan keluar di Tol Weleri. Sekarang ini, ruas tol dalam kota Semarang seksi ABC sudah terintegrasi dengan gerbang tol Banyumanik (Arah Jogja/Solo) dan gerbang tol Kalikangkung (arah Jakarta) sehingga tidak terjadi kemacetan seperti dulu di Tembalang maupun di Manyaran. Dari akhir ujung tol Manyaran hingga ke Kalikangkung cukup jauh jaraknya.
 
Setelah mengetap kartu di Kalikangkung, kami langsung berjalan menyusuri tol Batang – Semarang. Ini adalah kali pertama saya menyetir melalui ruas tol ini. Suasananya banyak membelah perkebunan jati, seperti di tol Saradan, Nganjuk. Atau daerah Mantingan, Ngawi sana.

**
Perjalanan ke Weleri tidak butuh waktu lama, tidak sampai satu jam. Tarif tol dari Kalikangkung ke Weleri sendiri sebanyak 35 ribu. Setelah keluar tol, mobil tua bangka (motuba) corolla saya segera melintas di jalur Pantura. Di daerah Gringsing, saya takjub dengan suasananya. Memprihatinkan, karena melihat banyak rumah makan yang dulu sangat ramai, dan kini sepi. Banyak rumah makan besar yang dahulu menjadi langganan bis kini seperti sesak bernafas.

Area alas roban yang dahulu ramai kini juga mulai lengang. Pasti ini salah satu dampak negatif dari dibukanya tol Trans Jawa. Pedagang-pedagang di pinggir jalan yang biasanya ramai pembeli baik yang untuk mencari makan ataupun sekedar istirahat kini hanya terlihat segelintir saja.

Perjalanan siang itu menuju Pekalongan relatif lancar. Hanya saja, di dalam kota Pekalongan kebetulan sedang diadakan perbaikan jalan sehingga kami sempat terjebak kemacetan barang sebentar. Kota ini memang salah satu kelemahannya adalah tiadanya jalur arteri sehingga arus menerus dan arus dalam kota kerap menumpuk.

Menurut beberapa referensi kuliner yang saya baca, kami putuskan untuk mampir sejenak di Jalan Kurinci, hendak mencicipi Es Cokelat Pak Jan. Whats that?

**
Jalan Kurinci relatif lebar dan tidak ramai sore itu. Kami melajukan motuba pelan pelan untuk mencari warung Es Cokelat Pak Jan. Dan akhirnya kami pun sampai karena melihat papan petunjuk berwarna kuning di pinggir jalan. Warung ini menggunakan sebuah teras rumah untuk berjualan. Seorang bapak yang mungkin bukan bernama Pak Jan, tampak sibuk melayani pembeli.

Ada tempat makan berupa beberapa meja panjang yang berada di teras, dan ada beberapa pula yang di dalam ruangan dilengkapi dengan kipas angin untuk mendinginkan suasana Pekalongan yang panas.
“Es Cokelatnya tiga, pak” ucap saya sembari memilih tempat duduk di bagian dalam sambil menggendong Dayu.
Dayu sudah sedaritadi tidur. Meski saya bangunin, tapi dia kelihatannya masih nyenyak dan nggak mempan tak iming-imingin es cokelat..
Tampak es cokelat diambil dari wadah semacam ember kemudian dituang ke gelas besar, lalu ditambah beberapa balok es batu. Sudah gitu aja..
“es cokelatnya enak, seperti bahan pembuat es thung-thung” kata Tika mengusulkan.
Benar saja, es cokelatnya ini memang campuran antara cokelat, susu dan santan sehingga terasa sangat enak dan tidak enek.
“itu pelengkapnya roti, ambil di toples” kata bapak penjual sembari menujuk toples yang ada di meja kami.
Adalah roti tawar tebal yang telah dipotong-potong yang siap untuk menemani istirahat minum es cokelat kami sore ini. Cara makannya adalah dengan mencelupkan roti ke es cokelat, lalu langsung deh di makan.. sluruppp.. wenaak dan segar..
Porsi Es Cokelat Pak Jan, dengan sepotong roti sebagai teman minum. Segaaar

Kuliner ini adalah salah satu es legendaris yang aslinya berasal dari Wiradesa, Pekalongan, dan saat ini sudah membuka beberapa cabang, salah satunya di Jl. Kurinci yang saya datangi ini. Untuk harganya cukup lima ribu per gelas, dan sepotong rotinya yang lembut dihargai seribu rupiah saja. Terjangkau, kan?

**
Sore ini waktu sudah pukul empat sore, kami keluar kota Pekalongan dan beristirahat shalat ashar sejenak di sebuah masjid di sekitar Wiradesa. Selanjutnya kami segera melanjutkan langkah ke Pemalang. Niat kami sore ini ingin segera sampai di Pemalang, beristirahat dan besok jalan-jalan lagi.

“Bapak, hotel airy nya kok lama banget sih...” rengek Dayu yang sedari berangkat dari rumah sudah sangat pingin segera nginep di hotel airy. Wkwkwk..

Tetapi kelihatannya kami kurang beruntung karena mendekati kota Pemalang, justru terjadi kemacetan yang teramat panjang. Saking lamanya, kami bahkan menyaksikan sunset dari perjalanan, dan maghrib pun kami baru berhasil masuk ke Kota Pemalang.

Setelah hampir salah jalan, kami akhirnya sampai di hotel yang sudah saya pesan beberapa waktu lalu melalui aplikasi Airy, maklum kebetulan ada diskon 50 %. Hotel kami bernama The Winner Premiere yang berada di Jl. A. Yani. Begitu masuk, kami langsung diarahkan menuju tempat parkir dan saya langsung melakukan check in dengan cepat di resepsionis.

“Silakan pak, kamarnya ada di lantai 2, untuk tangganya bisa lewat sebelah sana” kata petugas resepsionis sembari menunjuk salah satu tangga di pojokan, tanpa mengantar. Kami pun segera mengemas beberapa barang dan langsung menuju ke kamar.
Suasana hotel Winner Premier

Sebuah kamar yang cukup luas, dengan dua bed khas airy. Secara umum standar hotel airy lah.. dan begitu masuk, Dayu entah kenapa malah penasaran sama kamar mandinya.
“Mau lihat kamar mandinya, Bapak.. ”
“Eh kamar mandinya kok puanjang sih bapak..” kata Dayu keheranan karena bentuk kamar mandinya memang memanjang dan agak sempit.
Seperti biasanya, dia paling senang kalau mandi di shower. Karena kalau dirumah nggak ada. Hahaha.. Untuk itu, selepas shalat maghrib ia mandi agak lama karena saking senengnya.

Malam itu, kami memutuskan untuk makan malam di lesehan Aldan, yang sebenarnya kami kenal sejak dolan beberapa waktu lalu ke Solo. Lesehan Aldan, adalah lesehan dengan menu-menu penyetan dengan harga yang tidak menguras kantong. Kami memilih rute melewati jalan lingkar kota sebelah selatan yang berkontur beton. Dari jalan lingkar, untuk menuju ke kota, melalui pemukiman yang rata-rata kondisi jalannya belum begitu bagus.

**
#Hari Kedua, Sabtu 13 Juli 2019

Dari Widuri Hingga Nasi Grombyang

Selamat pagi, Kota Pemalang.
Pagi ini kami menyusuri jalanan depan hotel menuju ke Pantai Widuri. Sepanjang jalan tersebut ketika malam hari sangatlah ramai dengan penjaja kuliner. Umumnya yang dianggap khas adalah nasi megono, seperti Pekalongan. Pagi ini, berdasar referensi dari googlemaps dan karena Tika pingin makan nasi uduk, maka kami mampir sejenak di Kedai Evi. Sarapan nasi uduk dan soto tauto, dengan harga yang tidak mahal, kemudian lanjut perjalanan menuju ke Pantai Widuri.
Suasana pagi Pantai Widuri

Saya pernah ke Widuri, beberapa tahun silam. Tapi tidak ke pantainya, hanya main ke waterparknya. Maka sekarang ini, saatnya bermain dan berenang di pantai. Tiket masuknya murah, hanya 5,000,- dan setelah memilih parkir, kami segera menyingkap deretan warung-warung pantai bertemu dengan pantai Laut Jawa. Sepanajng bibir pantai yang berpasir hitam, dipenuhi deretan warung dengan penataan kursi warna warni yang terlihat cantik di bawah rindangnya pohon cemara laut. Dayu yang tampak sangat senang, awalnya cukup takut untuk nyemplung tetapi setelah berani ia justru nggak mau diajak pulang.
 
Cukup lama kami bermain sekitar hampir dua jam. Kemudian segera bilas, beli jajan dan kembali ke penginapan untuk check out.

**

Cuaca siang hari di Pemalang sangatlah panas. Siang ini kami hendak lanjut wisata ke Guci, Tegal. Tetapi sebelum meninggalkan Pemalang, kurang afdol rasanya kalau belum nguliner dulu. Yasudah akhirnya kami membelokkan langkah ke Grombyang Waridin yang berada dekat dengan bundaran Siranda.

Sebuah warung makan yang besar dan luas, yang menyajikan menu utama yaitu Grombyang dalam mangkuk-mangkuk kecil. Beberapa meja makan panjang terlihat cukup ramai siang itu. Pun dengan parkirannya yang dipenuhi beberapa kendaraan roda empat dan juga banyak motor berjejer. Menandakan bahwa tempat ini memang cukup ramai dan populer.
Nasi Grombyang yang selalu ngangenin..

Nasi grombyang ini adalah semacam soto daging sapi dengan kuah yang agak kental, hampir mirip kuah rawon. Mungkin semacam paduan soto dan rawon sapi. Citarasanya enak, dan untuk lauk makannya tersedia beberapa sate dari bahan daging sapi, seperti jerohan hingga paru. Ketika dicombine dengan menu utamanya, maka yang terasa adalah.... sangat enak.

**
Makan siang telah selesai. Kami berangkat menuju ke Tegal via jalur Pantura. Jalur Pantura sekarang relatif sepi. Mungkin cukup banyak yang beralih ke tol. Apalagi, di kota Tegal sebelum adanya tol, acapkali terjadi kemacetan. Menurut peta google maps, sebenarnya ada dua jalan menuju Guci. Pertama via Randudongkal – Moga, yang kedua melalui Tegal – Slawi. Meski yang kedua ini relatif lebih jauh, namun saya memutuskan untuk memilih ini karena saya belum pernah lewat Randudongkal. Menurut google streetview, kontur jalannya lebih sempit dan lebih menantang. Jadi, mending dihindarin saja karena saya bawa motuba yang sewaktu waktu bisa saja trouble.

Kami kebablasan sedikit saat sampai di sebuah pertigaan arah ke  Kemantran – Slawi. Setelah shalat dhuhur sesaat, kami muter balik barang sepelemparan handphone kemudian menelusuri alternatif menuju Slawi menghindari kota Tegal. Jalanan sempit saja, dan ada beberapa truk yang berjalan pelan. Beberapa kali harus ngerem mendadak dan sempat dicium oleh pengguna motor dibelakang saya.

“Groookkk”

Ah biarin lah. Semoga tidak terjadi apa apa. Saya nggak sempat ngecek bablas saja. Sebelum sampai Slawi, ternyata kami melewati sebuah kawasan tua yaitu kawasan bekas pabrik gula peninggalan jaman kolonial. Ada beberapa gedung bangunan tua yang khas dan cantik, ada juga semacam tempat wisata yang juga menyediakan lori wisata. Namun, kami tidak sempat mampir mengingat kami masih harus nanjak ke Guci. Takut kesorean.

Setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya kami sampai di Guci. Ada beberapa jalan yang menanjak dengan belokan yang cukup ekstrim yang membuat Tika sedikit kaget. Namun, saya kira ini jauh lebih mudah dibanding perjalanan antara Magelang – Selo – Boyolali, atau Magetan - Sarangan – Tawangmangu.

Sesuai perkiraan saya yang sudah mengintip peta beberapa waktu sebelumnya, maka sesaat setelah masuk gerbang retribusi, saya langsung membelokkan mobil menuju Guci Gung. Pemandian air panas yang dilengkapi dengan penginapan.

“Silakan pak, karcisnya..” sapa seorang penjaga setengah baya bertopi.
Udara memang terasa dingin sehingga pantaslah ia jika bertopi untuk menghangatkan  kepala.
“Saya ada reservasi disini, pak” jawab saya kemudian menunjukkan bukti transfer yang telah saya foto beberapa waktu lalu.
Ia kemudian segera menghampiri rekannya – mungkin atasannya untuk konfrimasi, dan kemudian dengan sangat sopan langsung mengantar saya menuju lantai dua untuk menuju ke kamar yang telah saya pesan. Ia menawarkan untuk membawakan barang-barang, tetapi saya menolaknya secara halus karena masih bisa saya bawa sendiri.

**
Dayu yang sedari tadi tidur sepanjang perjalanan, saya bangunkan dan ia tampak baru sadar bahwa kami telah sampai di Guci. Yang ia tahu, ia akan segera berenang. Tapi ia juga baru tahu bahwa hawa di Guci sangatlah dingin. Selepas shalat ashar, akhirnya saya dan Dayu segera nyemplung ke kolam renang.

Guci Gung memiliki tiga kolam renang yang masing-masing memiliki level panas yang berbeda. Yang sedang adalah yang paling luas, dan sekaligus khusus dewasa karena kedalamannya. Sedangkan dua lainnya dilengkapi perosotan untuk bermain anak.
Kolam Renang Guci Gung yang menyegarkan

Setelah perjalanan panjang nan melelahkan, maka berendam air panas ini bisa jadi obatnya. Nyaman sekali rasanya. Waktu saya ke Guci tujuh tahun silam, saya malah tidak menyempatkan berenang air panas karena saat itu waktu mepet. Dan kini akhirnya saya bisa kembali ke Guci mengajak keluarga kecil tercinta.

Tidak terasa, saya dan Dayu berendam kira-kira sampai dua jam sampai menjelang maghrib. Sementara Tika justru ketiduran berselimut. Mungkin lelah dan kedinginan. Kalau tidak pelan-pelan membujuk, Dayu tidak akan mau diajak mentas dan akhirnya mentas juga setelah diiming-imingi mie instan rebus. Hehehe..

**
Penginapan kami, menghadap langsung ke kolam renang. Tempat ini sepertinya masih baru dan juga masih dalam proses pengembangan. Dari beberapa kamar yang ada tampaknya hanya dua yang terisi. Mungkin proses marketingnya belum gencar, dan saya lihat di aplikasi online juga belum terdaftar. Kamar yang luas, dengan kamar mandi shower full air panas, serta televisi parabola yang sayang sekali sedang dalam perbaikan sehingga tidak bisa dimanfaatkan. Over all, saya kira harga kamar ini sedikit overpriced. Namun, jika diingat kami bebas parkir dan bebas berenang ya rasanya worth it juga.

Malam hari di Guci, di depan penginapan tampak masih ada yang berenang. Saya sebenarnya pingin mencoba berenang di malam hari. Tapi kalau nanti Dayu ikut-ikutan saya malah takut kalau ia nanti masuk angin, akhirnya urungkan niat saja diganti dengan jalan-jalan mencari makan malam.

Menurut panduan dari penjaga hotel, kami naik sejenak ke daerah depan Hotel Sankita. Disana ada beberapa warung yang salah satunya menjajakan nasi-mie goreng. Akhirnya kami tepikan mobil, kemudian memesan makan malam. Angin terasa semribit dan sangat dingin sehingga minuman panas rasanya langsung dingin seketika.

Makanan hangat-hangat memang paling pas di tengah hawa gunung seperti ini. Setelah makan selesai, kami langsung pulang kembali ke penginapan untuk segera menarik selimut. Pada malam hari, tampak bahwa kolam renang sedang dikuras dan paginya tiba-tiba sudah terisi penuh kembali.

**
#Hari Ketiga, Minggu 14 Juli 2019

Dari Pancuran 13 ke Es Sagwan 

Selamat pagi Guci. Pagi ini terasa begitu dingin. Penjaga hotel mengetuk pintu dan mengantar sarapan untuk kami. Dua bungkus nasi goreng, iya dibungkus pakai kertas minyak, dan dua gelas teh panas. Sangat enak untuk kami yang terasa selalu lapar ketika berada di dataran tinggi seperti ini.
 
Sekitar pukul setengah delapan, kami mencoba mendatangi main spot dari wisata Guci. Sepagi itu, Guci sudah sangat ramai sekali. Ramai aktivitas warga, penjual sayur dan aktivitas wisata dalam satu tempat. Kami sempat stuck sebelum sampai di parkiran beberapa saat. Saya kira, tempat ini memang masih belum optimal pengelolaan lalu lintasnya. Jalan sempit, dipaksa dilewati dua arus, ditambah lagi dengan banyaknya pickup warga yang parkir di kanan-kiri jalan. Masih ditambah lagi dengan penjual keliling yang sementara belum tertata sehingga menambah kesan semrawut.

Saya lupa membawa jaket, sehingga begitu turun dari mobil langsung kedinginan. Dayu pun tidak mau turun, ia hanya mau digendong karena saking dinginnya. Obyek wisata Guci tepatnya di titik wisata utamanya-yaitu di pancuran air panasnya, minggu pagi terasa begitu ramai sesak. Mungkin karena faktor weekend, dan juga karena kenyataan bahwa tempat wisata ini buka 24 jam sehingga banyak wisatawan yang berendam air panas pada malam bahkan dini hari.
Suasana Pancuran 13, 

Dulu, untuk masuk ke Pancuran 13 tidak bayar tiket, tetapi kini diberikan tiket. Itung-itung untuk nambah PAD Kabupaten Tegal. Tetapi dengan penambahan tiket masuk itu, fasilitas yang kami dapat belum begitu maksimal seperti yang telah saya sebutkan diatas yaitu pengelolaan lalu lintas dan parkiran umum di area wisata, belum optimal. Semoga kedepannya penataannya lebih bagus lagi.

Ada seorang nenek menjual semacam umbi-umbian yang menurut saya namanya adalah midro, tetapi di sana disebut dengan ganyong. Karena saya tahu bahwa rasanya enak, maka kami belilah ganyong dua kilo dua puluh ribu rupiah. Enak.. tapi dingin, tidak hangat. Hehehe..

Setelah sekedar membeli oleh-oleh, tidak lama kami segera turun kembali ke penginapan karena Dayu daritadi merengek minta berenang lagi. Yasudah lah, akhirnya dari pukul sembilan hingga pukul sebelas siang, kami berendam kembali menikmati air panas yang menyegarkan badan ini.
 
**
Tengah hari, kami check out dan kembali ke Tegal via Slawi. Ngadem sebentar di Toserba Yogya Slawi karena kehabisan susu bubuknya Dayu, kemudian jalan pelan-pelan menuju kota Tegal. Kenapa harus ke Tegal dulu? Karena saya pingin ngajak Tika mampir ke salah satu warung es legendaris di Tegal. Es Sagwan yang ada di dekat Rumah Sakit Kardinah.

Mas penjual siang itu tampak santai, kebetulan sedang tidak ada pembeli. Kami memesan dua porsi es, kemudian mencemil tahu aci dan beberapa gorengan karena lapar belum makan. Es Sagwan ini semacam es cendol yang merupakan campuran santan, cairan gula jawa, dengan cendol yang berasal dari aci. Ditambah tape, rasanya semakin enak dan menyegarkan tenggorokan. Harganya juga cukup murah, cukup enam ribu per gelasnya.
Es Sagwan, kesegaran tengah hari di Tegal

Setelah minum es, perut terasa kenyang kemudian saatnya kami kembali ke Semarang. Tetapi kami harus mampir dulu di Warung Nasi Grombyang Pemalang. Bukannya ingin makan lagi, tapi karena kemarin waktu makan siang, boneka Tayo kesayangan Dayu tertinggal.

“Semoga masih ada..” batin saya.
Beruntunglah karena ternyata barang tersebut masih ada dan diamankan oleh empunya warung di rumahnya. Setelah menunggu barang sesaat, akhirnya boneka biru itu kembali dan Dayu menjadi ketawa-ketiwi lagi.

**
Sore itu kira kira sudah pukul tiga. Selepas kota Pemalang, saya putuskan untuk menggunakan jalur tol karena ingin menghindari Kota Pekalongan yang terkenal padat. Keluar di Kandeman, kemudian mengisi BBM dan lanjut melalui jalur Pantura. Sekira pukul setengah lima, kami mampir shalat di daerah Subah Batang dan lanjut perjalanan hingga pada maghrib kami sudah sampai di Kota Kendal. Kurang beruntung, ketika sampai di Cepiring, mobil saya menginjak lubang cukup dalam dan tiba-tiba lampu utama saya mati. Saya segera menepi dan menemukan bahwa sekring putus. Untunglah saya selalu bawa cadangan. Sempat mati kembali kemudian lampu terpaksa saya nyalakan pada posisi lampu jauh. Daripada tidak bisa pulang. Hehehe..
Jangan lupa siapkan saldo sebelum masuk tol

Mengingat siang belum makan, kami pilih untuk membelok ke rumah makan Sambel Layah. Makan nasi gongso telor yang terasa sangat enak (sampai nambah) dann.. kenyanglah sudah perut kami sekalian untuk lanjut menuju ke Ungaran. Selepas arteri Kaliwungu, kami kembali masuk tol untuk langsung menuju Ungaran. Alhamdulillah perjalanan lancar dan kami bisa sampai di rumah dengan selamat pada pukul setengah sembilan malam.

Sekarang, mari kita hitung uang yang telah keluar dalam perjalanan kali ini..
Lumayan yha..


Read More..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...