Monday, November 25, 2013

Menyewa Satu Theater di Bioskop Studio Plasa Singosaren Solo


Setelah sekian lama vakum dalam mensurvey bioskop non 21, akhirnya saya bersemangat kembali setelah diingatkan mas Tony, salah satu teman saya tentang bioskop Studio di Plasa Singosaren, Solo. Ya, meski saya sempat berkoar koar sudah mengunjungi semua bioskop non 21 se Jateng, saya lupa kalau ada satu yang ketinggalan.

Saya memang beberapa kali lewat depan pusat hape nya Solo tersebut. Bahkan pernah lewat sendiri juga dan sempat kepikiran untuk mampir. Tapi karena waktu yang tidak mendukung, jadwal tersebut selalu terulur ulur. Ditambah lagi, saya selalu berfikir bahwa bioskop tersebut pasti masih akan bertahan lama, jadi saya bakal bisa kesana kapan kapan. Rupanya perkiraan saya meleset setelah mendengar kalau bioskop dengan 3 layar tersebut kini sepi pengunjung. Klak klik googling, semakin khawatirlah saya karena menjumpai banyak referensi bahwa pusat perbelanjaan tersebut akan tutup kontrak pada Desember 2013. Setelah googling kesana kemari dan beberapa kali salah sambung, akhirnya saya menemukan nomer telepon kantor bioskop tersebut. Jawaban dari seberang sana membuat saya lega “masih buka”

Yup! Mumpung Tika sedang di Ungaran, akhirnya saya ajak sekalian ke Solo naik bus. Apalagi kalau bukan Royal Safari. Bis favoritnya Tika. Hehehe. Sesampainya di Kerten, kami sambung naik Damri AC. Bayar 7000 saja berdua dan turun pas di depan Plasa Singosaren. Betul sekali kata Tony, papan info filmnya kosong, tidak ada informasi film. Kamipun langsung masuk dan bergegas ke lantai III.
Papan Informasi Film
Pintu masuk bioskop
Suasana lobi bioskop ini masih cukup bagus. Yaa, hampir mirip lobi Citra 21 Semarang. Bedanya, penjual pop corn khas bioskop tidak ada. Etalase snack pun hanya terisi beberapa tanpa penjaga. Soal film, jangan ditanya. Setelah Solo membuka Solo Square XXI, jadwal film yang dulunya cukup update dan tayang di harian Suara Merdeka, kini menjadi sama sekali tidak update. Dan jadwal filmnya pun sudah tidak lagi tampil di koran Jawa Tengah itu.
Lobi

Kami pun langsung menghampiri loket yang bertuliskan Rp. 20,000 . Murah bener ya untuk hari Sabtu ini. Kami disambut oleh bapak bapak berkacamata.
Ticketing

“pak, filmnya itu ya?” tanya saya sembari melihat tiga poster film yang ada di belakangnya.
“iya mas. Mau nonton yang mana?”
“sekarang yang lagi main apa?”
“ini nih. Tapi nanti main semua kok”
“hm… nonton yang mana ya? Sembarang deh pak, kami hanya mau nyobain aja kok”
“ini aja. Splinter. Kalian nunggu sebentar lagi film dimulai”
“oke deh, saya beli dua tiket”
Bapak itu pun menyobek dua karcis manual berwarna pink. Tempat duduk tidak usah memilih. Nanti memilih sendiri pas di dalem theater.
“pak, saya boleh motret motret?”
“mau buat apa?”
“mau buat artikel pak”
“oke silahkan..”
Karcis

Dua karcis pun sudah ditangan, kami langsung menghampiri seorang mas mas penjaga tiket. Penjaganya duduk di sebuah pintu besar tempat masuk ke Studio 1, 2, dan 3. Tidak di masing masing pintu. Studio 1 dan 2 ada di bawah sedangkan studio 3 harus naik satu tingkat. Toiletnya meski model kuno, tapi tetep masih bersih.

Yes, kami langsung saja membuka tirai merah masuk ke Studio 1. Dan apa yang terjadi sodara sodara? Tidak ada satu orangpun yang sudah duduk menunggu film mulai. Hanya kami berdua. Yaa kami berdua. Bahkan sejak dilobi hingga ruang tunggu masuk theater, kami juga tidak menjumpai orang selain kami. Miris…

10 menit berlalu, masih saja kami hanya berdua di dalam sebuah ruangan dengan tempat duduk warna merah kira kira berjumlah 120. Modelnya sama sih seperti di Studio 21. Tapi konfigurasinya jalan masuknya di kiri kanan. Tidak di tengah. Pendingin udara sepertinya tidak bekerja. Kami cukup kepanasan juga di dalem. Ukuran layarnya juga sama dengan di 21. 5 menit kemudian, kami benar benar telah merasa menyewa satu ruang studio untuk kami tonton berdua. Saya tidak begitu kaget sih karena berdasarkan salah satu referensi di blog, saya bahkan pernah menjumpai seseorang yang menonton sendiri di dalam satu Studio disini.

Film dimulai. Saya toleh ke belakang, dua orang sedang mempersiapkan roll film pada proyektor tua. Maklum, proyektornya belum digital sehingga gambarnya juga tidak jernih. Sepanjang pemutaran, terdengar bunyi proyektornya “krtk krtk krtk…” tapi sound nya memang cukup bagus sih.
Layar

Di dalem studio, saya cek www.imdb.com dan ternyata film Splinter ini rilis tahun 2009. OmaiGad! Kami hanya bisa menikmati film horror ini dengan lapang dada karena kami sama sama belum pernah menonton. Filmnya sih sederhana saja. Yaitu terjebaknya tiga orang di sebuah mini market dan diluar telah hadir monster paku yang sanggup menginfeksi orang orang yang terkena darahnya.
Deretan kursi merah

Belum sampai selesai kami nonton, kira kira 45 menit kemudian kami keluar melalui pintu masuk yang sama. Begitu keluar Studio, kami jumpai seorang bapak yang saya rasa adalah salah satu proyeksionis yang mengetahui kami nonton di Studio 1. Dia bertanya kami mau kemana? Saya jawab saja mau keluar pak. Sudah cukup.
Ruang tunggu masuk studio

Ahh.. akhirnya… Studio 1,2,3 yang dahulu merupakan bioskop hebat ini kini hanya bisa bertahan seadanya. Mungkin karena persaingan dengan raksasa bioskop grup 21. Ditambah lagi, tidak lama lagi, Platinum Cineplex juga bakal hadir di Hartono Mall, dan XXI juga akan membuka layarnya di Solo Paragon. Keberadaan bioskop yang dikelola oleh Studio Theatre, CV ini sepertinya akan sangat terpinggirkan.

Credit :
Studio Theater, cv
Plasa Singosaren, Solo
Telp. (0271) 661467

16 comments:

  1. wah2, nek aku sido melu jadinya bertiga no sing nonton. hehe

    ReplyDelete
  2. Iya prihatin banget dengan nasib Studio yang kalah pamor dengan XXI dan kawan-kawannya di Solo. Baru sadar kalo Studio masih pakai karcis manual dari kertas hehehe...
    Fajar Theater, Solo Theater kalah pamor dengan Studio 123 di akhir tahun 90-an, kini Studio kalah pamor dengan XXI di tahun 2000-an, yah cuma bisa berkata roda memang berputar :-)

    ReplyDelete
  3. Bulan Maret lalu saat ada acara di Solo, saya menyempatkan nonton di Studio sebelum pulang. Kondisinya seperti yang dideskripsikan, meski saat itu masih sedikit lebih ramai karena hari Minggu. Saya nonton di Studio 2 dengan film Contamination dan lokasinya ada di atas, bukan di bawah :) Untuk studio atas ini, berbeda dengan yang bawah. Pintunya ada di tengah dan penataan kursinya seperti 21 lawas (tidak begitu jelas, tapi sepertinya untuk baris depan agak mirip dengan The Premiere yang 2-4 kursi). Gambar dan sound tak bisa diharapkan, tapi saat itu, AC lumayan dingin dan kursinya... empuk sekali. Lebih empuk dari bioskop termahal di Semarang / Solo. Ini yang mengejutkan sekaligus berkesan,

    Dari segi kualitas (untuk ukuran bioskop yang sudah megap-megap), ini masih terbilang bagus. Masih berharap ada keajaiban sehingga Studio tidak mengikuti jejak Solo dan Fajar :)

    ReplyDelete
  4. @ Rizan : Heheh.. iyo mas, mayan kan go rame rame :D

    @ Halim : Betul sekali mas. Memang ya, usaha itu juga ada pasang surutnya. Begitu juga bioskop. :') terimakasih telah berkunjung

    @ Cinetariz : Wah, beruntung sekali anda waktu itu nonton di studio yang diatas. Kalau saya baca ulasannnya kelihatannya lebih menarik ya...
    Ya.. seperti komentar mas Halim. Roda memang selalu berputar. Kita tunggu saja kelanjutannya :)

    ReplyDelete
  5. wah akhirnya mas hamid ngunjungin studio 123 solo ya? dulu saya sering nonton disitu .Sebelum ada solo square XXI , dulu Studio 123 rame masih muter film Indonesia dan luar yg lumayan update , tapi sekarang udah ga update dan sekarang solo paragon XXI juga sudah dibuka lengkap dengan the premiere . berharap bioskop Studio bisa berbenah dan jangan sampai tutup seperti bioskop fajar dan solo theater

    ReplyDelete
  6. @ Tokyo : Heheee. Iya akhirnya kesana juga kan. Kemarin saya direkomendasikan juga waktu pembukaan Paragon XXI . Tapi saya pas males datang :D

    Thanks kunjungannya

    ReplyDelete
  7. dik hamid, ternyata bioskop favorit saya tahun 1986 - 1989 masih ada ya..., favorit.., karena setiap ada film baru saya pasti nonton disana. Dari foto diatas, sama sekali tidak ada perubahan interior. Saya sendiri sudah lama tidak ke solo, jadi gak tau juga apakan bioskop di dalam taman sriwedari masih ada apa gak?......terima kasih artikelnya,..

    ReplyDelete
  8. @Rud Setia : Wah, saya 89 baru lahir mas. :D Kalau begitu sebenernya bioskop ini legendaris dan awet banget ya. Kalau menurut pantauan saya, bioskop non 21 di Solo yang masih ada tinggal Studio Singosaren saja. yg lain sdh tidak ada..

    terimakasih telah berkunjung ya :)

    ReplyDelete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. Bioskop Studio Singosaren sepertinya sekarang sudah tutup.

    Meskipun iklannya masih terpampang di koran2 lokal setiap Senin-Sabtu, tapi masa filmnya belum pernah ganti sejak masnya posting post ini. (Sampai 28 Maret 2014, bisa di cek di Koran Joglosemar)

    ReplyDelete
  11. @Rich : Betul mas. Informasinya kontrak hanya sampai Desember 2013 dan tidak diperpanjang karena tidak memnugkinkan..

    Anyway terimakasih sudah berkunjung :)

    ReplyDelete
  12. Kesasar ke blog ini.
    Niatnya ingin masuk & nonton di bioskopnya, lha kok malah mengenaskan sekali nasibnya. Kenapa tidak ikutan ganti ke 21 saja ya seperti contohnya Bioskop Mandala di Malang.
    Riha - Solo

    ReplyDelete
  13. @Riha :

    Jadi nonton tidak? Persaingan bioskop di Solo sudah terlalu sesak, ada 1 21, 3 XXI dan 1 Platinum. Untuk ukuran Solo, sudah over. Mungkin itu yang jadi pertimbangan. :D

    Terimakasih kunjungannya

    ReplyDelete
  14. sekarang bioskop studio sudah tutup mas . awal maret 2014 kalau gasalah gitu mas .jadi udah setahun tutup

    ReplyDelete
  15. @Plasidius : Wah.. iya beberapa waktu kemarin denger kalau sudah tutup... Untung saya udah nyoba :D hehe.. makasih ya

    ReplyDelete
  16. dkt rmh ane ni mas. dan sekarang udh nyusul ura Patria, fajar theater sm solo theater. Tinggal kenangan... .

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...