Smash yang terdeteksi berada di Grabag Magelang pertengahan 2012. Dari kiri : Gubernur KTM, dan Saya. |
Intro :
Artikel ini sedianya saya kirim ke situs mojok.co di ulasan otomotif tapi karena belum rejekinya, maka saya posting saja di sini.
Dengan uang muka sebesar satu koma empat juta
rupiah kala itu, saya memboyong Sri ke rumah. Bukan memboyong sih, tetapi lebih
tepatnya Sri diantar hingga sampai ke rumah saya. Itu masih belum selesai. Per bulannya,
Sri minta dinafkahi sebesar empat ratus delapan ribu per bulan hingga empat
tahun lamanya.
Sri, panggilan sayang saya kepada sepeda
motor saya satu-satunya, New Smash SR (Street
Runner) lansiran tahun 2007. Awal memilikinya, karena saya saat itu sudah
bekerja dan merasa sudah punya jaminan gaji bulanan untuk membayar angsuran.
Tenornya yang paling panjang, empat tahun karena gaji saya bekerja saat itu
minim sekali. Beda dengan sekarang, sekarang gajinya banyak tapi utangnya juga
banyak.
Sebagaimana kebiasaan yang berlaku kala itu,
maka sehari setelah diantar, spion Sri langsung saya lepas sebelah. Tinggal
yang kanan saja. Lha saat itu kalau dua spion terpasang semua – apalagi spion
standart, sering jadi bahan olok-olokan, je.
“Spione
ndonga..”. (spionnya berdoa)
Memang, saat jaman jahiliyah tersebut masih
sempat tren menggunakan spion sebelah dan helm ciduk. Kalau sekarang
berani-beraninya pakai helm ciduk ya sudah pasti tercyduk polisi lalu lintas.
Kini sudah sepuluh tahun lamanya saya
memiliki Sri. STNK nya sudah pernah ganti dua kali, begitu juga platnya. Malah
sekarang Sri saya hibahkan kepada emak saya karena saya sudah ganti alamat. Ya
secara formal yuridis BPKB dan STNK nya sudah atas nama emak saya, tetapi
secara kepenunggangan, tetap saya yang boleh menunggangi dan meraba raba Sri. Cukup
beralasan memang, karena saya sengaja menghindari biaya mutasi keluar daerah. Lumayan
je Rp. 150,000,- kalau buat nraktir teman sekantor ke warung padang, sudah
turah. Apalagi sekantor saya cuma ber delapan. Kalau seporsinya dipukul rata
lima belas ribu, saya dan pak Lurah masing-masing bisa nambah seporsi lagi.
Jadi pas, bakbuk.
Sepanjang sepuluh tahun lamanya tersebut ada
saja kejadian-kejadian yang membekas di kantong. Ya namanya juga motor perjuangan,
ia selalu saya ajak berjibaku membelah ganasnya jalan raya. Terlebih lagi,
pekerjaan saya kala itu mengharuskan saya mondar-mandir mengantar istri orang,
eh maksud saya mengantar pesanan, baik itu berupa mesin-mesin kantor hingga
alat kesehatan. Tak pelak, seringkali Sri saya beri krombong. Kerja keras yang
membutuhkan kemaluan yang kecil.
Sepanjang satu dekade tersebut, sudah banyak
bagian motor saya yang mrotholi. Mulai
dari tebeng yang pecah dua kali. Yang pertama dijatuhkan oleh teman kantor saya,
untung ia mau bertanggungjawab menyepetkan. Yang kedua karena saya jatuhkan
sendiri. Yang kedua ini, saya ingkar dari tanggungjawab sehingga sampai
sekarang salah satu bagian tebeng depan pecah.
Suatu hari di tahun ke dua saya memiliki Sri,
ia lupa tidak saya pijatkan. Lupa tidak servis dan ganti olie. Waktu itu saya
perjalanan PP dari Magelang ke Purbalingga via Kebumen. Sepanjang jalan
terdengar bunyi klitak klitik dan asap putih mengebul dari knalpot. Ternyata
ring sehernya jebol. Noken as-nya juga rusak dan harus ganti. Untuk ukuran saya
waktu itu, menyembuhkan luka Sri ini sangat-sangat menguras kantong.
Di waktu yang lain, lampu bohlam saya sering
sekali mati. Masih mending kalau seminggu mati sekali. Lha ini dalam sehari
biasa saya ganti bohlam dua kali, je. Kalau kata Gus Mul, bodhol bakule slondhok! Setelah dianalisis (semakin di anal semakin
isis), maka ketemulah penyebabnya bahwa kiprok saya sudah saatnya ganti. Untuk
mengetahui posisi kiprok ini pun harus diurut-urutkan karena kiprok adalah
salah satu part yang jarang ganti dan posisinya jarang diketahui orang awam.
Ternyata permasalahan belum selesai. Waktu
kejadian yang terjadi pada medio 2011 itu, tatkala Sri tiba-tiba mogok dan
tidak bisa mengantar saya bekerja. Saya pun mampir di sebuah bengkel terdekat
dari tempat saya mogok. Sebuah bengkel kecil yang mekaniknya hanya satu. Ya
yang punya bengkel tersebut. Uprak uprek
dari jam tujuh pagi hingga jam sepuluh, permasalahan masih belum diketahui. Sri
tidak bisa dinyalakan.
Mendekati pukul sebelas siang, barulah
mekanik yang kelihatannya masih amatir tersebut menyimpulkan bahwa sumber
derita Sri berasal dari CDI yang telah rusak. Posisinya berada dibawah jok
depan sebelah kanan. Akhirnya saat itu CDI nya saya ganti yang KW. Kalau yang
asli harganya 300 ribuan, sedangkan yang saya pasang cukup merogoh kocek
seperempatnya saja. Ha tapi waktu yang terbuang sia sia selama empat jam itu,
hingga kini tidak bisa kembali, je. Hasyaah..
Bukan Sri namanya kalau tidak rewel, ia sudah
saya mainkan dengan kasar. Jadi maklum saja kalau dia butuh perawatan ekstra. Berawal
dari bunyi srang-sring srang-sring saat
mengerem roda depan, ternyata ring cakram saya sudah tipis. Hampir habis. Mbuh
kok bisa kayak gitu. Paling saya yang memang kurang perhatian sama dia karena
saya lebih perhatian ke pacar saya saat itu. Akhirnya, dengan berat kantong,
saya terpaksa mengganti cakram rem depan tersebut dengan yang asli dan harga
yang tentu lumayan.
Akhir tahun 2012, Sri saya ajak dolan-dolan
lintas propinsi, dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, lalu kembali ke Jawa Tengah.
Tampak di odometernya bahwa Sri pada tahun kelima telah mencapai perjalanan
sejauh 100,000 kilometer. Jika panjang jalan Daendels dari Anyer ke Panarukan
itu 1000 Km, maka Sri sudah bolak-balik lima puluh kali. Sudah sangat lelah
dia.
Pergantian spare part terakhir yang nggelani adalah saat saya terpaksa mengganti
bathok kepala Sri. Waktu itu, bathoknya sudah retak-retak dan jelek karena
pernah saya beri stiker besar logo Suzuki. Pinginnya, saya belikan baru biar
tampak fresh dan original. Eh lagi-lagi karena urusan kantong, ditambah Sri yang
telah tua, menjadi kurang bijak rasanya kalau spare partnya saya paksa belikan
yang asli-asli, dan akhirnya saya belikan batok kepala KW. Belum genap satu
tahun batok kepala itu sudah pecah bagian pengaitnya, pun demikian pada bagian fitting lampu. Sudah mleyok sehingga jika malam tiba, sorot lampu bukannya mengarah ke
jalan tetapi malah mengarah ke rimbunan mangga milik tetangga.
“ha
lak lumayan, iso ge nyenteri pelem nek mbengi”
kata Romin, teman saya.
Semenjak membeli Sri hingga kini, boleh
dibilang Sri adalah motor yang suka gonta-ganti spare part. Jika saya
ingat-ingat dan rekapan dari uraian diatas, Sri pernah ganti : ring seher,
kiprok, CDI, noken as, shock breaker, batok kepala, cakram, master rem cakram,
set blok ignition, saklar lampu jauh dekat, saklar lampu sein, dan part-part fast moving lainnya.
Kini setelah sepuluh tahun berlalu, Sri tetap
ada di tengah-tengah keluarga kecil saya. Motor pertama sekaligus satu-satunya
itu sayang kalau dijual. Selain banyak kenangan, saya juga belum memiliki nyali
(baca : uang) yang cukup untuk membeli motor baru yang saya idamkan, yaitu
Nmax. Ah mungkin memang sudah takdirnya saya dan Sri harus selalu bersama..
No comments:
Post a Comment