Thursday, February 15, 2018

Kehabisan Tiket Kereta Menuju Solo



Kebahagiaan anak adalah salah satu kebahagiaan dalam hati dan sekaligus keluarga saya. Maka, dengan adanya rejeki yang berlimpah kemarin (alhamdulillah), maka tidak ada salahnya foya-foya sedikit. Awal tahun ini, ada sih rencana bepergian kemana gitu tetapi melihat situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan dimana cuaca tidak menentu, bencana alam dimana-mana dan ditambah lagi dengan ketidakstabilan politik di Amerika Serikat sana, membuat saya memending dulu buat refreshing. Tapi alasan yang paling kuat sebenarnya karena nggak punya uang, sih. Uangnya habis buat kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Nasib pegawairendahan..

Keinginan saya kemarin hanya satu sebenarnya, mengajak Dayu naik kereta api. Karena dia kalau dirumah, suka sekali nyanyi lagu itu, dan berulang-ulang menyebut kata Surabaya. Mungkin dia pingin ke Surabaya. Saking pinginnya, bahkan ketika makan ikan bandeng, dia pasti langsung nyeletuk “Bandeng Surabaya, ya?” ah kamu bikin bapak makin nggak tega dan pingin segera mengajak naik kereta ke Surabaya. Eh tapi kejauhan.. ke Solo aja lah ya yang murah.

Saya bertiga sampai Poncol masih gasik, sekitar jam tujuh lebih sedikit. Sementara, jadwal kereta api Semarang – Solo dengan KA Kalijaga masih nanti jam 9. Saya masih ingat betapa merdekanya naik KA ini. Kaki bisa selonjoran, tempat duduk bisa pindah-pindah, dan berasa gerbong milik sendiri. Ya, karena saya dulu pernah menjajalnya pas awal-awal trayek ini di buka. Dulu tiketnya 25 ribu sekarang turun jadi 10 ribu saja.

Kami ke Poncolnya naik bis ¾ Ambarawa Semarang dan dari rumah ke jalan raya naik motor dinas, dan dititipin di Pasar Babadan. Syukurlah perjalanan ke Poncol sangatlah lancar. Ini pertamakalinya Dayu kami ajak jalan-jalan yang agak jauh naik kendaraan umum.

**
Hati saya tiba-tiba mak tratap saat saya mendekati loket penjualan langsung (Go Show) karena disana tertulis pengumuman yang berbunyi “MOHON MAAF TIKET KERETA API KALIJAGA PONCOL – SOLO BALAPAN HARI INI SABTU 10 FEBRUARI 2018 SUDAH HABIS”. What the fuck is this? Umpat saya dalam hati.

Saya lalu menghampiri Tika, sementara Dayu sudah kelihatan senang sekali melihat Stasiun dan kereta api yang terparkir. Sekali lagi Tika memastikan ke petugas loket dan ternyata hasilnya nihil. Lemes, saudara-saudara!

Terbersit di pikiran Tika untuk ke Solo naik travel seharga 60 ribu. Jika, tidak mengajak Dayu, saya pasti mengiyakan. Tetapi ini menyangkut urusan bermain hati, je. Jujur saya telah terbiasa dengan permainan hati seperti ini karena saya ini ekstrovert. Benar sih, kapan-kapan kami bisa naik kereta lain kali. Lha tapi saya sudah terlanjur pesen hotel dan pesen rentalan motor, je. Dan yang paling mengganjal di hati saya adalah, bagaimana perasaan anak saya jika kali ini tidak jadi naik kereta api sementara saya sudah menjanjikan beberapa hari sebelumnya.

“Kok tidak pesen jauh-jauh hari sih?” tanya Tika.
“Lha iya karena KA ini tidak muncul di aplikasi KAI Access, dan karena sifatnya kereta lokal, maka tiket hanya dijual 3 jam sebelum pemberangkatan”
Tidak hanya kami sih yang kecelik. Banyak malahan.

Owalah, pelan-pelan saya mulai menyadari bahwa kereta ini berbeda dengan saat awal diluncurkan. Saat ini okupansinya sudah sangat bagus. Mungkin karena harganya murah. Bayangkan jika naik bis Semarang – Solo, butuh 30 ribu, sedangkan dengan waktu tempuh yang hampir sama, bisa lebih hemat 20 ribu kalau naik kereta api. Nyaman, lagi.

Saya seketika melihat-lihat apakah ada kereta api lain yang memungkinkan untuk kami tumpangi? Dan akhirnya saya melihat ada pemberangkatan KA Ambarawa Ekspress yang akan berangkat pukul delapan menuju Cepu. Bablas ke Surabaya. Saya langsung membayangkan bahwa Cepu berada di timur Purwodadi dan Blora, sementara Purwodadi berada di atasnya Solo. Berarti Cepu ke Solo itu dekat.

Tetapi tiketnya flat, 75 ribu. Dan saya tidak ingin berpikir panjang. Saya memprioritaskan Dayu harus bisa naik kereta hari ini, dan hari ini pun saya harus sampai Solo, entah lewat mana. Segeralah kami tebus tiket ke Cepu berdua seharga 150 ribu.
 
**
Melihat Dayu yang sumringah saat masuk ke Peron, rasa sesal karena mengeluarkan uang yang terlampau banyak, sedikit terobati. Dia terlihat sangat senang dan pingin segera naik ke kereta.

Pukul 8 tepat, kereta beranjak meninggalkan Stasiun Poncol. Dan gantian saya yang pusing untuk menyusun rencana. Terus terang, saat bersama si kecil adalah saat yang susah untuk konsentrasi. Baru browsing sedikit, hape sudah direbut, baru berfikir sebentar, sudah diajak nyanyi dan bermain tayo, mainan bis kesayangannya itu.

“Maaf nak, bapak baru cari informasi travel atau bis dari Cepu ke Solo nanti”

Kereta kami melaju pelan dan saya mulai sadar bahwa dari Cepu ke Solo itu ya nggak dekat dekat amat. Bisa sih via Cepu Ngawi Solo, tapi kok ya gimanaa gitu karena kalau ke Ngawi ya sama aja pulang kampung. Kalau enggak ya Cepu – Blora – Purwodadi – Solo. Ah tapi nggak ada bis yang langsung. Bis patas juga nggak ada. Apa nge-grab aja ya dari Cepu ke Solo?

“Ngomongo dewe..” timpal Tika.

“Eh bentar-bentar.. Gimana kalau kita turun di Stasiun yang dekat Purwodadi aja. Dari Purwodadi kan gampang kalau cuma mau naik bis ke Solo. Ini, Kradenan..” usul saya kepada Tika.

Tika yang mulai bete dan kesal akhirnya manut saja.

Akhirnya mendekati stasiun Ngrombo. Kalau saya lihat di google map, stasiun ini adalah yang terdekat dengan jalan raya Purwodadi-Solo. Ah.. This is it..

“Gimana kalau kita turun disini saja?” tanya saya ke Tika
“Yawes lah pokoke aku manut kamu, mas..”
Peron Stasiun Ngrombo, Grobogan

**
Syukurlah Dayu mau mengerti kami turun disitu karena sedikit terpaksa. Kami naik kereta baru kurang lebih empat puluh lima menit. Dan Dayu juga kelihatannya sudah cukup puas. Hal ini tentu saja menjadikan saya lebih tenang. Begitu turun, kami harus jalan kaki sejenak sekitar sepelemparan kenthos untuk mencapai jalan raya.

Kami bertiga bagaikan traveler gembel yang tersesat di kota lain. Jalan beton, dengan suasana yang aneh, aneh karena masih teringat habis mengeluarkan uang 150 ribu. Hehehe..
Sabarlah nak, semua pasti ada hikmahnya..

Setelah menunggu lima belas menitan, kami lalu mencegat bis Rela, bis bumel jurusan Purwodadi-Solo. Begitu naik, kami harus terpisah jarak. Di bis dengan kursi 2-3 ini, saya duduk sendiri sementara Tika duduk memangku Dayu. Dayunya diem saja. Mungkin ia merasa sumuk dan aneh.

Sesekali, ia gantian minta dipangku saya. Dan di sela-sela tidur, dia malah nyanyi-nyanyi lagu selamat ulang tahun sama Ruri Abangku. Wkwkwk..

Bis melaju membelah hutan jati. Saya dulu pernah lewat sini naik motor dari Purwodadi ke Solo. Dan saya juga baru sadar jika kontur tanah dan model geografis disini benar benar mirip jalan antara Cepu – Ngawi. Seru!

Sepanjang jalan, saya melihat sekitar betapa banyak bertebaran rumah-rumah khas wilayah setempat seperti di daerah kecamatan Toroh dan Geyer. Rumah tersebut biasanya berlantai rendah, banyak yang berlantai tanah, dengan model joglo atap rendah dan berdinding kayu jati. Sungguh pesona eksotisme yang luput dari jepretan kamera saya, karena sibuk megangin Dayu.

Ternyata eh ternyata, dari Ngrombo ke Solo butuh dua jam. Awalnya saya kira hanya setengah jam saja. Bersyukurlah saya tidak jadi turun di Cepu. Coba kalau sampai Cepu jam 10 siang, mondar-mandir sebentar, jam 12 berangkat dari Cepu, mungkin sampai Solo sudah habis maghrib saya-nya.

**
Mendekati tengah hari, kami sampai di Terminal Tirtonadi. Seketika kami langsung menuju pintu keluar di belakang dan saya mengkontak rentalan motor. Ah, saya sebenarnya agak malu karena sudah mencla mencle. Bilang jemput pukul 12, terus ganti bilang kalau mau ke Cepu dulu, dan akhirnya malah jam 11,30 saya sudah sampai Solo.

Berhubung masnya masih nganterin motor lain, akhirnya kami relakan beristirahat sambil menunggu motor rentalan yang datang satu jam kemudian. Sebenarnya saya sering kasihan sama Dayu pada saat – saat seperti ini. Ia minta naik becak lah, minta prosotan di tanjakan parkiran terminal, lah, tapi di saat yang sama ia belum makan. Cuma ngemil doang.. Sembari menunggu, Tika saya suruh gmaping buat nyari referensi tempat makan yang lesehan dan yang rekomended. Karena kuota saya sudah habis buat yutuban sama Dayu.
 
Akhirnya, tepat pada jam yang dijanjikan, mas rentalan motor datang juga. Motor matic Mio GT langsung berpindah ke saya setelah saya meninggalkan tiga identitas, SIM A, NPWP dan kiss. Eh KIS.
Foto yang diambil pihak rental untuk jaga-jaga jika saya membawa kabur motornya..
Pada jalan-jalan dahulu kala ke Solo, jaman belum secanggih ini. Jamannya udah canggih ding, tapi waktu dulu saya belum punya hape yang canggih. Nah sekarang ini, kami benar-benar merasa terbantu dari g maps. Tinggal nyalakan driving mode, lalu saya bisa mengikuti peta untuk menuju Lesehan Aldan, rekomendasinya Tika karena reviewnya bagus.

Ada di Jl. RM Said, tempat ini tampak ramai. Kami langsung menuju lesehan di ruang tengah dan memesan aneka macam masakan, nggak mahal-mahal kok. Kenapa kami harus memilih lesehan, karena jika makan sama anak kecil dan nggak lesehan itu pasti repot. Harus mangku, takut makanannya jatuh dan lain sebagainya.
 
Paket ayam goreng sambel tempe tahu, dua mangkuk sup ayam, tiga potong tempe, tiga potong ceker bacem, dua gelas es teh jumbo, dua sambel korek, serta satu ceting nasi hanya kami bayar seharga 45,500 belum termasuk PPN. Omai omai omai, murah bingit.. apalagi dari citarasanya yang sungguh enak dan nikmut. Rumah makan ini kami rekomendasikan untuk kalian yang pingin makan enak dan murah di kota Solo.

**
  
Selanjutnya, kami menunda shalat dhuhur pada pukul dua siang karena mepet dan takut kehujanan. Sudah mendung, je.

Saya segera belokkan motor masuk ke parkiran Zaen Hotel Syariah. Di bagian depan hotel, merupakan sebuah butik dan as usual, Dayu ketakutan saat melihat manekin. Ia merengek minta gendong “takut anekin” katanya.
 
Saya segera melakukan check in dan kunci kamar bernomor 214 segera berpindah ke saya. Cus langsung segeralah kami meluncur ke kamar untuk indehoy.

Ruangan yang cukup luas, dengan satu bed besar, 32’ LG tv, shower dan almari yang ternyata masih menyimpan satu dus roti khas Solo. Tapi sudah tercabik sedikit di pojoknya.

“kelihatannya masih enak nih.. dari aromanya” kata Tika
“Iya nih, mungkin baru tadi malem tamunya nginep. Ah, tapi biarin aja lah, takutnya ada apa-apanya. Atau mau diambil lagi sama yang punya” jawab saya. Hehehe

Berarti ini murni karena kurang telitinya clean up yang dilakukan pegawai hotelnya. Nggak terlalu masalah sih kalau buat saya.
 
Saya segera mandi dan pingin beristirahat sembari nonton pernikahannya Vicky dan Angel Lelga, tapi tak dinyana, Dayu malah ngajakin mainan Tayo sekaligus mengajak keluar melihat ikan di luar. Memang, di tengah hotel ini ada kolam ikan yang cukup besar dengan berbagai ikan koi warna-warni yang sudah pasti disukai anak kecil. Ah, yasudah namanya kenikmatan jalan-jalan sama anak ya begini ini. Rencananya, saya pingin mengajak renang ke Royal Park Sukoharjo tapi kok lelah banget.. Diluar malah nggak lama kemudian hujan.. Ya sudah cocoklah untuk istirahat aja sampai sore nanti.
Zaen Hotel Syariah lantai 2
**
Jujur kalau mengikuti keinginan, saya pinginnya malam itu pengen makan macem-macem yang viral-lah. Seperti sate kere, pergi ke Galabo, atau gudeg bu kasno. Tapi wong sorenya aja kami makan sisa sopnya Dayu, juga bekal nasi telur dari rumah sudah kekenyangan ya sudah mending kami pergi ke SGM nyari es krim tentrem aja, deket sih kalau dari hotel ke SGM jalan kaki Cuma sekitar 20 menit. Ya mending naik motor, lah yha..

Dari lantai ke lantai, kami susuri pelan pelan dan ternyata kami tidak menemukan gerai es krim legendaris di Solo itu. Usut punya usut setelah mengusut seorang cleaning service, diketahui bahwa gerai itu sudah tutup lumayan lama. Review terakhir di gmaps sih 9 months ago. Padahal statusnya di gmaps masih aktif dan masih buka. Hal ini menjadi bukti betapa teknologi secanggih apapun ada saatnya tidak berkutik dimentahkan oleh seorang cleaning service. Allohu akbar!

Sementara itu, Dayu merengek-rengek minta naik kereta yang keliling di mol, pingin naik boneka yang bisa jalan, sama pingin beli boneka Tayo. Untunglah, kami menemukan Fantasy Kindom di lantai atas. Sebuah playground indoor yang selama ini selalu diidolakan Dayu. Iya, dia memang sukanya kalo nyetel yutub, selalu lihat anak main di play ground. Dan ini saatnya ia kami lepas biar bermain sendiri. Eh ya tapi masak tega.. Ya udah saya dampingin. Mulai dari naik mobil mobilan, naik-naik ke rintangan, hingga ocot ocot alias prosotan. Satu hal yang paling ia sukai sedari kecil. Puas, rasanya bisa melihat Dayu bersukaria ditempat yang ia suka.
 
Pulangnya, belum apa-apa baru ngambil motor di parkiran, Dayu sudah merem karena kecapekan setelah main sekitar dua jam. Hehehe.. nggak papa nak, yang penting kamu senang.. :D

Di tengah cuaca grimis yang mulai mengundang, kami nelisip-nelisip gang kembali ke hotel dan mencari sesuap nasi kucing atau HIK, jika di Solo. Setelah membungkus makan malam, kami pun kembali ke hotel dan makaannnnnn! Lapar, euy..

**
Menyambangi Es Krim New Tentrem
Setelah didera kelelahan yang amat sangat setelah muter-muter belanja batik di Pusat Grosir Solo (PGS), saya melihat jika masih ada waktu yang cukup untuk njajan sebentar sebelum motor saya kembalikan. Akhirnya, kami pun meluncur ke perempatan Ngarsopuro.
Parkir motornya mudah karena bisa parkir di trotoar khusus yang disediakan untuk parkiran motor. Tempat menikmati es krim ini, dahulunya ada di Jalan Urip Sumohardjo namun entah sudah sejak kapan membuka gerainya dengan nama New Tentrem di sini. Begitu masuk, kami langsung disambut pelayan yang cantik cantik.
 
“Untuk berapa orang, mas?”
“Emm.. tiga orang. Empat kalau sama mbaknya..”
“Silakan ya meja satu, ini daftar menunya..”

Sejurus kemudian kami langsung menuju sebuah meja dengan tiga kursi yang mepet ke jendela kaca dengan pemandangan Jalan Ngarsopuro. Tempat ini cukup luas, ada beberapa set meja kursi kayu dan salah satu dekorasi temboknya merupakan jendela krepyak kayu yang di cat warna warni. 

Dayu terlihat langsung senang dan tidak sabaran menunggu es krim pesanan dibuat. Ia memilih menu es krim upin ipin yang merupakan dua scope es krim vanila yang dibentuk menyerupai kepala tokoh rekaan buatan negeri jiran tersebut. 

Es krim di tentrem ini memang enak rasanya. Pun begitu es dewa mabuk pesanan Tika yang porsinya benar-benar bikin mabuk. Bentuknya seperti kapal dan es serutnya buanyakk. Kombinasi isinya antara lain duren, ketan hitam, santan, susu, kismis, nangka, dan lain sebagainya. Sementara pesanan saya adalah red planet yang merupakan tiga scope es krim buah-buahan yang segar membahana. Ada strawberry, anggur dan kopyor. Masih dipadu dengan kecutnya strawberry dan renyahnya wafer cokelat.
 
Sungguh di tempat ini kami benar-benar bisa menikmati es krim dengan sebenar-benarnya nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

Pukul setengah satu siang, kami telah kembali ke terminal Tirtonadi dimana motor akan dijemput kembali oleh empunya. Sebagaimana orang hidup yang akan kembali kepada Yang Maha Pencipta, begitu juga motor rentalan kami ini. 
 
Akhirul kalam, perjalanan kami pun berakhir dengan menaiki bis Raya dari Solo ke Ungaran selama dua setengah jam. Dengan demikian berakhirlah sudah cerita perjalanan kali ini.


Sampai jumpa pada perjalanan selanjutnya!


Read More..

Friday, January 26, 2018

Kisah Jam Tangan di Tepi Kolam



Di saat usia saya belum genap sepuluh tahun, atau lebih tepatnya saat saya SD, ada banyak cerita menarik. Maklum, hidup di kampung semuanya serba tradisional. Apalagi waktu itu masih tahun 90an yang dikenal sebagai masa peralihan generasi analog ke digital. Kami main nintendo, tetapi kami masih main ke sawah, kami sewa playstation tetapi kami masih mandi di sungai.

Dua diantara beberapa tempat favorit kami untuk mandi adalah di mbelik kampung dan di kolam renang umum milik Pondok Pabelan. Mbelik adalah istilah untuk sebuah mata air menurut penuturan bahasa di kampung saya. Mbelik ini lokasinya ada di sawah dan dari bawah pohon kelapa air jernih itu menyembul tiada henti. Lokasinya ada di sebuah lembah lereng sawah dan untuk mandi disana, orang dewasa harus pakai ‘telesan’ alias tetap pakai celana. Sedangkan kami anak kecil, jelas. Telanjang bulat.
Mbelik Sawah, foto pribadi

Maklum, di sekeliling tidak ada pagarnya. Kondisi mbelik sendiri tergolong sangat alami, dengan luasan sekira empat meter persegi, bagian bawah mbelik yang berpasir tampak sangat jelas dari permukaan karena air yang saking jernihnya.

**
Jam Tangan Masa Kecil
Sejak kecil saya sudah mengenal jam tangan. Bapak saya adalah seorang yang suka membeli jam tangan di toko. Bahkan toko jamnya hingga hari ini masih menjadi langganan. Saya kira bapak jika membeli jam tangan bukan yang mahal tetapi yang standar-standar aja. Suatu kali, saya dibelikan jam tangan warna hijau digital yang sangat saya sukai.
Seperti ini kurang lebih jam tangan pertama saya, sumber arlozi.com

Kembali ke cerita tentang mbelik tadi, suatu hari saya dan beberapa teman mandi-mandi bareng. Jam tangan hijau pemberian bapak saya tersebut saya lepas dan sialnya waktu pakai baju saya lupa kalau saya pakai jam tangan. Alhasil, begitu sampai rumah saya baru sadar kalau jam tangannya ketinggalan. Setelah kembali ke mbelik, sayangnya jam tersebut sudah hilang..

Di kali lain, masih seperti biasanya saya berenang bareng-bareng di kolam renang umum milik Ponpes Pabelan di sebelah barat kampung. Kolam ini sangat luas tetapi airnya berasal dari membendung sungai. Jernih, sih tetapi di kolamnya juga ada ikan-ikannya. Kolam ini oleh warga kampung selain buat mandi juga digunakan untuk mencuci baju.

Saat itu tengah populer diantara teman-teman saya jam tangan model G Shock dengan ikon lampu berbentuk lumba-lumba jika dipencet mode “light”nya. Selain itu, jam tangan ini juga dilengkapi alarm yang berbunyi “titit, titit, titit”. Saya pun tidak mau ketinggalan, jam tangan (yang lagi-lagi) pemberian bapak ini saya bawa kemana saya main, termasuk pas berenang di kolam. Sebagaimana pepatah kerbau jatuh di lubang yang sama, kali ini saya kembali kehilangan jam tangan karena lupa memakainya waktu memakai baju sehabis renang...
Jam tangan dengan backlight lumba-lumba tren 90an. Sumber : rakuten.com

Ah memang, sejak kecil saya memang pelupa. Hingga hari ini..

**
Hingga dewasa ini, saya termasuk orang yang suka membeli jam tangan. Bukan jam tangan mahal. Tetapi jam tangan KW yang dijual 50-100 ribuan baik itu di pusat pusat perbelanjaan kelas bawah, pasar malam, atau pasar tiban. Senang aja lihat-lihat dan murah, bela, beli, bela, beli. Biasanya jam tangan KW ini bertahan paling lama satu tahun. Kalaupun masih nyala warnanya biasa sudah pudar, atau tali jamnya pasti sudah rusak.
Jam tangan KW yang saya pakai saat ini. Warnanya sudah rusak padahal belum ada satu tahun

Terus terang, saya baru terpikir untuk membeli jam tangan original beberapa saat belakangan. Menurut teman saya yang dikantor, jam tangan bagus harganya diatas 500 ribu. Itu masih tergolong standart. Saya pun tercengang. Sebegitu mahalnya kah?

Tetapi ternyata benar, setelah saya googling dan mencari informasi kesana kemari, memang ada banyak alasan dibalik mahalnya jam tangan asli tersebut. Dan di usia saya yang mendekati kepala tiga, saya mulai berpikir tidak ada salahnya saya menginvest uang saya dalam jumlah lumayan untuk membeli jam tangan asli. Yaa untuk dipakai saat-saat tertentu saja. Kalau untuk harian dan apalagi saya yang pelupa ini, jam tangan KW cukup, lah. Takutnya nanti suatu saat dinas luar daerah dan mandi di kolam renang hotel, jamnya ketinggalan..

Hari begini, disaat semua serba online, saya iseng-iseng mencari toko jam tangan original online yang terpercaya, dan berjumpalah saya dengan situs Radatime. Situs yang paling rekomended untuk membeli jam tangan asli. Selain itu untuk lebih memanjakan pelanggan, pencari jam tangan original juga bisa mengakses gambar-gambar cantik jam tangan di instagramnya radatime. Mengapa radatime?

Pertama, jaminan mutu. Seperti apa yang sudah saya tulis diatas, bahwa jam tangan yang beredar banyak di pasaran saat ini sebagian besar adalah jam tangan KW. Masih untung menemui jam tangan KW dengan harga KW, dan masalahnya adalah banyak penjual curang dengan menjual jam tangan dengan harga asli padahal produknya KW. Bagi yang tidak jeli, jam tangan asli dan KW super ini biasanya terlihat sama, namun tenang, tetap ada cara untuk membedakan keduanya. Nah, di situs radatime ini, keaslian jam tangan yang dijual sudah terjamin. Maka jangan takut mendapat jam tangan palsu di radatime karena semua yang dijual di radatime adalah produk original.

Kedua, tampilan halamannya menarik dan navigasinya mudah. Pemilihan jam tangan menjadi lebih gampang untuk menyesuaikan model dan harganya. Sesuaikan dengan kepribadian kalian, formal, casual, sporty atau army look? Semua tersedia komplit. Nemu jam tangan yang cocok tapi pengen gambaran lebih orang yang sudah membeli? Gampang tinggal klik saja tombol testimoni maka akan tampil kesaksian orang-orang yang pernah membeli jam tersebut.

Ketiga, Nah ini bagi yang bingung milih jam tangannya karena semua bagus-bagus, jangan sungkan-sungkan untuk menuju bagian bawah pojok kanan untuk mengklik chat dengan Customer Service yang selalu siap memberi jawaban atas pertanyaan kalian. Silakan konsultasikan dengan ahlinya agar jam tangan yang kalian beli benar-benar sesuai dengan keinginan kalian.

Nah, jadi kalian yang ingin beli jam tangan original dalam waktu dekat ini, saya rekomendasikan segera meluncur ke radatime. Saya sendiri, jika uangnya sudah cukup pingin beli jam tangan Alexandre Christie untuk kegiatan-kegiatan formal di kantor dan kondangan, misalnya. Kalau kalian pingin jam yang mana?
Alexandre Christie sumber radatime.co.id


Read More..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...