Tuesday, March 24, 2015

Panorama Selogriyo, Duplikat Surga di Magelang


Panorama Selogriyo, Duplikat Surga

Langit tampaknya tidak begitu bersahabat siang ini, Sabtu (21/3/2015). Setelah shalat dhuhur di masjid kampung setempat, kami segera melangkahkan kaki untuk memulai trekking ke Candi Selogriyo. Candi itu terletak disebuah bukit yang bisa dikatakan berada di lereng Sumbing. Jarak tempuh kami dari parkiran motor sekitar 1,5 Km. Gerimis menyambut kami sesaat setelah saya berempat bersama Bagus Priyana, Laras, dan Tintony. memulai perjalanan. Kami merupakan rombongan yang tersisa dari sekitar 100-an anggota jelajah. Oleh Bagus Priyana – yang merupakan koordinator komunitas, kami diarahkan melalui jalur bawah yang melewati lembah. “Turis-turis biasa dilewatkan oleh kru dari Amanjiwo melewati jalur ini. Lebih seru dan menantang”. Katanya untuk mengiming-imingi kami.  




Setelah kami memakai jas hujan, jalan-jalan becek menyambut kami. Pematang sawah adalah menu utama, selain galuran – sebuah jalan kerbau yang licin dan berlumpur. Gemericik air sungai menemani kami sepanjang perjalanan dengan hamparan panorama epik perbukitan Giyanti. Akhirnya kami sampai di pelataran Candi Selogriyo hampir berbarengan dengan rombongan yang melewati jalur utama. Jalannya sudah dikonblok dan melewati lereng bukit.
 
Mungkin mereka sudah lelah dan lapar. Sebuah warung yang berada disebelah candi sudah dibooking dan kami kebagian makan siang gratis dengan menu pecel. Antrinya mirip pembagian daging kurban. Saya mengalah dengan memesan segelas kopi saja. Toh saya juga masih bawa bekal dua potong roti sekedar untuk menahan lapar. Siang ini, Selogriyo cukup cerah, beda dengan suasana sepanjang trekking. Candi ini terlihat diikat dengan tali pengaman. Pasca perbaikan 2008 silam, dinyatakan bahwa kondisi tanah di sekitar candi ini labil dan juga rawan longsor. Oleh BPCB – selaku pengelola akhirnya bagian tubuh candi diperkuat dengan tali dengan harapan tidak mudah rubuh.
 
Candi Hindu ini berada di ketinggian 704 mdpl dan secara administratif berada di Desa Kembangkuning Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang dan ditemukan oleh Residen Kedu pertama, Hartsman pada  1835. Menurut cerita yang berkembang candi dengan arti rumah dari batu ini merupakan candi yang dibangun oleh orang-orang pelarian dari Kerajaan Kadiri pada kisaran tahun 9 Masehi silam. Candi berukuran 4,2 meter persegi dengan ketinggian saya taksir 5-6 meter. Puncaknya model kemuncak dan berhias relief patung di masing-masing sisinya. Sayangnya, kepala patung-patung itu sudah tiada.

Berada di Selogriyo, serasa berada pada hamparan duplikat surga. Hijaunya rerumputan, dipadu dengan gagahnya perbukitan dengan udara yang sejuk. Meskipun waktu menunjukkan pukul tiga sore, rasa-rasanya kami tak ingin beranjak pulang dan masih ingin berlama-lama disana.
**

Candi Batur, Pemandian Kuno dibukit Sokorini.

Bukit itu bernama Sokorini. Seorang paruh baya bernama Wahyudi memandu kami untuk mendakinya. Siang ini kami berada di Desa Candisari, Windusari. Kami memarkir motor diujung kampung dengan pemandangan sawah nan elok. Dari situ, kami harus mendaki bukit sepanjang sekira setengah kilometer. Jalannya sudah dipaving sehingga memudahkan pendakian. Jangan mencoba nekat mengendarai motor ke atas jika tidak ingin terpeleset ataupun terpelanting. Jalan setapak ini memiliki elevasi hingga 45 derajat. Setiap jengkal kaki melangkah adalah ngos-ngosan yang tiada terkira. Dalam hati saya berharap berat badan saya bisa turun 2 Kg setelah acara selesai.
 
Setelah melewati belantara dengan beberapa selingan bambu petung dan beberapa rebungnya, kami sampai di lokasi kunjungan. Saya mengira lokasi itu adalah sebuah makam. Tapi saya salah. Namanya Candi Batur. Di puncak bukit ini kami bisa menemukan reruntuhan puing batu candi dengan beberapa diantaranya tampak bermotif batu hias (antefiks). Mameth Hidayat, seorang peserta menunjukkan kepada saya bahwa ada sebuah pintu gerbang menghadap ke barat. Namanya makara dengan ciri dua buah patung penjaga pintu.
 
Suasana Candi Batur

Puing bebatuan candi

Salah satu makara
Berdasarkan penuturan Wahyudi, ada dua versi cerita yang berkembang. Yang pertama adalah bahwa candi ini merupakan candi utuh yang sudah runtuh, dan yang kedua adalah pendapat yang menyatakan bahwa lokasi ini merupakan sebuah pemandian kuno. Saya pun berdecak kagum. Pendapat kedua dikuatkan dengan diketemukannya sisa-sisa talang air yang terbuat dari batu, berlokasi sekitar 30 meter dari lokasi utama dan tampak berhulu dari bukit dibelakangnya.
Talang air kuno

Dari atas bukit ini, dapat terlihat pemandangan Magelang hingga Temanggung Raya. Pikiran saya pun menerawang jauh saat orang-orang dahulu bermandi ria disini dengan berbahagia karena bisa mandi sekaligus melihat pemandangan indah dan mempesona. Amazing!

**

Benda-benda bersejarah berserakan di Bandongan
 
Kepala Desa Banyuwangi, H. Djahuri bersama Bagus Priyana
 “Saya sangat berterimakasih dan mengapresiasi kedatangan bapak ibu, adek-adek, mas dan mbak-mbak rekan-rekan komunitas Kota Toea Magelang ke tempat kami” Pak Haji Djahuri, Kepada Desa Banyuwangi Kecamatan Bandongan pagi ini menyambut kami di tempat kerjanya. Pria berusia sekitar 60 tahun tersebut didampingi beberapa perangkat desa untuk memperlihatkan koleksi benda-benda bersejarah yang diketemukan dilingkungan desanya.

“Tanggal 21 Januari 2015 lalu benda-benda ini mulai disimpan di balai desa untuk menghindari pencurian dan pengrusakan” sambungnya mengawali cerita singkat tentang benda koleksinya. Ada sekurangnya 7 buah Yoni berbagai ukuran serta beberapa batu candi, ada yang kotak dan ada yang bulat. Yoni yang terbesar belum sanggup dimasukkan ke ruangan karena saking beratnya. Bagian cerat yoni itu sudah rusak. Kemungkinan besar karena sudah dicuri orang.
 
Saya berjumpa dengan Pak Kholiq, seorang pegawai kantor setempat yang berujar bahwa benda-benda ini ditemukan tidak hanya di persawahan saja. Ada yang ditengah perkampungan juga dikebun-kebun. Dia juga meyakini bahwa masih banyak benda-benda lain yang kini masih belum ditemukan. Dia juga berharap bahwa benda-benda tersebut meski sudah terdaftar pada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng, tetapi akan tetap disimpan di kantor desa Banyuwangi sehingga bisa dijadikan ikon desa . “Supaya anak cucu kita tahu dan bisa melihat langsung bahwa disini ditemukan benda-benda bersejarah ini” tutupnya.
 
**

Di desa Trasan masih di kecamatan yang sama, ada sebuah rumah yang biasa disebut dengan rumah gobyok. Rumah itu mengadopsi model jengki dengan suasana jawa yang lebih kental. Halamannya hijau nan rimbun dengan berbagai tanaman. Beberapa patung menghiasi depan rumah itu dan Patung Diponegoro menunggang kuda menjadi satu yang paling ikonik.
 
Patung Diponegoro di depan Rumah Perjuangan
 
Rumah bercat kuning itu milik Begawat Gita, pria berusia 50 tahun itu menyambut kami dalam suasana khas tempo dulu. Bagian teras rumah yang luas bisa menampung kami yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Ada banyak lukisan tertempel pada bagian tembok kanan kiri. Menu-menu tradisional dihidangkan pada beberapa set meja kursi antik.

“Rumah ini adalah rumah perjuangan” ujarnya. Rumah peninggalan kakeknya itu dibangun pada kisaran 1920. Kakeknya yang saat itu menjadi lurah menjadikan bangunan itu aman dari serangan musuh. Tentu saja, karena saat itu rumah lurah juga berfungsi sebagai kantor desa. Bangunan itu dari awal hingga saat ini tidak mengalami perubahan bentuk. Hanya penggantian tembok yang dahulu dari kayu diganti dengan semen. Selain itu, termasuk tata letak perabotan rumah tangga seperti meja dan lain-lain tidak pernah dirubah. Begawat menuturkan bahwa pada masa agresi Belanda, rumah ini dijadikan markas oleh para gerilyawan yang berkumpul setiap malamnya untuk mengatur strategi.

Berdasar informasi yang saya peroleh juga, rumah gobyok ini sudah terdaftar sebagai Benda Cagar Budaya pada Pemerintah Kabupaten Magelang sejak tahun 2009. Rumah ini merupakan bukti perjuangan rakyat dalam melawan penjajahan.

**
Bagi anda pecinta sejarah, jika berkunjung ke Bandongan jangan ragu untuk mampir di Masjid Baitul Muttaqin di Desa Trasan. Lokasinya tidak jauh dari rumah perjuangan. Sekilas dari depan masjid ini memiliki model hampir sama dengan Masjid Agung Kota Magelang. Bagian atap serambinya mirip. Saat ini masjid terlihat bersih dan modern. Tapi siapa sangka, saat memasuk ruangan utama, kita akan dibuat terheran-heran.
 
Bagian dalam Masjid Tiban
Disana terdapat 16 tiang atau saka penyangga terbuat dari kayu. Satu tiangnya berdiameter sekitar 15 centimeter. Tiang warna cokelat itu malang melintang membuat ruangan terasa sempit. Salah satu tiang penyangga yang terlihat tidak mulus diyakini sebagai tiang tatal yang dibuat dari kayu kecil-kecil yang disatukan. Selain itu, terdapat mimbar dengan gaya jawa kuno yang masih terkontaminasi model India. Mimbar itu mirip singgasana dengan tanpa penutup kaki saat khotib berkhutbah. “Mimbar kayu ini masih asli. Hanya saja bagian bawah sudah disemen karena sudah rapuh” begitu ungkap seorang pemandu. Mimbar itu berada menjorok pada shaf dua.

Berdasar cerita warga, masjid ini juga sering disebut dengan masjid tiban. Karena tidak diketahui siapa yang membangun. Kisah turun-temurun menyebutkan bahwa Walisongo diyakini berperan dalam pembangunannya. Bagian utama masjid hingga sekarang dipertahankan bentuk aslinya. Begitu juga dengan bedug dan kentongan juga masih asli. Tidak ketinggalan, mustoko alias kubah masjid yang terbuat dari tanah liat itu juga masih asli.

Tradisi yang berkembang pada masyarakat setempat adalah malam selikuran. Selikuran yang berarti dua puluh satu adalah  saat menyambut malam ke 21 pada bulan ramadhan. Jamaah yang yang hadir pun tidak jarang yang datang dari luar kota. Saat perayaan itu, dihalaman masjid akan ditemui bermacam pedagang makanan dan minuman untuk sahur.

Satu lagi kisah unik tentang masjid ini adalah konon masjid ini dahulu tidak berlokasi ditempat yang sekarang ini melainkan pernah digeser secara ghaib sekitar 200 meter dalam suatu malam. Percaya?

Peserta berfoto bersama di depan Masjid Tiban

Keterangan :
Posting ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah 2015 dengan tema "Cagar Budaya Jateng" dan dinyatakan sebagai pemenang.


Djeladjah Sitoes dan Tjandi #4 Bersama Komunitas Kota Toea Magelang
Daftar Kunjungan
1)    Kantor Kepala Desa Banyuwangi (08.00-08.45)
2)    Rumah Perjuangan Begawat Gita (08.45-09.30)
3)    Masjid Tiban Trasan (09.30-10.00)
4)    Situs Watu Gong (10.00-10.15)
5)    Situs Yoni Tergelimpang, Kalegen (10.45)
6)    Candi Batur (11.30 – 12.30)
7)    Candi Selogriyo (13.00 – 15.00)
 

Foto lainnya :

Bagus Priyana memberikan briefing


Para peserta berfoto sebelum berangkat
Watu Gong di Trasan, Bandongan
Pemandangan selama jelajah

Yoni dipinggir jalan



Salah satu rute jelajah
 
Gapuro ticket masuk Candi Selogriyo



Bagus Priyana, Laras, Tony dan Saya

Anak tangga menuju Candi Selogriyo


Peserta jelajah berfoto dengan latar belakang Selogriyo

10 comments:

  1. Yoni ne tergeletak begitu aja di pinggir jalan!!! Gelo banget gak ikut KTM yang ini, hiks... padahal kan pingin ngerasain gimana rute ajib ke Selogriyo kayak tamu elitnya Amanjiwo >.<
    Salut dengan kepala desa Banyuwanginya mau menyimpan penemuan dari warga dan ditmapung di balai desa, bukan malah dijual, eh nggak dijual ama mereka kan? :-)

    ReplyDelete
  2. @Koh Halim : Beneran itu mas Yoninya ngglimpang dipinggir jalan. Ada didepan restoran gitu.
    Hehe.. nyesel ya? saya aslinya malah pengen mblusukan solo. Tapi karena satu dua hal, akhirnya saya malah bisanya ikut yang percandian KTM ini. :D Yoni yg di balai desa aman kok, tidak akan dijual katanya :D

    ReplyDelete
  3. Cantik banget pemandangannya.. Masih asri.. Kebayang sejuknya :D

    ReplyDelete
  4. @Beby : Iya. must visit nih :D Thanks kunjungannya

    ReplyDelete
  5. Pemandangannya sejuk banget dilihatnya. Hijau semua ya mas

    ReplyDelete
  6. @Yasiryafiat : Iya mas.. suasana nya masih alami. Kalau tertarik silahkan berkunjung :D salam heritage

    ReplyDelete
  7. Selamaaat....info di tulisannya lengkap. Bikin pembacanya mupeng ke sana.

    ReplyDelete
  8. @EdoMita : Iya, mas.. harus segera kesana kalau senggang. Jangan pas musim hujan yak ;)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...