Wednesday, March 9, 2016

Perjalanan Pertama Motuba Sico Jarak Jauh

Sebelum keturutan membeli motuba, saya selalu membayangkan bagaimana nyamannya perjalanan pulang kampung Ungaran – Muntilan dengan mobil tanpa kehujanan jika hujan turun. Memang, tatkala hujan turun saat bermotor adalah saat paling tidak mengenakkan. Apalagi ketika kita menepi memakai mantol saat hujan deras dan tanpa ada tempat berteduh, kemudian beberapa kilometer kedepan langit kembali cerah. Mau melepas mantol kok ya males, mantol masih basah, mau dipakai kok nanti hujan lagi..

Dan perasaan menggalau itu akhirnya terjawab semenjak Sico – Corolla SE Saloon hadir, eh terbeli beberapa pekan lalu. Untuk pertamakalinya Sico saya ajak jalan-jalan jauh. Dalam dua minggu Sico pulang pergi Ungaran – Muntilan dan Ungaran – Ngawi. Okeh, saya akan segera berbagi pengalaman dengan kalian semua.. terutama para perawat motuba. :D

#Perjalanan ke Magelang
Dengan suasana perumahan yang sempit, hari Jumat saya memilih untuk langsung mengendarai Sico berangkat ke kantor. Dengan harapan setelah jumatan bisa langsung pulang kampung tanpa kerepotan meliuk dan memarkir di rumah. Jumat akhir Februari 2016 lalu, Sico kenyatannya harus standby di Kantor DPPKAD Ungaran karena saya ada kerjaan disana. Selepas shalat jumat, saya segera mengajak Sico ke Magelang.

Beberapa hari sebelumnya, Sico sudah masuk ke Bengkel Andi di Beji untuk perbaikan dan ganti oli. Ada beberapa part yang harus diganti, seperti engine mounting, support shock breaker kiri depan, selang-selang, dan mengelas beberapa dudukan baut yang sudah keropos (saya tidak begitu paham tentang hal ini). Oli disarankan menggunakan Shell Helix. Dan setelah Sico jajan menghabiskan Rp 1,530,000,- dia dalam kondisi prima. Tarikan enteng.

Saya sendiri belum menemukan data valid apakah Sico harus minum Premium atau Pertamax. Tapi saat saya membeli Pertamax di SPBU Karangjati, ternyata malah ada promo beli Pertamax min 50 ribu dapat teh botol. Dan memang terasa beda tarikan antara premium dan pertamax. Dan menurut beberapa informasi, mesin Sico sama dengan mesin Starlet yang lebih disarankan menggunakan Pertamax.

Setelah mengisi Pertamax Rp. 150,000 SPBU Bawen, indicator bensin menunjuk ke posisi separuh (dari sebelumnya sekitar hampir habis). Saya mencoba menyalakan audio dan AC karena suasana hujan deras, Alhamdulillah semua kondisi normal. Saya pun melenggang melewati Jalan Lingkar Ambarawa yang tenang dan mulus. Dan akhirnya sampailah saya di tanjakan Ketekan yang bagi saya adalah sebuah momok. Gimana kalau macet ya, gimana kalau ban kempes, ya.. ah tetapi berkat doa dan semangat, semua bisa dilalui. Sico dengan mudah melahap trek-trek perbukitan daerah Jambu – Bedono dengan baik. Dan hingga akhirnya pukul 15,30 kami sampai di Muntilan. Bensin berkurang dari separuh menjadi separuh kurang sedikit. Barangkali ini bisa disebut ngirit. :D
Jalan lingkar Ambarawa

Bagi saya, menyetir ke Magelang ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Karena medan yang beragam mulai dari lurus, datar, naik, belok, turun, luar kota, dalam kota, jalan besar, jalan kampung, semua ada. Sampai rumah, saya membuka kap mesin dan melihat mesin Sico masih kering dan normal.
Sico saat didepan rumah di Magelang. Kinclong habis mandi :D

Perjalanan pulang kembali ke Ungaran, pada Senin pagi, juga tidak begitu masalah. Dan berkat pencapaian ini, saya semakin mantap untuk mengajak Sico pergi ke Ngawi.

#perjalanan ke Ngawi
Seminggu kemudian di awal Maret 2016, Sico saya ajak ke Ngawi. Jumat pagi, saya sudah mengecek semua kondisi Sico dari air aki, minyak rem, oli mesin, air radiator, dan Sico juga sudah saya mandikan. Semua kondisi normal. Akhirnya selesai Jumatan saya segera berangkat. Seperti perjalanan ke Magelang seminggu sebelumnya, saya pun terkena hujan deras di daerah Bawen. Setelah mengisi Pertamax Rp. 150,000,- saya segera melajukan Sico melewati Kota Salatiga. Sengaja tidak lewat jalan lingkar dengan alasan ; ingin mencoba menyetir didalam kota dengan kondisi ramai dan banyak bangjo. Hehehe..

Dari Salatiga hingga Tingkir, masih juga hujan berintensitas tinggi hingga gerimis. Saya mengambil jalur alternatif Karanggede – Gemolong. Begitu sampai Suruh, saya disambut kondisi yang kurang baik. Banyak lubang dijalan. Meski saya mulai bisa menghindari lubang – lubang itu, tapi tetap ada beberapa diantaranya yang tidak sengaja terinjak. Haduuuh..

Mendekati Karanggede, jalan tidak semakin bagus. Justru lubang-lubangnya tambah banyak. Yaah saya ambil hikmahnya : bagaimana mengendarai mobil untuk menghindari lubang-lubang dijalan.

Akhirnya saya pun sampai di Karanggede. Disana cuaca sudah cerah. Malah belum hujan. Dari Karanggede hingga Gemolong jalanan relatif halus mulus dan sepi. Saya coba mengendarai Sico dengan kecepatan konstan sekitar 80 – 90 km per jam saja. Tidak berani lebih karena mengingat saya baru belajar nyetir dan mengingat Sico yang usianya sudah 30 tahun :D. dan pada satu trek lurus suwepi, saya coba naikkan menjadi 100 Km perjam. Masih nyaman.. dan coba masukkan persneling 5 untuk pertama kali. Hehehe.. takut.. buru buru mengurangi kecepatan :D.

Saya menyempatkan istirahat untuk buang air kecil di SPBU Andong dan kembali melanjutkan perjalanan. Dan perjalanan terhitung lancar. Panel radiator suhu Sico juga stabil di setengah kurang sedikit. Tidak mengkhawatirkan pikir saya. Selepas Gemolong, jalan mulai tidak begitu mulus. Dan puncaknya terjadi di daerah Tanon, mendekati Sragen. Jalan rusak yang sudah bertahun-tahun itu kini masih saja rusak. Padahal saya dari rumah berharap jalan disana sudah dibeton. Ternyata belum.

Saya lirik belakang saya ada innova plat merah dan depan saya ada truk besar. Pelan-pelan dan selalu harus mau tidak mau melewati jalan berlubang dengan kisaran kedalaman rata-rata 30-40 cm. Membuat saya was-was. Takut ban kempes, takut mesin protol, dan sebagainya. Akhirnya saya pelankan dan mempersilakan innova untuk mendahului. Truk besar didepan saya jelas menghalangi pandangan sehingga saya tidak bisa mengantisipasi lubang-lubang didepan mobil saya. Akhirnya saya cari celah untuk mendahului. Dan yes. Ada celah langsung masuk dari kanan. Ah sial, posisi saya kemepeten dengan truk itu hingga spion saya nyerempet bagian dari bodi truk. “dek dek dek..” tak tengok spionnya untung tidak pecah atau copot. Dan sambil mendahului, truk itu saya klakson pelan.
Jalan rusak. Ilustrasi : solopos.com

Setelah jalanan rusak parah sekitar 2 Km itu habis, saya segera menepikan mobil mencari tukang angin ban. Minta tolong ngecek tekanan ban di 30 Psi. dan sekaligus mengisi angin untuk ban cadangan yang kurang angin. Sembari ngobrol, bapak tersebut bilang bahwa april ini akan segera diperbaiki jalan rusak itu. Amiiin..

Saya memilih melewati kota Sragen dan perjalanan lancar jaya hingga tanpa terasa saya sudah sampai di perbatasan Jateng – Jatim di Mantingan. Lirak lirik mencari tempat istirahat, akhirnya saya putuskan untuk menepi di salah satu Masjid. Disana Sico saya istirahatkan dan saya tinggal shalat ashar karena waktu menunjukkan hampir pukul lima sore. Sembari beristirahat sekitar dua puluh menit, kap Sico saya buka dan terlihat sedikit rembes oli di bawah filter oli. Tapi tidak sampai menetes. Ah semoga tidak terjadi apa-apa.
Perbatasan Jateng-Jatim. www.panoramio.com
Perjalanan dilanjutkan. Sepanjang Mantingan – Ngawi benar-benar menguji kesabaran saya. Awal-awal jalanan mulus. Tapi begitu masuk Gendingan hingga Sidowayah jalan berkelok hutan-hutan terasa kurang nyaman. Lagi lagi karena banyak lubang dijalan. Grek grek! Saya khawatir terjadi apa-apa dengan kaki kaki Sico. Selain itu jalanan tergolong sempit dengan lalu lintas yang padat. Apalagi jika sudah berpapasan dengan Sumber atau Mira, harus kita prioritaskan deh mereka daripada kenapa-napa. Saya pun harus sabar mengantri karena banyak marka lurus yang sebenarnya sering dilanggar oleh bus yang saya sebut diatas. Akhirnya mendekati pukul enam, saya akhirnya sampai di rumah Ngawi di Paron dengan selamat. Alhamdulillah..

Perjalanan pulang dari Ngawi ke Ungaran pada Senin pagi, berangkat pukul lima sembari mengantar ce Mumun berangkat ke Solo. Saya melewati jalur regular saja. Dari Ngawi hingga Mantingan, lagi lagi saya harus mengelus dada karena beberapa kali Sico tidak sengaja menginjak lubang. Pandangan saya saat malam hari memang kurang maksimal. Atau mungkin belum terbiasa. Dari Sragen hingga Solo perjalanan terus merayap. Terutama di daerah Masaran yang memang jalannya sempit. Dan akhirnya saya sampai di kost Mumun di daerah UMS sekitar pukul tujuh.

Dari sana, perjalanan terasa menyenangkan. Jalur utama Solo – Boyolali memang sudah mantap dan lancar jaya. Tanpa halangan. Coba saya kendarai Sico untuk menyalip beberapa motuba yang lain seperti hijet dan carry. Tapi saya tetap jaga kecepatan maksimal sekitar 90 km perjam saja. Takut terjadi apa-apa. Hehehe

Dari Boyolali, masuk ke daerah Tengaran, sempat ada sebuah bis angkutan yang mengerem mendadak. Dan ini pertama kalinya saya mengerem mendadak setelah sebelumnya jalan konstan cukup cepat. Untung saya bisa menghandelnya meski dengan deg-degan. Dan perjalanan balik ini saya putuskan melewati Jalan Lingkar Salatiga Tingkir tembus Tuntang. Ah ternyata Jalan Lingkar juga sama. Ada beberapa lobang dijalan sehingga harus tetap hati-hati. Keuntungannya, lebih banyak jalan halus dan bisa melaju dengan kecepatan tetap.

Pukul Sembilan pagi, akhirnya saya yang sudah berseragam dan telat, sampai di Kantor sembari memarkir dan keringetan. Ya, setiap memarkir saya masih selalu keringetan. Mungkin karena grogi atau takut nyenggol apa-apa. Hehehe..

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...