Thursday, October 29, 2015

Dayu Anjani, Anak Pertama Kami


Prelude :
Akhir-akhir ini saya sedang sibuk. Pekerjaan menumpuk, bolak-balik lintas kota, dan juga sering malas ngetik. Sekarang ini saya hanya ingin bercerita tentang kelahiran anak kami yang pertama. Selamat membaca. 
 


#Jumat, 2 Oktober 2015
Jumat siang, saya meluncur dari Ungaran untuk menuju Ngawi. Sudah sekitar setengah bulan ini Tika berada di Ngawi bersama orang tuanya. Untuk persiapan melahirkan. Di usia kehamilannya yang sudah 9 bulan, ia memilih untuk dekat dengan orang tua. Maklum sih, disini hanya ada saya dan Tika. Jika sewaktu-waktu butuh pertolongan untuk melahirkan tentu repot. Apalagi, kami juga baru ini akan memiliki anak.

Sesampainya di Ngawi, Tika ternyata pulang dari periksa kehamilan di salah seorang dokter disana. Oleh si dokter X, Tika disarankan untuk segera periksa ke rumah sakit karena air ketubannya berkurang. Saya heran, karena selama ini setahu saya kehamilannya sehat-sehat saja. Dan lancar tentu saja.

#Sabtu, 3 Oktober 2015
Orang tua Tika memang sudah mempersiapkan kebutuhan untuk persalinannya jauh-jauh hari. Sudah di winrar atau di packing. Tinggal angkut saja. Sabtu pagi ini setelah mengepak barang-barang ke dalam panther, bapak, ibuk, Tika dan saya meluncur ke RS. Dr. Soeroto, Ngawi. Pagi itu, kami tidak bisa langsung dilayani. Harus menunggu agak siang karena kami pasien non reguler. Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya Tika diperiksa di poli kandungan. Benar saja, ia dinyatakan sehat. Kandungannya sehat, bayinya juga sehat.
RSUD dr. Soeroto, Ngawi.Credit : kampoengngawi.com

#Senin,4 Oktober 2015
Senin ini, berdasarkan rekomendasi dari dokter di rumah sakit, Tika harus kembali diperiksa. Tetapi karena terlalu pagi, begitu sampai di RS, kami masih harus menunggu. Ohya, kami menjadi pasien non reguler karena ingin menggunakan BPJS. Karena BPJS kami beralamat di Ungaran, maka Tika dianggap sebagai pasien darurat supaya tidak butuh rujukan dari alamat kami. Sembari membunuh waktu, kami memutuskan untuk makan bakso granat di Jl.A.Yani. Kemudian pulang. Tidak lama kami beristirahat dirumah karena sehabis dhuhur kami langsung berangkat lagi ke rumah sakit.

Begitu sampai, Tika langsung masuk ruang ponek. Entah apa maksudnya ruang tersebut. Tetapi hasi observasi kecil-kecilan saya, ruang itu merupakan ruang darurat ibu hamil. Duh, ternyata Tika langsung diinfus x_x. Padahal saya belum menyiapkan mental. Saya pun langsung berdoa tatkala pintu ruang ponek ditutup mbok misal Tika melahirkan disana. Saya pun cemas beberapa saat hingga akhirnya perawat mengijinkan saya masuk. Oalah ternyata Tika sedianya akan dipindah ke ruang isolasi yang berada di bangsal Wijayakusuma Lantai II. Tapi harus menuggu kursi roda yang datang beberapa saat kemudian. Saat itu Tika sudah memakai jarik dan saya membantu mendorong kursi rodanya.

Ruang isolasi itu berada di sebelah ruang persalinan. Sebuah kamar dengan dua bed dengan kamar mandi dalam dan AC. Praktis mulai saat itu Tika langsung diinfus dan saya harus menunggunya. Ealah, ternyata Tika langsung opname hari ini :(. Dalam hati, saya merasa keheranan. Karena sebenarnya Tika dan kandungannya sehat-sehat saja. Hari perkiraan lahir memang sudah mendekati, sih. Dan tidak ada indikasi Tika akan melahirkan dalam waktu dekat. Saya pun bingung. Tika juga. Beberapa perawat mengecek kondisi jantung bayi dan dinyatakan sehat dari waktu ke waktu. Sore itu saya menemani Tika hingga malam. Sore hingga pagi harinya kami ditemani oleh Mas Agus, Mbak Lia dan Ezzar.

#Selasa,6 Oktober 2015
Selasa pagi, saya terbangun dan setelah shalat subuh buru-buru mencari sarapan dan air panas di depan rumah sakit. Rasa-rasanya kami dibawakan berbagai snack, minuman, kopi, dan lain-lain. Tapi karena saya galau, saya nggak semangat untuk makan. Pagi itu, setelah pemeriksaan rutin, Tika dipindah ke ruang persalinan. Mungkin lebih tepatnya ruang persiapan persalinan dimana ada sekitar sepuluh orang ibu hamil terbaring disana. Ada yang sudah melahirkan, ada yang meraung-raung kesakitan, ada yang kesumukan. Kami termasuk yang terakhir karena memang sumuk.

Bidan perawat memberitahu saya bahwa hari itu Tika akan diberi obat pacu yang diistilahkan dengan induksi. Supaya lekas pembukaan. Sebenarnya saya tidak seratus persen setuju. Karena bisa saja kami menunggu hingga satu dua minggu ke depan karena memang HPLnya jatuh di hari ini. Tetapi mereka menggunakan rujukan indikasi dari dokter X yang sebenarnya tidak terbukti valid itu. Tetapi, jika menunggu persalinan normal, artinya kami tidak berhak menggunakan BPJS di Rumah Sakit. Karena BPJS persalinan normal hanya dilayani di bidan tingkat pertama atau rumah sakit. Itupun saya mesti mengurus rujukan ke Ungaran. Dan jika proses induksi, maka BPJS nya bisa langsung digunakan. Lagipula, kami sudah masuk melalui pintu darurat sehingga yang terbaik memang mengikuti saran bidan atau dokter disana.

Sepanjang jam 8 hingga jam 1 siang, Tika sudah diinduksi dua kali. Cairan tersebut dimasukkan melalui infus. Kelihatannya dia sangat kesakitan :(. Kabar buruknya, tidak ada perkembangan berarti. Hanya proses pembukaan satu saja. Akhirnya jam satu siang, berdasar kesepakatan Mbak Yan (bidan yang juga tetangga kami di Ngawi) dan Bapak juga saya, dan Tika tentunya, Tika akan dioperasi sesar. Kelihatannya itu yang terbaik. Karena sudah terlanjur diberikan obat pacu, kasihan si bayi jika tidak segera dikeluarkan.

Pukul dua siang, Tika sudah persiapan. Kebetulan dokter operasinya siap esuk pagi. Tetapi ada dokter jaga yang berpengalaman siap membantu. Kalau tidak salah namanya Charles. Akhirnya kami deg-degan. Tika dibawa ke ruang operasi dengan kursi roda. Mendekati pukul tiga sore Tika masuk ruangan dan saya menunggunya diluar ruang operasi. Karena saya kira akan lama, akhirnya saya tinggal shalat asar sekitar pukul tiga. Sepulang dari masjid, saya kembali ke ruang operasi dan dibilangi seseorang bahwa anak saya sudah lahir dan dibawa bapak ke ruang bayi. Saya pun cemas dan gembira. Saya segera berlari-lari kecil menuju ke ruang bayi. Benar saja, bapak mertua saya tampak sumringah dan menyodorkan foto bayi kami yang sedang menangis. ″sudah tak adzani″ kata bapak.
Dayu, beberapa menit setelah di lahirkan. Foto oleh Bapak

Saya pun langsung masuk ke ruang bayi dan dipersilakan mengurus administrasi pendaftaran bayi terlebih dahulu. Tidak lama kemudian, saya diberikan jaket hijau khusus untuk masuk ruang bayi yang berisi puluhan bayi itu. Bayi saya berada dibawah lampu kuning. Dia menangis.. Subhanallah, dia tampak cantik sekali. Perawat memperlihatkan kepada saya, bahwa bayi saya lahir tanpa kurang suatu apapun dan berjenis kelamin perempuan. Alhamdulillah.. Saya pun menitikkan air mata haru.

Saya tidak diperbolehkan lama-lama disana. Sekitar empat menit saja. Selanjutnya saya menunggu Tika di ruang operasi. Dia sudah dipindah di ruang pemulihan. Melalui celah di jendela, saya lihat dia terbaring lemas dengan pernafasan yang dibantu oksigen. Ketika saya panggil, ia hanya menoleh tanpa ekspresi. Ah, mungkin ia belum pulih seratus persen. Saya menunggui Tika disana bersama beberapa kerabat hingga pukul setengah sepuluh malam. Selama itu pula saya harus wira-wiri ke apotek dan laboratorium untuk pemeriksaan darah dan penggantian obat.

″keluarga ibu Sartika..″
Begitu suara perawat yang memberitahu saya bahwa Tika siap untuk dibawa ke ruang perawatan normal. Kebetulan beberapa ruang di Rumah Sakit sedang dalam perbaikan. Akhirnya kami mengajukan naik kelas ke kelas satu. Disana sebuah ruangan dengan dua bed pasien tersekat dengan tembok alumunium. Tika tampak masih lemas dan sedikit menahan sakit. Ia saya ceritain bahwa bayi kami sehat. Perempuan, nangis, dan ada rambutnya. Hehe.. Saya memberi tahu dia bahwa bayi sehat dan berada diruang bayi hingga satu dua hari ke depan. Sembari menunggu Tika pulih. Malam itu, Tika direkomendasikan untuk pelan-pelan belajar berbaring miring. Pada hari hari selanjutnya, Tika sudah harus bisa duduk, berjalan pelan, dan bisa pipis. Alhamdulillah proses-proses tersebut bisa dilalui dengan lancar.

#Rabu, 7 Oktober 2015
Sepanjang sore hingga malam dan seterusnya dari hari kelahiran bayi, kami dibantu Mak Nem. Ia yang standby untuk menyiapkan susu setiap dua jam sekali. Susu itu untuk diberikan kepada perawat bayi diruang bayi. Dan perawat lah yang akan menyuapi bayi-bayi itu dengan sendok kecil. Mak Nem juga membantu kami untuk mengurus bayi dari memandikan hingga memakaikan baju. Ohya, karena Tika melahirkan lewat sesar, ia tidak bisa melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Sehingga dalam dua hari pertama bayi kami lahir, ia diberikan susu formula. Agak kecewa sih, sebenarnya..

Hari itu, saya mengurus klaim BPJS untuk bayi kami. Meski BPJS kami beralamat di Ungaran, kami bisa mendaftarkan bayi kami ke kantor BPJS setempat. Syaratnya surat keterangan lahir dari rumah sakit ditambah dengan surat keterangan lahir dari desa atau kelurahan. (untuk yang satu ini Tika dianggap berdomisili di Ngawi sementara waktu). Selain itu tentu saja beberapa   fotokopi Askes atau BPJS, KTP, dan KK saya dan Tika. BPJS setempat mengeluarkan kartu BPJS sementara berlaku tiga bulan dan harus diperbarui sesuai dengan tempat tinggal kami. Berkas-berkas tersebut jika sudah siap tinggal dimasukkan ke administratornya di ruang bayi. Klaim tersebut berguna untuk menjamin biaya perawatan bayi kami selama di rumah sakit.

#Kamis, 8 Oktober 2015
Hari Kamis ini, saya masuk kantor karena ada beberapa kerjaan yang harus saya selesaikan. Pagi jam tiga saya berangkat dari Ngawi ke Ungaran, dan jam empat sore kemudian, saya langsung pulang ke Ngawi dan sampai sana jam sepuluh malam. Alhamdulillah, bayi kami sudah diperbolehkan berada diruangan bersama Tika. Dia dibedong warna hijau dan tampak tenang.
Dayu, keluar dari ruang bayi

Malam itu saya merasa lelah sekali. Beberapa saat setelah tidur, saya mendengar suara tangisan bayi. Dalam hati saya berkata, bayi siapaaa ini nangis malam-malam. Eh saya terperanjat kemudian baru nyadar jika itu suara bayi saya. Saya melihat mukanya sedikit kekuningan. Rupanya dia haus. Sebagai ayah pemula, saya masih bingung harus berbuat apa. Nggendong saja saya masih takut. Kemudian oleh Mak Nem si bayi dibuatkan susu dan diminumkan. Setelah itu, jika dia nangis lagi saya sudah sadar harus berbuat apa.      

#Jumat,9 Oktober 2015
Alhamdulillah. Hari ini Tika dan bayi boleh pulang dari rumah sakit. Tika juga tampak sehat ceria dengan gaun warna biru. Bayi kami juga sehat dan cantik. Karena waktu mengurus administrasi mepet dengan waktu jumatan, akhirnya kami tunda kepulangan kami setelah jumatan. Untuk informasi, saya hanya mengeluarkan delapan ratus ribu rupiah untuk biaya pindah kelas dari kelas II ke kelas I. Selain itu memang ada beberapa penggantian obat yang tidak terkover BPJS tetapi hanya sedikit saja. Mungkin jika ditotal sekitar seratus ribu. Disamping biaya-biaya tadi, hanya biaya pendukung fotokopi berkas-berkas, makan minum, dan lain-lain. Sebelum pulang, saya dan Tika juga diberikan penyuluhan singkat oleh bidan bagaimana cara mengurus ibu nifas dan bayi baru lahir. Bidan tersebut ternyata mengaku familier dengan saya. Saya pun begitu. Entah :D

Demikianlah cerita tentang kelahiran anak kami pertama yang kami beri nama Dayu Anjani Anwar. Semoga kamu sehat selalu ya, nak. We love you..
  
 
Read More..

Friday, September 11, 2015

Menguak Masa Lalu Ungaran

Peta Ungaran 1922 (kitlv.nl)

Berbicara tentang masa lalu Ungaran, memang sulit sekali untuk mencari referensi. Bahkan hingga di era seperti ini, saya yang berusaha mengulik informasi dari internet-pun merasa sangat kesulitan. Tulisan ini adalah tulisan kedua saya tentang Ungaran tempo dulu. Pada postingan yang saya buat 2011 lalu, belum banyak informasi valid yang bisa saya tuliskan, sehingga pada tulisan kali ini saya akan mengupas beberapa kisah menarik tentang masa lalu Ungaran.

Fort de Ontmoeting
Denah Fort de Ontmoeting (kitlv.nl)
Benteng ini sempat terbengkalai selama beberapa tahun. Tahun 2011 lalu saya berhasil memotretnya dan tidak lama kemudian benteng ini direnovasi dan sekarang menjadi sangat cantik. Sebagai salah satu ikon Kota Ungaran, benteng ini saat ini dimiliki oleh Kepolisian dan dijadikan sebagai Balai Pertemuan Polisi dan Masyarakat. Sempat terdengar ada kabar bahwa benteng akan dikembangkan menjadi museum dan hingga hari ini belum terdengar perkembangannya.

Alkisah pada 1746, Keraton Solo dipindah dari Kartasura ke Surakarta. Pada saat itu untuk memperlancar jalur militer antara Semarang – Surakarta maka dibangunlah beberapa pos militer Belanda. Selain di Boyolali dan Salatiga, maka di Ungaran pada 1786 dibangun sebuah benteng dengan nama Fort de Ontmoeting. Benteng ini dibangun untuk memperingati pertemuan antara Gubernur Jenderal van Imhoff dengan Pakubuwono II yang diadakan di Ungaran.
Benteng Oengaran 1933 - Tropenmuseum
Benteng Ungaran 2015

Benteng yang selanjutnya populer dengan nama Benteng Oengaran/Willem II ini turut mewarnai perkembangan sejarah sosial politik di Jawa. Pada 1811, benteng ini merupakan pertahanan terakhir tentara Belanda sebelum akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Inggris di Tuntang. Peristiwa itu disebut dengan Kapitulasi Tuntang dimana salah satunya berisi bahwa Belanda menyerahkan kekuasaan atas Nusantara ke tangan Inggris. Pada era Perang Jawa (Java Oorlog 1825-1830) benteng ini merupakan tempat penahanan Diponegoro setelah ditangkap dengan licik oleh Belanda di Magelang. Sang Pangeran diinapkan selama tiga hari baru kemudian diasingkan ke Makassar.

Pada era setelah kemerdekaan, Benteng ini digunakan juga sebagai asrama polisi hingga kemudian ditinggal dan tidak terawat. Beruntung pada sekitar Tahun 2012 lalu, pemerintah menggelontorkan uang untuk revitalisasi benteng. Benteng ini sekarang bisa menjadi jujugan wisata sejarah yang edukatif.

Kweekschool

Cerita berawal dari Tahun 2011 dimana sebuah bangunan yang sangat saya sukai terlihat terbengkelai. Bangunan itu biasa disebut orang dengan PHB. Lokasinya ada di Jl. Diponegoro depan SMA 1 Ungaran. Waktu itu, salah satu gedung dalam kompleks PHB ini digunakan oleh Pabrik Sidomuncul sebagai salah satu kantor. Tetapi, sekitar 1-2 tahun kemudian, PHB dan kompleksnya ini justru ditutup dengan pagar seng. Beberapa teman saya dikantor menjelaskan bahwa PHB tersebut dulunya merupakan asrama TNI. Dan sebelumnya lagi, digunakan oleh satuan Perhubungan (PHB) dan juga Satuan Musik Militer Kodam IV Diponegoro. Saya sendiri malah baru mudeng jika PHB berasal dari singkatan Perhubungan. Semenjak tahun 2007, para penghuni asrama tersebut dipindahkan ke asrama TNI di Watugong, Semarang. Sehingga bangunan tersebut terpaksa mangkrak.

                               

Bagian bangunan mulai rapuh, rusak ditelan waktu. Rumput-rumput mulai menjulur membuat bangunan pelan-pelan mulai hancur. Beruntung, tahun 2011 lalu saya sudah berhasil mengabadikan fotonya. Terhitung sejak tahun 2012-2013, gedung kantor Sidomuncul tersebut berhenti beroperasi dan keseluruhan kompleks ditutup dengan pagar seng! Sementara bangunan inti PHB mulai ditanami dengan pohon sengon. Nah, menurut informasi yang berkembang, lokasi tersebut telah diincar oleh investor yang akan membangun pusat ekonomi, ruko atau mall. Tetapi rencana investor tersebut terganjal oleh status Benda Cagar Budaya (BCB). Pemerintah Kabupaten Semarang sendiri tampaknya juga kesulitan mengurus  BCB tersebut karena status kepemilikan yang masih mengambang antara TNI atau Pemerintah.


Disatu sisi, terlihat upaya pembiaran baik oleh unsur TNI atau Pemerintah sebagai penguasa wilayah untuk membiarkan bangunan tersebut pelan-pelan rusak. Sehingga jika sudah rusak, maka penghapusan status BCB tersebut akan mudah lolos sehingga rencana investor membangun kawasan tersebut menjadi mudah.

Dua minggu yang lalu saya mampir ke PHB karena kebetulan bangunan tersebut terlihat bersih, dan pagar sengnya dibuka. Ternyata gedung tersebut kini digunakan sebagai pool Bus Rapid Trans (BRT). Saya kemudian disambut oleh dua orang penanggunjawab disana. Begitu memarkir motor dan masuk, ruangan utama nya sudah sangat rusak. Kerusakan yang ada dibagian plafon mencapai 90 persen. Sementara bangunan sayap pendukung di kiri-kanan, sudah dihancurkan. Di ruangan utama tersebut, salah seorang bapak tadi bercerita bahwa sudah sekitar satu bulan ini bangunan ditempati. Mengenai status kepemilikan tanah, justru jatuh ke perorangan dengan bukti Sertifikat Hak Milik (SHM). Pool BRT sendiri hanya mengantongi ijin pemakaian bangunan dari Bupati dan diketahui oleh pihak TNI.
                               


Dari berbagai sumber yang pernah saya gali, selalu saja menghasilkan jawaban bahwa bangunan PHB dahulu digunakan untuk asrama TNI, Kantor Satuan Perhubungan, dan Kantor Satuan Musik Militer. Selebihnya, belum ada yang tahu.
 
Bangunan yang selama ini dikenal dengan PHB tersebut menurut peta Tahun 1922, merupakan bangunan sekolah bernama Kweekschool. Melihat dari sisi penanggalan, sesuai dengan tulisan pada salah satu sisi bangunan, sekolah ini mulai beroperasi tahun 1910. Kweekschool berarti sekolah calon guru. Masih menurut peta tersebut, bangunan ini sebenarnya memiliki sayap kanan-kiri yang digunakan sebagai ruang kelas. Sebagaimana sekolah-sekolah di Indonesia pada masa kolonial, arsitekturnya mengadopsi arsitektur indisch dengan model simetris dan langgam eropa yang kuat. Pintu berada ditengah, dan ruang utama adalah sebagai kantor kepala sekolah.


Jika melihat keberadaan dua bangunan pendukung yang ada disekitaran kompleks, dapat diduga bahwa bangunan tersebut merupakan rumah tinggal bagi sang kepala sekolah. Sayangnya, saya belum berhasil menemukan foto lama dari bangunan tersebut. Tetapi, saya berhasil mengkomparasi foto lama dengan keterangan “de 1 klas van de Kweekschool te Oengaran” dengan bangunan yang kini berada tepat di depan SMA 1 Ungaran. Tidak jauh dari bangunan inti. 
de 1e Klas van de kweekschool en een echtpaar te Oengaran 1900an (Kitlv.nl)
Bekas kweekschool depan SMA 1 Ungaran
Dugaan sementara saya, bahwa kompleks Kweekschool ini memanjang mulai dari sebelah SPBU Diponegoro hingga sebelah Gereja Kristus Raja Ungaran. Sayangnya bangunan ini sekarang mangkrak dan tidak terawat sama sekali.

Bosopzichtersschool (B.O.S)
Bangunan ini sangat ikonik dan mewakili salah satu Bangunan Cagar Budaya yang terpelihara. Bangunan yang kini ditempati oleh SMP Negeri 1 Ungaran tersebut ternyata memiliki masa lalu yang sama-sama sebagai sekolah. Bosopzichterschool jika diartikan secara harfiah  berarti Bos : hutan, Opzichter : Pengawas. Sehingga sekolah ini adalah sekolah Calon Pengawas Kehutanan.  Sayangnya saya belum mendapat bukti yang valid tentang kapan dibangunnnya B.O.S ini. Tetapi jika menilai bentuknya, perkiraan saya tidak jauh dari akhir 1800 hingga awal 1900an. Menurut gambar pada peta tahun 1922,  B.O.S ini merupakan kompleks dari empat bangunan. Uraiannya adalah bangunan utama menghadap jalan raya, bangunan samping sayap kiri-kanan dan bangunan belakang. Bangunan ini menjadi salah satu BCB di Ungaran yang hingga kini fasadnya masih terlihat asli. Tidak banyak informasi yang bisa saya jadikan referensi tentang bangunan ini. Bahkan, saya kira banyak orang Ungaran yang tidak mengetahuinya. Namun, saya memiliki pandangan jika Ungaran saat itu (sekitar awal 1900) merupakan kota bagi daerah perkebunan disekitarnya. Tengoklah perkebunan karet di Ngobo atau Jatirunggo, belum lagi perkebunan Pala di Bandarredja (Bandarjo), juga perkebunan lain di daerah Kalisidi. Sekolah ini pada masanya, saya duga adalah untuk membentuk  calon-calon pengawas kehutanan (mungkin sekarang semacam polisi hutan) yang akan ditugaskan untuk mengawasi perkebunan-perkebunan di sekitar Ungaran. Masuk akal, kan? 
B.O.S Oengaran (Kitlv.nl)

  

Rumah-rumah sekitar B.O.S

Jika berjalan di sepanjang Jl. Diponegoro sekitar SMP dan SMA 1 Ungaran, maka akan tercecer banyak sekali rumah berarsitektur indisch. Bangunan rumah tinggal bercat putih dan biru disebelah utara SMP 1 Ungaran tersebut ternyata masih berkaitan dengan B.O.S. Melihat foto dari koleksi KITLV dibawah ini tercatat jelas bahwa bangunan tersebut merupakan bangunan rumah tinggal bagi Direktur Sekolah Calon Pengawas Hutan. Kedua rumah tersebut kondisi saat ini masih baik, namun pada rumah bercat putih sudah dipugar sebagian dengan menambah bangunan pendukung yang terlihat kurang selaras.
Woning van de directeur van de B.O.S (kitlv.nl)
 
Adapun bangunan bercat biru masih mempertahankan keasliannya. Hanya saja, pada bagian bangunan pendukung (pavilion) sudah dirubah atau ditambah (?) dengan bangunan baru dengan nuansa modern. Tidak cukup sampai situ, masih ada beberapa bangunan lain yang masih terlihat bagus disepanjang jalan hingga SMA 1 Ungaran. 

Sedangkan bangunan yang ada di lokasi SMA 1 Ungaran, menurut peta merupakan bangunan besar memanjang menghadap ke jalan. Sayang sekali, saya tidak tahu persis ada bangunan apa sebelum didirikan SMA 1 Ungaran tersebut. Tetapi, ada salah satu foto yang mungkin bisa diduga sebagai jawaban. Foto dibawah ini memiliki keterangan Opleidingschool Voor Inlandsche Ambtenaar – OSVIA (Sekolah Pamongpraja Untuk Pribumi). Sekali lagi, pada sepanjang Jl. Diponegoro ini menurut peta merupakan pusat dari keramaian kota Ungaran dan disebut dengan wilayah Poetatan. Sehingga bukan tidak mungkin, sekolah OSVIA tersebut memang berada di sekitar SMA 1 Ungaran. 
Opleidingschool van indlansche ambtenaar Oengaran (kitlv.nl)

Gedong Kuning

Satu lagi bangunan artistik dan besejarah di Ungaran yang membuat banyak orang penasaran adalah Gedong Kuning. Bangunan ini terletak di ruas Jl. Gatot Subroto tepatnya didepan asrama TNI Kebonpolo. Jika melihat papan informasi, maka bangunan tersebut adalah aset PT KAI. Tetapi apa hubungan KAI dengan Ungaran? Bukannya Ungaran tidak dilalui kereta api?



Hal aneh lain adalah penghuni rumah bercat kuning tersebut adalah para pensiunan tentara. Mungkin ini berkaitan dengan pembangunan asrama militer di Kebonpolo. Pada catatan saya terdahulu, rumah ini diperkirakan merupakan rumah pejabat elit kolonial. Adanya relief kepala singa dibeberapa sisinya memperlihatkan bahwa rumah ini sangat bergengsi pada masanya. Selain itu, juga dilengkapi beberapa balkon yang menghadap langsung ke panorama sekitarnya.

Saat ini kondisi rumah ini sangat memprihatinkan. Pada bagian mahkota bahkan hampir rubuh. Pada bagian lantai II, sudah lama sekali tidak ditinggali karena lapuk. Tetapi untuk lantai I, masih ada beberapa keluarga yang meninggali. Bau kotoran kelelawar menyeruak diseluruh ruangan. Menurut informasi yang saya gali, bangunan ini terjadi sengketa kepemilikan antara pihak KAI dan TNI sehingga upaya pelestariannya selalu terganjal. Padahal bangunan ini selain memiliki nilai artistik yang tinggi juga sempat digunakan sebagai markas pejuang kemerdekaan.

Saya sendiri hingga hari ini belum mendapat bukti sejarah yang jelas tentang rumah ini. Bahkan foto lawas pun saya belum berhasil menemukan. Tetapi, sedikit yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan kemungkinan adalah ; pertama rumah ini adalah rumah tinggal untuk pejabat yang berdinas di Kota Semarang. Ungaran sebagai kota yang sejuk membuat penghuninya merasa nyaman dan damai. Sehingga dibangunlah sebuah villa disitu. Yang kedua, adalah kemungkinan rumah ini berhubungan dengan Kebonpolo (Kebun Pala). Bisa jadi, rumah itu sengaja dibangun untuk kepala kantor untuk mengawasi para pekerja perkebunan. Nah, balkon sengaja dibuat salah satunya menghadap ke arah Kebon Polo sehingga sang kepala dapat langsung mengontrol kegiatan di perkebunannya. Bagaimana?



Ayo, save heritage and history van Oengaran!  

Gambar lainnya

Sebelah SMA 1 Ungaran (sering dipakai untuk tempat parkir motor)


Dekat dengan SMA 1 Ungaran


Gedung belakang Polsekta Ungaran. Menurut peta tahun 1922, bangunan ini berfungsi sebagai hotel



Bagian dalam gedung kweekschool (depan SMA 1 Ungaran). Saat ini digunakan oleh pengusaha sebagai gudang Palawija.

Jl. Diponegoro tahun 1900an. Terlihat rumah direktur B.O.S dan sekolah B.O.S di kejauhan (kitlv.nl)

Bagian dari kweekschool (sebelah SPBU)

Read More..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...