Wednesday, September 17, 2014

Deretan Stasiun Stasiun Tua Sepanjang Rute KA Kalijaga


KA Kalijaga, source : http://id.wikipedia.org/wiki/Kereta_api_Kalijaga

Kami mulai gelisah saat bis yang kami tunggu di belakang Pegadaian Ungaran pagi ini belum juga datang. Waktu kelihatannya mulai sangat mepet. Akhirnya, sebuah bis engkel datang dan dengan berdiri, saya dan Tika berhasil diantar ke Stasiun Poncol. Cukup dengan sepuluh ribu saja, pukul setengah sembilan pagi Minggu kemarin (14/9) kami berhasil sampai dengan selamat sentosa!
Ini pertama kalinya saya ke Stasiun Poncol, pun begitu dengan Tika. Setelah barang sesaat kami mengamati tingkah laku orang-orang dan membaca beberapa petunjuk, kami antre di loket penjualan tiket ‘hari ini’. Belum ada dua menit antri, kami dikagetkan dengan pengumuman dari speaker “Kereta Api Kalijaga tujuan Solo Purwosari lima menit lagi akan segera berangkat. Para penonton yang telah memiliki karcis,  penumpang yang masih berada diluar dimohon segera masuk” kira-kira seperti itu bunyinya. Saya pun segera menyodorkan dua KTP kami dan uang pecahan lima puluh ribuan. Tiketpun di proses dengan cepat.

Petugas ticket pass nampaknya sedikit santai. Mungkin muka saya tidak terlihat terburu-buru. Dia mengecap tiket kami dengan sedikit malas disertai obrolan dengan rekannya. Akhirnya, setelah sedikit berjalan cepat, kami masuk di rangkaian gerbong belakang Kereta Kalijaga yang bersiap berangkat di line dua. Akhirnya ;)

Deretan kursi dengan sandaran tegak berwarna hijau menyambut kami. Konfigurasi kursi gerbong ekonomi AC ini dua – tiga. Seperti referensi yang pernah saya baca di ulasannya mbak Azizah, okupansi kereta ini relatif sepi. Begitu juga gerbong pilihan kami. Hanya ada segelintir orang. Kalau saya tidak salah ingat, hanya kami berdua ditambah dengan 5 orang yang duduk terpisah. Lumayan, kaki bisa selonjoran :). Sirine keberangkatan dinyalakan, Kalijaga pun berjalan pelan menuju Stasiun Tawang yang merupakan pemberhentian pertama.
KA Kalijaga dilengkapi dengan colokan listrik. Lumayan untuk cadangan nyawa gadget masakini

Selanjutnya kereta berjalan di kawasan (maaf) kumuh Semarang Utara. Rel membelah tambak-tambak dengan selingan rumah-rumah yang tertata tidak rapi. Saya juga tidak sempat melihat Stasiun Alastua yang biasanya saya lihat dari flyover daerah Bangetayu. Beberapa penumpang tampak mulai mengeluarkan amunisi. Maksud saya, sekedar bekal snack ataupun minuman ringan. Ah, sayang sekali, tadi kami buru-buru sehingga tidak sempat membeli makanan.

Sepanjang jalur ini Kalijaga melewati Stasiun Brumbung yang merupakan percabangan ke arah Surabaya, dengan kecepatan sekitar 50 km perjam, perjalanan melintasi perkampungan di daerah Mranggen, Demak. Oiya, saya memilih untuk duduk mepet kaca sebelah kanan dengan harapan akan mudah melihat stasiun-stasiun yang menurut logika saya, akan banyak ditemui disisi kanan. Saat itu, kereta menembus kawasan Tanggungharjo. Saya tunggu dengan mata membelalak berharap segera melihat stasiun tertua di Indonesia itu, ya, Stasiun Tanggung. Tapi ternyata saya salah, Stasiunnya ada di kiri jalan dan saya tidak sempat melihat, memotret apalagi.
Sebegitu sepi gerbong yang kami tumpangi, sampai bisa dipakai tidur-tiduran :D

Lepas dari Tanggungharjo, pemandangan berangsur berubah, di kiri kanan nampak berhektar-hektar tanaman tembakau dengan selingan beberapa perkampungan kecil dengan gaya rumah yang masih khas hingga suasana berganti. Kini pemandangan berganti terlihat bukit-bukit gersang dengan rupa perkebunan jati. Bila dilihat, sebelah kiri rel terlihat lebih hijau daripada dikanan. Biasaaa… rumput tetangga memang terlihat lebih hijau.

Pemberitahuan menyapa kami sesaat sebelum mencapai Stasiun Kedungjati. Disini kereta akan berhenti untuk menurunkan atau menaikkan penumpang. Voila! Ini dia stasiun yang saya tunggu-tunggu untuk segera saya lihat. Saya berulangkali pindah duduk dari sisi kanan ke sisi kiri atau sebaliknya untuk memastikan stasiun ada di sebelah mana sehingga saya bisa mempersiapkan kamera untuk mengambil sudut yang paling baik.
Stasiun Kedungjati ini berada di kawasan hutan jati. Bila dilihat fasadnya, tampak mirip dengan Stasiun Ambarawa. Atap lengkung yang besar, ruang utama, dan beberapa ruang tunggu khas stasiun indische. Bila saya amati, ada dua emplasemen yang satunya berada di sisi selatan. Saya langsung menduga bahwa itu pasti lokasi rel percabangan menuju ke Ambarawa. “tidak salah lagi!” gumam saya di dalam hati dengan berapi-api.
Mirip kan dengan Stasiun Willem I a.k.a Ambarawa?

Ada satu stasiun bernama Padas yang dilewati oleh Kalijaga, hingga kemudian beberapa saat kemudian kami sampai di daerah Telawa. Pikiran saya masih membayangkan bahwa seharusnya kami sampai di Stasiun Juwangi terlebih dahulu. Eh ternyata setelah browsing-browsing, baru saya kemudian tahu bahwa Stasiunnya Juwangi ya Stasiun Telawa itu. Stasiun ini spesial menurut saya apalagi kondisinya cukup ramai. Berada di kawasan perkebunan jati, beberapa saat sebelum kereta berhenti, nampak pemandangan rumah-rumah bernuansa kolonial. Beruntung saya berhasil melihat satu bangunan ikonik. Sebuah bangunan gagah berwarna putih tulang dengan sedikit sentuhan warna hijau dengan dikelilingi oleh taman yang akhirnya saya ketahui bernama Loji Papak. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, gedung ini dahulunya digunakan sebagai kantor dan mungkin rumah dinas untuk mengelola hasil hutan oleh Pemerintah Belanda. Hingga hari ini bangunan itu masih sungguh mempesona.
Loji Papak
Stasiun Telawa
Kalijaga kemudian melanjutkan perjalanan dengan rute menuju arah timur. Saya kurang begitu paham ada berapa stasiun kecil yang dilewatkan hingga kemudian kereta kembali berhenti di Stasiun Gundih. Stasiun ini kelihatannya merupakan stasiun besar. Informasi yang saya himpun, stasiun ini juga merupakan stasiun percabangan dari Solo menuju arah Semarang atau Surabaya. Sebenarnya, ada gedung depo lokomotif yang hingga hari ini kondisinya tidak terawat.
Stasiun Gundih
Peron Stasiun Gundih
Sebuah bangunan tua di sekitar Stasiun Gundih
Akhirnya kami sampai di stasiun pemberhentian terakhir sebelum memasuki Kota Solo. Salem namanya, lokasinya dekat dengan perempatan Gemolong. 
Stasiun Salem
Untuk selanjutnya kereta berjalan cukup cepat melewati beberapa stasiun kecil dan hanya satu yang saya ingat, Stasiun Kalioso. Saya kemudian mengkonfirmasi rental motor yang akan menjemput saya di Stasiun Solo Balapan. Sebelum turun, kami berjalan ke gerbong paling depan supaya setibanya di Solo Balapan gerbong kami tepat di peron stasiun. Syukurlah, gerbong-gerbong depan tampaknya cukup ramai. Tentu ini menggembirakan. Setelah turun dan menginjakkan kaki, saya dadah-dadah ke Kalijaga yang sebentar lagi melanjutkan perjalanannya ke titik akhir Solo Purwosari. :)

Berdasarkan pantauan saya, kereta api ekonomi ini okupansinya tidak begitu menggembirakan. Berdasar beberapa sumber yang pernah saya baca, secara umum tidak lebih dari 40 % per harinya. Hanya melonjak saat liburan Lebaran. Itupun tak menolong. Bahkan berita terbaru yang saya baca, rute yang hanya sekali sehari pulang pergi dengan jam nanggung ini terancam dilikuidasi. Dalam hemat saya kiranya untuk penjadwalan mungkin bisa diatur lagi supaya tidak 'nanggung', sehingga bisa dijadikan alternatif penglaju Solo - Semarang.

Semoga KA Kalijaga bisa menjadi pilihan moda transportasi yang berkembang, minimal bisa dijadikan agenda wisata menikmati stasiun-stasiun tua di sepanjang rutenya.

KA Kalijaga, top!

Credits :
KA Kalijaga

Noerazhka - Mencoba Kalijaga


2 comments:

  1. Kalau dari Semarang duduk di sebelah kiri
    Mungkin selain stasiun tanggung Anda bisa melihat stasiun kecil seukuran stasiun jambu antra Ambarawa bedono yang kondisinya antik bin kumuh

    ReplyDelete
  2. @ Prima : Iya mas. Nggak lihat aku st tanggung :/

    Ambarawa Bedono? Stasiun Klurahan?

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...