Tuesday, January 3, 2012

BENTENG PENDEM AMBARAWA (FORT WILLEM I AMBARAWA)

Fort Willem I - 1927 sumber






Selayang pandang :
Ambarawa merupakan salah satu kota kecamatan yang ada di Kabupaten Semarang. Selain dikenal dengan kemacetannya, kota ini juga dikenal karena memiliki sejarah yang cukup signifikan di Jawa Tengah.
Pada tahun 1840an ketika VOC berkuasa di Jawa Tengah, Ambarawa merupakan titik sumbu strategis antara Semarang dan Surakarta. Pada awal abad 18, VOC membangun benteng benteng di sepanjang jalur Semarang – Oenarang (sekarang Ungaran) – Salatiga – Surakarta (Solo). Rancangan ini dimaksudkan untuk pengembangan hubungan dengan Kerajaan Mataram. Kamp kamp militer juga dibangun di kota kota yang dilalui, tak terkecuali Ambarawa.
King Willem I sumber
Pada masa kekuasaan Kolonel Hoorn, tahun 1827-1830, sempat ada barak militer dan penyimpanan logistik militer, dan pada tahun 1834 dibangunlah sebuah benteng modern di Ambarawa yang kemudian diberi nama Benteng Willem I yang pembangunannya berakhir pada tahun 1845. 
Fort Willem I - 1927 sumber

Tidak banyak yang bisa digali tentang sejarah dari Benteng Willem I ini, dan beberapa sumber mengatakan bahwa benteng ini adalah barak militer KNIL yang terhubung ke Magelang/ Jogja dan Semarang via kereta api.
Pada umumnya benteng dibangun dengan prinsip defensif dan kuat yang dimaksudkan untuk pertahanan dari serangan musuh. Sering dijumpai pula dibangun parit mengelilingi benteng untuk memaksimalkan pertahanan.
Namun Benteng Willem I ini ternyata memiliki desain yang berbeda. Dengan banyak jendela, pastinya benteng ini bukan di desain untuk pertahanan. Kemungkinan adalah untuk barak militer dan penyimpanan logistik militer. Di benteng ini juga tidak dilengkapi bangunan sebagai tameng. Dan tidak ada bekas bekas lobang di puncak puncak dinding seperti halnya pada benteng benteng peninggalan Portugis yang dirancang untuk memasang meriam.
Karena keterbatasan informasi mengenai benteng ini, sementara ini yang saya ketahui adalah dari pembangunan 1853  sampai tahun 1927 digunakan sebagai barak militer KNIL. 
Pelatihan parade tentara di Benteng Willem I sumber

Beberapa catatan yang berhasil saya dapatkan adalah sebagai berikut :
1865 : Terjadi gempa bumi besar yang mengakibatkan beberapa bagian bangunan benteng hancur.
1927 : Benteng Willem I disesuaikan dari penjara tawanan anak anak menjadi penjara tahanan politik dan tahanan dewasa
1942 – 1945  : Dikuasai Jepang dan dipergunakan sebagai kamp militer
1945 : Markas besar TKR (Tentara Keamanan Rakyat) 14 Oktober – 23 November 1945
Fort Willem I - 1947 sumber

1950 : Sebagai penjara dewasa dan barak militer
1985 : Sebagai penjara anak anak dan barak militer
1991 : Sebagai Penjara kelas IIB dan barak militer
2003 – sekarang : Lapas Kelas II A dan barak militer


Fort Willem I - Google Map sumber
 
Dengan sejarah yang masih mengambang tadi, saya sampai beberapa waktu lalu terus terang masih belum tahu tentang keberadaan benteng ini. Setelah klak klik di internet, barulah saya tahu akan ke indahan dan ke eksotisan bangunan ini. Tidak banyak memang ulasan ulasan mengenai benteng ini karena sekarang letaknya berada di kawasan militer Batalyon Kavaleri 2 Ambarawa.
Berawal dari penasaran yang menggebu gebu, akhirnya saya dan pacar saya Rina, dan dua teman yang berhasil kami “culik” yaitu Izul dan Heni, pada kamis sore tepatnya tanggal 15 Desember 2011, kami berempat bersepakat untuk meninjau secara langsung benteng ini.
Berangkat dari Ungaran sekitar pukul 15.00, kami sempat bingung untuk memasuki kawasan ini. Di sebelah RSUD Ambarawa ada semacam tugu selamat datang di BENTENG.
Gapura ke Beteng (versi ke belakang benteng)
Dan kami masuk melewati tempat itu. Ternyata benteng ini sangat terlihat jelas berada ditengah hamparan sawah. Namun, ada kawat berduri sehingga kami tidak bisa memasukinya lewat situ.
Benteng dari belakang RSUD Ambarawa
 
Menurut teman saya di kantor, saya tempo hari disarankan untuk memasuki kawasan ini dengan minta ijin dahulu di gerbang Batalyon Kavaleri yang berada di Jalan Ambarawa – Banyubiru. Setelah sedikit memutar, akhirnya kami sampai juga di gerbang ini. Dengan sedikit memantapkan hati, saya dan Rina langsung dengan pede menghampiri pos jaga yang kebetulan waktu itu dijaga oleh seorang tentara muda yang cakep.
Gerbang Yonkav 2/ Tank Ambarawa

Hamid : Selamat Sore pak
Tentara : Sore mas.. bagaimana?
Hamid : Saya Hamid, kebetulan saya ingin melihat lihat bangunan benteng yang ada di belakang kawasan ini. Gimana prosedurnya? Apa meninggalkan KTP atau bagaimana?
Tentara : dari mana ini?
Hamid : saya dari magelang, tapi tinggal di Ungaran.
Tentara : Ok, nggak apa apa kalau mau lihat .. tapi nanti sampeyan ijin dulu di situ soalnya itu dipake untuk lapas.. dan kaca helmnya jangan ditutup ya..
Hamid : Baik pak.. tetapi kami berempat.. gimana?
Tentara : Hm…  (berfikir sejenak) iya nggak apa apa.. sudah tahu tempatnya kan?
Hamid : belum ..
Tentara : ini sampeyan lurus saja.. teruuus.. nanti bentengnya udah kelihatan disitu..
Hamid : OK pak.. makasih ya…
Setelah meminta ijin, kami lalu memberi tanda kepada Izul dan Heni dan langsung menuju ke tempat yang dimaksud..
Di perjalanan, kami menemukan sebuah SD yang mempunyai desain indische
SDN Lodoyong 01

inilah SDN Lodoyong 2 yang berada di kompleks Yonkav ini.. tidak lama dari situ, sebuah benteng megah dengan kondisi yang sangat buruk terhampar di depan mata.
 
Tidak disangka sangka, ternyata sedang ada tiga remaja yang sedang foto foto di bagian depan benteng ini. Setelah itu, saya masuk ke dalam dan mencari kantornya. Namun ternyata di kantor itu tidak ada orang. Dan saya menemui seorang bapak yang merupakan salah satu pegawai yang melaksanakan renovasi lapas. Menurut beliau, kita boleh memfoto foto sepuasnya. Kalau tidak ada penjaganya ya tidak usah ijin.. Oiya, benteng ini sekarang dibagi dua, untuk lapas dan sebagian besar untuk rumah para tentara.
Sejenak kami melihat desain khas dari kantor dengan pintu pintu dan jendela jendela besar ini yang bertuliskan 1838 - 1845 yang menandakan bahwa benteng ini sudah berusia hampir dua abad. 
Kantor utama benteng (mungkin bekas kantor kepala Benteng)
 
Suasana Kantor Utama Benteng
Salah satu bangunan mirip suasana candi hindu (?)
Sore itu cuaca sedang kurang baik sehingga kami harus rela berjalan jalan diantara rerumputan dan tanah tanah becek. Tidak terurusnya benteng ini juga semakin membuat benteng ini cepat rusak. Drainase yang tidak pernah diperhatikan lagi, semakin menambah kesan angker dan kumuh pada benteng ini.
Ternyata kami baru sadar bahwa benteng ini ditinggali beberapa keluarga. Bahkan mungkin sekitar satu RT. Dan herannya lagi, kami bahkan bisa jajan di sebuah warung. :)

Warung Benteng


  Tak sampai situ saja keheranan kami sore itu ketika kami menemukan sebuah papan nama di pojok benteng yang bertuliskan “MASJID” yang pada akhirnya memang kami temui sebuah mushola kecil dalam kondisi yang (maaf) kumuh dan lembab.
MASJID

Salah satu sudut tak terawat

Tangga tidak terawat (kiri) dan tangga mungkin asli kayu jati sejak jaman dulu
Beberapa bagian benteng disini malah dipergunakan sebagai kandang ayam dan lagi lagi beberapa kotoran ayam berserakan di tangga yang mau naik ke lantai 2. 
Setelah naik tangga, didapatkan pemandangan seperti ini
Kami menemui beberapa orang yang tinggal disitu dan tersenyum kepada mereka untuk memperlihatkan bahwa kami bermaksud baik baik (hehehe).
Langkah kami dilanjutkan dengan menaiki sebuah tangga yang (menurut saya) terbuat dari kayu jati dengan konstruksi yang masih kokoh dan saya mempercayainya itu adalah tangga yang dari jaman dahulu kala. Menaiki anak tangga yang agak licin, akhirnya kami sampai di lantai 2 salah satu bagian benteng ini.
Beberapa jendela jendela besar benteng ini malahan di semen untuk sarang burung walet.

Kondisi yang mengenaskan
 
Ternyata tanpa kami duga, barak barak pada benteng ini sekarang digunakan sebagai tempat tinggal. Bahkan ada plang RT sekian RW sekian Kelurahan Lodoyong, Kec. Ambarawa. Namun sore itu kami tidak menemui seorangpun di rumah rumah ini. Kami berfoto foto ala kadarnya dan menjaga ketawa ketiwi kami karena takut mengganggu ketenangan warga sini. 
Setelah beberapa barak kami temui, kami melihat sebuah jembatan yang menghubungkan sisi pinggir benteng ini dengan sisi tengah benteng yang terbuat dari kayu. Agak menakutkan memang, namun kami tetap menikmati suasana ini.

Jembatan Penghubung
  Selesai darisitu, kami turun melalui tangga yang lagi lagi terbuat dari kayu. Disitu juga ada sebuah tulisan kurang lebih bunyinya gini “HATI HATI HANDLE TANGGA RUSAK” 
Tangga turun dari lantai II
begitu sampai bawah, kami menemukan sebuah lorong dengan beberapa motor yang parkir disitu. Disitu ternyata ada semacam jalur keluar dan kami duga jalur itu yang menuju ke gang sebelah RSUD Ambarawa. 
Lorong Parkiran

Kami juga menemui seorang perempuan yang sepertinya tinggal disini. Kami hanya tersenyum saja tanpa saling sapa.

Harus rela jalan becek..
 
Perjalanan dilanjutkan dengan kondisi rerumputan basah dan medan yang becek.  Tidak jauh darisitu tampak seorang bapak yang sedang melihat lihat ikan peliharaanya. Bapak bapak yang namanya tidak mau disebutkan itu mengaku sudah lama tinggal disitu. Dan dia berujar banyak juga yang tinggal disitu dan semuanya berjalan lancar. Kami langsung mengetahui bahwa dia adalah tentara yang berasal dari bali karena di depan barak miliknya kami jumpai sebuah tempat sesajen (aduh lupa namanya) yang sering ditemui di Bali. 
Setelah berbincang bincang sesaat, saya mulai berfikir bahwa orang orang yang tinggal disini kurang begitu ramah. Entah itu hanya perasaan saya saja atau bagaimana saya juga kurang tahu. Yang saya pikir waktu itu, orang orang yang tinggal disini seakan akan memiliki tekanan mental. Dan pikiran saya larinya ke kondisi tempat tinggal mereka yang juga benteng ini yang makin hari makin kumuh dan tidak terawat.

Sisi sisi tidak terawat
 
Lanjut perjalanan dan kami hanya menjumpai rumput rumput tinggi dan kawasan yang jarang dipakai untuk jalan kaki. Disebuah sudut bangunan yang kemungkinan besar adalah bekas kantor, bahkan telah tumbuh sebuah pohon besar yang menegaskan bahwa bangunan ini luput dari perawatan. Kami terus melangkah dan menemukan sebuah reruntuhan bangunan dengan pilar pilar besar yang mana saat memfoto saya harus rela blusukan di semacam kubangan air.
Pilar pilar besar khas Indische
Kantor utama dan sebelah kantor utama yang tinggal puing puing

Water toren dan puing kantor
 
Keadaan ini sungguh memprihatinkan. Bahkan ketika saya cek salah satu ruangan di dalam reruntuhan ini ternyata digunakan sebagai kandang ayam. Menyedihkan..
Jarum jam semakin menunjukkan bahwa mentari hendak segera tenggelam, akhirnya kami lanjutkan memutar ke pintu lapas yang menghadap ke bekas kantor benteng ini dengan kemegahan sebuah menara air.
Di dekat pintu masuk lapas, tergantung sebuah lonceng bertuliskan AMSTERDAM 1843, saya berfikir ini adalah lonceng yang sangat kuno dan dibuat di AMSTERDAM pada tahun itu.

Lonceng Amsterdam
 
Berhubung waktu sudah menunjukkan waktu pukul 5 sore, dan saya belum shalat ashar, akhirnya kami memutuskan untuk segera mengakhiri jalan jalan sore ini.

Gambar - gambar lain : 
Papan nama Lapas




Sisa sisa benteng di tengah persawahan (apakah ini awal mula dinamai benteng pendem ya?) karena posisinya mirip terpendam



Suasana setelah pintu masuk



Pintu masuk dan salah satu pintu yang telah di semen..







Kondisi yang sangat memprihatinkan

Pembagian makanan.. hehehe



Pesan dari Lapas II A Ambarawa

Eksotisme Benteng


 Sekian dokumentasi dari saya tentang Benteng Pendem Ambarawa / Fort Willem I Ambarawa.. Kedepaannya semoga bangunan bangunan seperti ini dapat di lestarikan. Karena memiliki daya tarik wisata yang luar biasa hebatnya.. bahkan saya berfikir, bangunan ini tidak kalah megah dengan Lawang Sewu Semarang yang terkenal itu...

yasudah ya...

jangan lupa kunjungi juga Benteng Pendem/ Fort Van den Bosch Ngawi yang saya kupas disini

Termakasih kepada :

http://mahandisyoanata.multiply.com/photos/album/128/INSIDE_FORT_WILLEM_I_AT_AMBARAWA?&show_interstitial=1&u=%2Fphotos%2Falbum

untuk foto foto jaman dahulu dan referensi materi... :)
 

49 comments:

  1. Siiippp mas. Reportasenya selalu kumplit dan menarik. Jadi pengen kesana ki...

    ReplyDelete
  2. @Yudha : Makasih mas... ini juga nyari sana sini biar komplit sejarahnya.. hehehe..

    Ayo dolan ke Ungaran.. tak ajak dolan dolan kota tua ungaran - ambarawa :D

    ReplyDelete
  3. jadi pengen kesana..
    hmm..sama museum kereta apai ambarawa sebelah mana ya???

    ReplyDelete
  4. keren broooo

    andirestifler wuzz here

    ReplyDelete
  5. @annosmile : betul keren... dari museum KA, ke arah timur ke lapangan Pangsar Sudirman, ambil jalan ke arah banyubiru/ salatiga, habis lapangan ada gerbang Batalyon Kavaleri 2/Tank Ambarawa, disitu lapor saja di Pos penjagaan...

    terimakasih kunjungan dan komentarnya ya..

    ReplyDelete
  6. @andrie : makasih bos.. ayo dolan ning ungaran!...

    thanks kunjungan dan komentarnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai hamid, senang sekali dengan tidak sengaja saya menemukan hasil dokumentasi km, materinya bagus, oia itu benteng berpenghuni ditinggali oleh pegawai lapas, tapi hanya sekitar 20 kepala keluarga kalo gag salah kemaren papa aq yang critain, karena papa aq baru pindah tugas di situ dan tinggal di salah satu benteng paling pojok dekat tangga, rencana aq juga akan ikut tinggal disitu dan meninggalkan kos aq, yaaa aq tertarik dengan tempat itu. terima kasih.

      FB : cha meriicha shishi hanaa
      Twitter : @chameriicha

      Delete
  7. @Chayeon : wah, senang sekali juga blog saya dibaca oleh salah satu penghuni dari tema yang saya angkat.. hehehe..

    terimakasih atas informasinya,, kunjungan dan komentarnya ya..

    ReplyDelete
  8. Hai..
    salam kenal, aku naning. Sekedar sharing aja ya. aku bulan November lalu juga sempat ke benteng pendem tapi tempatnya nggak sebagus sekarang lho. aku lihat dari hasil fotomu sepertinya lokasinya bersih begitu. waktu aku bekunjung ke sana, terlihat kumuh dan kurang sedap dipandang.
    ow iya, benteng willem I ini apakah maksudnya masih ada benteng Willem II ya? kalo iya, dimana lokasinya?

    Aku tunggu balasannya ya...
    trimkasih... :)

    ReplyDelete
  9. keren mas..jdi kangen kampung halaman . :))

    ReplyDelete
  10. @Siti : makasih mbak atas kunjungan dan komentarnya...

    emang tinggal dimana sekarang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sya tinggal di palangkaraya kalteng...nenek dan kakek saya asli Bejalen ambarawa..:)

      Delete
  11. Hebat..cukup terang benderang tulisannya mengenai benteng ini, saya sudah lama melihat keberadaaan benteng ini. sejak tahun 60-an saat saya masih kanak2, saya sering melewati pinggir benten ini, saat itu biasa2 saja tidak ada ketertarikan sama sekali, saya lebih tertarik sama burung2 cangak awu yang banyak beterbang diangkasa diatas Rawa Pening dan buah kenari yang jatuh dari pohonnya. Kebetulan tgl 4 Juni 2012 kemarin saya dan keluarga saat mampir ke Ambarawa sebelum pulang Ke Jakarta, berniat ke Museum KA Willem II sayang sedang di renovasi, lalu lanjut melihat beteng pendem. Karena enggak ada yang tertarik, saya hanya melihat dari pintu gerbang di atas, sambil memfoto bangunan benteng yang masih terlihat dari arah gerbang. Kalau enggak salah di tahun 1966 keatas benteng ini buat tahanan Gestapu PKI. Mas Hamid Anwar... saya mohon ijin untuk mengkopi foto2nya sebagai obat rasa penasaran dan rasa sayang saya pada peninggalan2 kuno yang bersejarah ini..boleh kan..? kita sama2 kelahiran kota Magelang... tapi saya sejak th. 1976 (selepas SMA) sudah hijrah ke Jakarta. Tks .. Salam.

    ReplyDelete
  12. Mas Joko : Sebelumnya terimakasih atas kunjungan dan apresiasinya.. Saya terus terang baru tehu tentang benteng ini beberapa waktu belakangan.. dan mengunjungi benteng tersebut merupakan salah satu hal penting dalam hidup saya..


    hehehe.. boleh pak boleh di kopi selama mencantumkan sumbernya,,

    terimakasih

    ReplyDelete
  13. @Cimut Ciprut : eh, sori koment mu masuk ke spam. hahahaha.. ini lagi tak publish..

    jadi begini ceritanya, ada dua benteng di kabupaten semarang, di ambarawa sama di ungaran. Di ambarawa punya dibangun pada tahun 1840an, sementara di ungaran dibangun (kalo nggak salah) 1700an, nah, willem I itu di ambarawa, willem II di ungaran (depan kantor bupati semarang), tapi penamaan willem ini jadi aneh ketika willem II sebenernya lebih tua dari willem I..

    begitu kira kira correct me if i wrong

    makasih ya

    ReplyDelete
  14. Mantaaabs infonya Kang... :)
    Setahu saya dinamakan Benteng pendem karena bangunan ini memang mempunyai ruang penjara bawah tanah (bhsa jawa: pendem) yang sampai sekarang masih aktif digunakan.

    ReplyDelete
  15. @Guru Pantura : Oh begitu ya mas.. saya malah ga tau tu.. hehe.. makasih ya atas kunjungan dan komentarnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. keren mas.. thankz buat infonya...
      jadi pgen kesana :)

      Delete
  16. @ atas : iya, sama sama.. selamat berkunjung dan terimakasih atas komentarnya

    ReplyDelete
  17. Saat ini, persis di belakang benteng pendem, membentang jalan lingkar Ambarawa. Akses ke Benteng Pendem jadi lebih dekat kalo lewat perempatan Desa Wisata Bejalen.

    ReplyDelete
  18. @narindra : betul mas, saya juga baru nyadar pas lewat JLA itu kemaren. Hehehe.. terimakasih ya atas komentarnya

    ReplyDelete
  19. kasihan bentengnya gak terawat,,

    ReplyDelete
  20. hlo bro hamid,,, keren tulisan kamu,, sy juga suka mnulis blog tpi msh beljr dn blm bsa kren gt hehe
    saya juga ud pnh ke beteng ambrwa.. dn kesan"nya sama
    love it,, sya juga menggagumi bngunn" bersejarh sprti ini :D

    ReplyDelete
  21. @Arty : dan terimakasih atas kunjungan, apresiasi, dan komentarnya. Dan terimakasih sudah menyempatkan nge add fb saya. HAhahaha. sampai jumpa :D

    ReplyDelete
  22. @ Siti S Soemarmo : Oh deket dong..

    makasih ya atensinya... :D

    ReplyDelete
  23. Wow... artikelnya komplit, keren. Ambarawa memang gak ada matinya full peninggalan bersejarah yg indah. Favorit saya Benteng Ambarawa dan wisata kuliner Ambarawa. Makasih.

    ReplyDelete
  24. @kampungrawa ambarawa : iya terimakasih atas kunjungan dan komentarnya

    ReplyDelete
  25. keren mas.. insya Allah besok pengen mampir kesitu kalo cukup waktunya, rencana utama mau ke museum kereta dan rawa pening..

    ReplyDelete
  26. kmren main kesana asal lewat gapura samping RSU, emang tempat itu seting dibuat foto2 anak2 muda gan, btw nice share nih.ane malah tau sejarahnya dari sini :D

    ReplyDelete
  27. @galih : Hehehe.. terimakasih juga atas kunjungannya :D

    ReplyDelete
  28. haii mas hamid...keren banget reportasenya...dr dulu sy ingin ke benteng itu..tp belom sempat... dulu waktu masih sering bolak-balik salatiga, lewat depan kav II/tank tp gak ngerti kalo ada benteng se-eksotis ini di dalamnya... jeeennnn :(

    ReplyDelete
  29. @ayu : Heheh.. harus disempetkan dong mbak..

    anyway thanks ya kunjungannya ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hu'um pasti.. kalo ke salatiga lg wajib mampir sana :)

      Delete
  30. Saya kemaren barusan ke benteng ambarawa mas, ga bisa keliling sampai depan kantor utamanya soalnya lagi ada acara gt.
    Jadi cuman di belakang sampe yang buat tempat tinggal itu.
    Kondisinya emang memprihatinkan mas....

    Mampir juga di blog saya yaaa....
    ardiyantaa.blogspot.com

    ReplyDelete
  31. @Ardi yanta : Wah, sayang mas kalo ngga bisa lewat depan. Hehehhe..

    Oke mas makasih kunjungannya.. saya tak buka blog njenengan :D

    ReplyDelete
  32. seru banged jalan-jalannya.
    kpan2 kalo jalan-jalan lagi, ajak-jak dung, oke. insyaallah siap dah....
    bisa ubungi lwat akun ini kok..

    ReplyDelete
  33. @coolish noer

    Heheh,, boleh dah. Bisa kontak saya via email/fb/twitter di page about me..

    Nanti saya ajak jalan jalan :D

    thanks kunjungannya

    ReplyDelete
  34. weeeeeewww... ini juga bangunan yang selalu menarik perhatian saya setiap melewatinya... meski pengetahuan sejarah saya sangat terbatas, saya yakin bahwa bangunan ini adalah benteng, dan ternyata memang benar ya (karena suami saya ngotot bahwa bangunan ini merupakan tempat menyimpan hasil panen dari sawah)
    sungguh kaget membaca tulisan ini bahwa ada lapas bahkan se-RT tinggal di situ... soalnya setiap lewat saya mengira 'hanya' bangunan tua yang tidak terawat...
    thanks for sharing ya :)

    ReplyDelete
  35. @Amel

    Hehehe... makanya kalo penasaran harus diobati buk.. Jangan lupa kunjungi juga ulasan Benteng Pendem Ngawi diatas yaa .. Tidak Kalah menarik lho..

    http://hamidanwar.blogspot.com/2013/01/lost-in-ngawi-30-31-desember-2012_6690.html

    terimakasih kunjungannyaa :)

    ReplyDelete
  36. Menarik bgt ulasannya, kalo pas lewat situ saya kira cuma benteng tua yang dihuni gagak,ternyata bisa dikunjungi juga, jadi pengen ke sana.thks infonya....

    ReplyDelete
  37. @ Lee Hyun : Iya. Mesti segera kesana. Terimakasih kunjungannya ;)

    ReplyDelete
  38. Lengkap sekali tulisan dan dikumentasi fotonya, terima kasih berbagi postingan benteng Ambarawa bangunan kuna yang sekarang masih difungsikan ini. Salam

    ReplyDelete
  39. @prih :

    betul. Terimakasih kunjungannya

    Salam

    ReplyDelete
  40. Trim's mas udah bahas benteng willem ini....btw itu tempat tinggal aq dlu coz ayahku pernah tgas disitu tpi kta pindah dri tahun 2007, rumahku dlu ada disalah satu foto itu dkat tangga pojok...jdi kangen sma benteng itu...smpai skrang aq blum pernah blik lagi ksana...

    ReplyDelete
  41. @atas

    Iya. sama sama. Lain kali balik lagi ya buat ngobatin kangennya :D

    terimakasih sudah berkunjung

    ReplyDelete
  42. wah uda lama pengin main ke situ. kapan2 temenin ya mas :D

    ReplyDelete
  43. @pendekar emas : oke oke. Sms saya kalau mau janjian 085641446652

    ReplyDelete
  44. Mas Hamid Anwar, perkenalkan saya Andy, wong Magelang. Saya tertarik dengan komunitas Anda, yaitu Komunitas Kota Toea Magelang. Saya ada ide, bagaimana kalau kita buat layanan web peta tematik Kota Magelang tempoe doeloe? O ya, saya nyari makan dengan menjadi GIS developer, dan mungkin bisa sedikit-sedikit urun rembug tentang membangun map server yang memang khusus untuk peta tematik. Jadi nanti hasil web map-nya bisa cantik + menarik baik untuk full browser atau mobile device. Kalau Mas Hamid tertarik, hubungi saya di 0857-1030-0738, dan kita bisa ketemuan untuk ngobrol-ngobrol. Thx.

    ReplyDelete
  45. @mas Andy : Ide bagus mas, saya follow up via sms ya.

    Makasih ;)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...