Tuesday, March 27, 2018

Pengalaman Bawa Motuba ke Dieng



Sudah beberapa waktu lalu ibu saya minta diantar ke Dieng. Ya maklum saja, sebab tiap hari ia selalu disibukkan dengan pekerjaannya, menyiapkan masakan untuk santri di Pondok Pabelan. Sehingga sangat jarang ia punya waktu senggang, boro-boro untuk berwisata. Untuk istirahat saja sudah sangat beruntung.

Awal tahun ini suasana memang cenderung kurang bersahabat. Cuaca sepertinya belum begitu mendukung untuk pergi ke Dieng. Akhirnya, ibu saya janjikan untuk berangkat akhir Maret. Di dalam hati saya, rasanya inilah salah satu cara untuk membahagiakannya. Sudah tujuh tahun ini saya hidup dirantau. Dan sejak menikah, kesempatan saya untuk pulang bertemu dengan ibuk menjadi sedikit lebih jarang. Untuk itu, saya merasa sangat bersemangat untuk menyambut keinginannya minta diantar ke Dieng.

Sebelumnya, saya berfikir untuk ke Dieng, paling tidak harus menginap satu malam. Karena perjalanan dari Muntilan cukup jauh. Namun, mengingat waktu saya ke Dieng lima tahun silam yang menyisakan kedinginan yang masih terasa sampai sekarang (halah), dan ditambah saya akan membawa balita, si Dayu, maka saya memutuskan untuk berwisata sehari saja alias one day trip.

Beberapa hari sebelumnya, mobil tua bangka (motuba) saya sudah saya persiapkan dengan saya servis dan ganti olie. Awalnya saya memang tidak yakin bahwa mobil ini akan gampang digunakan untuk menanjak karena usianya yang telah lanjut. Ditambah lagi skil menyetir saya yang pas-pasan. Namun setelah mendapatkan semangat dari teman kantor dan juga member di grup facebook motuba, saya jadi semangat dan yakin bahwa motuba saya akan bisa sampai atas dengan selamat.

Saya, Tika, Dayu, dan Ibuk berangkat dari rumah mendekati pukul setengah delapan pagi. Pukul delapan setelah menjemput budhe, kami berangakat dari Kota Magelang. Kurang beruntung, cuaca minggu kemarin tidak begitu cerah, cenderung hujan dan mendung.

**
Saya memutar setir menepikan mobil di dekat perbatasan Temanggung dan Wonosobo, di Kledung. Diluar hujan sehingga kami harus berlari-lari kecil dari parkiran menuju tempat istirahat. Saya memilih beristirahat di warung kopi Surya. Dulu, tidak jauh dari sini ada warung kopi bernama Sindoro Sumbing Coffee house and Trading, namun sejak ada pengembangan kawasan rest area Kledung, warung itu tutup entah kemana.

Menjelang siang yang gerimis, diiringi angin kencang menusuk tulang, kami menyambangi sebuah meja lesehan. Ada beberapa menu kopi dan saya memesan Sumbing Arabika. Sementara yang lain memesan minuman jahe-jahean untuk menghangatkan badan. Sebagai teman istirahat, dipilihlah mendoan kemul dan pisang goreng masing-masing satu porsi.


**
Saya kira, saya terlalu siang berangkatnya, sehingga mendekati pukul sepuluh ini kami masih berada di Kledung. Lepas menyeruput kopi, saya melanjutkan perjalanan dengan menuruni turunan Kertek sepanjang 9 kilometer. Saya jadi teringat bahwa beberapa tahun silam jalur ini adalah jalur saya nyales alkes. Hehehe..

Kota Wonosobo yang dingin menyambut kami dengan gerimis. Setelah berputar-putar mengikuti jalur ke Dieng, kami pun menanjak. Saya ingat bahwa dari Wonosobo Kota ke Dieng masih ada sekitar 30 kilometer yang medannya berupa tanjakan panjang nan berliku. Seperti liriknya Rang PaladangPadang Panjang ka Bukiktinggi, jalan mandata kelok mandaki, jikok sanak marasa banci, tamui ambo ka Bandaguci, jikok sanak marasa banci, duduak baselo baok mangopi.. “  aseeekk.. Entah kenapa, anak perempuan saya yang berusia 2,5 tahun itu malah seneng lagu itu.


“Bapak nyanyi urang paladang, dong..” ujarnya selama di perjalanan.

Ditengah cuaca yang kurang bagus, mental saya diuji. Saya harus menanjak melalui jalan yang tidak megitu lebar, ditengah gerimis, dengan mobil tua seadanya, mengangkut empat nyawa. Ini adalah ujian nyata bagi sopir debutan seperti saya.

Beberapa kali ada ketersendatan setiap melewati keramaian seperti Pasar Garung, dalam tanjakan, skill setengah kopling haruslah sudah mahir. Apalagi, banyak angkot yang seringkali berhenti dibahu jalan. Harus sabar dan siap kaki pegal.

Ibuk saya berulangkali merapal doa tiap kali jalan berliku dan sangat menanjak. Berharap saya bisa menguasai kendaraan. Dan akhirnya kami pun sampai di Tieng. Kawasan di bawah Dieng. Disana, suasana juga masih gerimis. Ada beberapa jalur yang belum lama diperbaiki karena pernah longsor dan ditutup, beberapa waktu lalu.

Voilaa.. mendekati tengah hari, kami sampai di Dieng!


Syukur Alhamdulillah, ini adalah pencapaian saya yang terbagus dalam mengendarai motuba, sejauh ini. Sekaligus pembuktian bahwa Corolla saya yang usianya sudah 32 tahun masih sanggup melahap tanjakan panjang. (bukan iklan, lho..) hehehe.. Siang itu, Dieng tidak begitu memesona. Karena cuaca yang memang kurang bersahabat. Baru dua menit kami melajukan mobil, hujan turun dengan deras.

Akhirnya saya putuskan untuk menuju parkiran dekat Candi Gatotkaca. Disana, ada mushola dan toilet serta beberapa warung. Untung kami membawa payung. Saya sedikit cemas dan khawatir dengan anak saya. Dengan sedikit kecewa, setelah shalat saya mempersilakan ibuk dan budhe untuk berjalan-jalan sementara Saya dan Tika serta Dayu memutuskan untuk beristirahat saja mencari kehangatan.

“Beliin topi guguk.. “ Rengek Dayu melihat deretan topi hangat dengan karakter hewan yang dipajang di warung-warung. Saya dan Tika pun harus puas hanya berjalan-jalan di sekitar Museum Kailasa dengan payung dan menggendong Dayu yang kali ini sudah sedikit hangat berkat topi guguk barunya.


**
Makan siang di area wisata ini, terbilang menguras kantong. Untuk dua porsi soto, dan dua porsi mie instan rebus, dan dua teh gelas kecil, kami harus mengeluarkan lima puluh lima ribu rupiah. Harga yang jika di daerah bawah bisa dapat dua kali porsinya. Namun tak apalah.. Bukannya berwisata adalah salah satu cara untuk menghabiskan uang? Hehehe..

Dahulu, saya dan Tika jaman pacaran sudah cukup puas berkeliling Dieng. Kali ini, rencana awal saya adalah mengunjungi Candi Arjuna, Museum Kailasa, Kawah Sikidang, Dieng Plateau Theater, dan berakhir di Telaga Warna. Namun karena hujan yang benar-benar tak pernah reda, kami akhirnya memilih hanya mengunjungi Candi Arjuna dan Plateau Theatre saja. Itu saja, yang ke Candi Arjuna hanya ibuk dan budhe saja. Saya, memilih menghangatkan diri di mobil sambil makan jadah srundeng, bekal dari rumah.

Saya merasa sedikit bersalah karena tidak bisa menunjukkan tempat tempat menarik ke Ibuk. Tapi ia kelihatannya bisa mengerti. Bisa diajak jalan-jalan ke Dieng oleh anaknya saja ia sudah merasa sangat senang. Ibuk saya bahkan sampai nangis karena merasa merepotkan saya dan bilang sangat senang saya mau mengantarnya sampai Dieng. Masya Allah..

Sudah mendekati jam tiga sore, kami masuk ke Plateau Theatre. Disana, pemutaran film tentang sejarah Dieng. Selama film diputar, Dayu malah nyanyi-nyanyi. Ah... Bisa saja dek Dayu ini. Begitu pemutaran usai, kami memutuskan untuk pulang saja. Takut kemalaman.

Perjalanan pulang tak ubahnya seperti waktu menanjak tadi. Lebih repot malah, karena sepanjang turunan Dieng ke Wonosobo banyak kabut menghadang dan jarak pandang sangat terbatas. Ditambah lagi, hujan terasa semakin deras mengguyur. Saya pun bertahan lebih banyak menggunakan gigi 2 sebagai engine brake dan menurun pelan-pelan. 


Di daerah Kalianget, ada petunjuk jalur alternatif ke Magelang. Disana semacam jalan lingkar yang kami sempat curiga. 
Salah satu suasana Lingkar Utara Wonosobo, via stretview

Saya curiga karena belum pernah lewat dan jalannya cenderung menanjak dan secara administratif malah ikut Kecamatan Garung. Waktu itu, sudah masuk waktu shalat asar karena sudah pukul empat. Akhirnya kami beristirahat di sebuah masjid di daerah Bugel. 
Masjid di Bugel, tempat kami istirahat via streetview
Disana, pukul empat masjid baru adzan asar. Tampak banyak anak-anak berjaket mengantri untuk mengaji sore.  Setelah menggunakan cara lokal bertanya pada penduduk sekitar, saya yakin bahwa jalur ini adalah jalur yang benar untuk menghindari kepadatan kota Wonosobo.

Sampai Kota Magelang sudah pukul tujuh malam. Kami mampir ke RSUD Tidar untuk menengok tetangga yang tengah dirawat di sana. Mengobrol banyak dengan mbak Duprida Chaniago (ini benar nama tentangga saya), hingga lupa waktu. Pukul sembilan malam, kami mengisi perut sejenak di lesehan Hanafi Jaya Abadi yang spesial ayam bakar madu itu. dan mendekati pukul sepuluh, kami sampai di rumah. Alhamdulillahirabbil alamiiin..




1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...