Wednesday, March 6, 2019

Empat Hari di Sumbar, Ngapain Aja?



Sudah lama saya pingin ke Sumatera Barat. Enggak tahu kenapa. Yang jelas karena salah satu rumah makan Padang langganan saya disini, sering nyetel lagu-lagu minang. Terutama yang bergenre pop dan slow rock. Sungguh enak didengar. Bahkan ketika pelayan datang membawakan pesanan kita, dan kebetulan lagu yang disetel dengan tambahan tivi layar datar berukuran besar menyetel lagu minang yang yahud, pasti banyak pekerjanya ikut menyanyi. Saya juga sih karena sudah terlanjur hafal beberapa lagunya. Ya, selera musik memang beda-beda ya, karena teman-teman kantor termasuk istri terkadang suka mencibir kalau saya nyetel musik minang. Tanda bahwa mereka tidak bisa dewasa dalam menerima perbedaan.

Saya jadi sering kepo di youtube tentang lagu-lagu minang dan banyak juga ternyata yang saya suka. Dan nggak hanya lagu minang yang saya kepo, malah jadi kepo kemana mana termasuk vlog-vlog tentang wisata minang.

“Asik juga nih kalau kapan-kapan wisata ke Sumbar” gumam saya dalam hati.

Akhirnya saya pun berusaha merencanakan perjalanan sekeluarga ke Sumatra Barat. Setelah dihitung-hitung transportasi bertiga, wah kayaknya jauh panggang dari api. Berat, bos.. akhirnya hal itu hanya masih menjadi mimpi-mimpi saja. Bahkan mimpi yang betulan terjadi saat saya tidur. Beneran, saya pernah mimpi dua malam berturut-turut pergi ke Bukittingi. Entah karena memang saking pinginnya atau gimana...

Daripada sekedar menjadi impian yang tak akan terwujud, saya akhirnya pelan pelan menabung, dengan harapan suatu saat nanti bisa berkunjung ke Sumatera Barat.

Nah, saya pribadi karena saking banyaknya lihat lihat konten tentang Sumbar di youtube, akhirnya bisa membuat itinerary apa adanya, jikalau memang bisa kesana suatu saat nanti. Cekidot!

Hari Pertama # Senin Malam
Saya berangkat dari Semarang Senin siang, dan sampai Bandara Minangkabau empat jam kemudian. Perjalanan pertama untuk kami sekeluarga yang belum pernah naik pesawat sebelumnya. Saya segera mengkontak nomor travel yang sengaja saya browsing jauh-jauh hari sebelumnya. Ia sudah standby di parkiran.

Setelah mengisi perut sejenak, malam itu juga, kami perjalanan ke Bukittingi karena kami berencana mengeksplor daerah itu dahulu di hari-hari pertama. Sopir travel berbicara dengan logat bahasa yang unik karena kami belum pernah mendengar sebelumnya. Penumpangnya sebagian adalah perantau dari yang sehari hari bekerja di Jakarta.

Tiga jam lamanya, kami berjalan dengan jalanan yang saya lihat sempit. Malam hari tidak banyak yang bisa dilihat. Paling-paling saya hanya melihat plang masuk Kota Padang Panjang. Dari Padang Panjang ke Bukittinggi, supir menyetel lagu minang yang sedikit nge-house. Agak kedangdut-dangdutan dengan cengkok khas minang.

Kami menginap di sebuah hotel di pusat kota. Dan karena sudah sangat malam, kami hanya bersih-bersih dan langsung beristirahat.

#Hari Kedua, Selasa
Selamat pagi, Bukittinggi. Yang selama ini hanya ada dalam impian dan kini menjadi kenyataan. Kami bangun cukup pagi, sekitar jam setengah enam kemudian segera berjalan-jalan ke Jam Gadang. Ikon kota. Kami baru ngeh bahwa model rumah minang diterapkan dimana-mana. Dari warung-warung, rumah makan, bank hingga Plaza Bukittinggi.
Sumber : wisatania.com

Beberapa orang terlihat mengantar anak menuju ke sekolah, beberapa lainnya menyiapkan dagangan. Sembari browsing-browsing di google map, kami menemukan sebuah tempat sarapan yang unik, Pical Ayang. Dalam bahasa jawa semacam pecel. Kami kesana dengan memesan ojek online. Dekat, kok dari Jam Gadang.

**
Setelah sarapan kami lantas kembali ke penginapan dan bersiap-siap. Tujuan kami hari ini adalah mengunjungi Kelok 9 di Payakumbuah, kemudian menjelang sore menuju Pusat Informasi dan Dokumentasi Kebudayaan Minangkabau di Padang Panjang. Untuk menuju kesana, kami merental sebuah mobil supaya lebih fleksibel.

Jalan – jalan penghubung kota/kabupaten di Sumbar rata-rata masih sempit, tidak seperti di jawa. Kami berjalan pelan pelan sembari menikmati pemandangan. Dan sekira dua jam kemudian kami baru sampai di Kelok 9. Sebuah jembatan megah yang diresmikan oleh Presiden SBY beberapa tahun silam. Jembatan ini adalah sebuah mahakarya yang mendukung transportasi antara Sumbar dan Pekanbaru sehingga lebih nyaman di lewati. Dahulu, jalanan ini berkelak kelok dan terjal sementara kini dibuat jembatan layang dengan konsep sedikit memutar namun landai. Di sepanjang jalan, tampak warung-warung untuk beristirahat, dan di sebelah tengah, ada sebuah taman untuk beristirahat. Kami pun beristirahat di taman tersebut.




Sumber : idntimes


**
Setelah dhuhur kami sampai di Padang Panjang. Kami mapir sejenak disebuah warung di pusat kota. Menu makan siang, ya makanan khas minang, seperti nasi padang, tetapi disini tidak ada tulisan nasi padang. Hehehe.. Puas mengisi perut dengan citarasa maksimal, kemudian kami melaju ke sekitar pinggir kota dan menemukan sebuah bangunan khas Minangkabau yang sangat elok dan megah. Itulah gedung Pusat Informasi dan Dokumentasi Kebudayaan Minangkabau. Disana kami bisa melihat pernak pernik adat kebudayaan Minang, membaca sejarah tentang Minangkabau. Dan lain sebagainya. Masuknya gratis dan tempat wisata yang dikelola pemerintah setempat ini sangat edukatif, menurut saya. 
Sumber Hoponindonesia

**
Menjelang sore, kami kembali ke Bukittingi namun kami bablaskan ke Danau Maninjau. Tempat wisata yang sangat ingin saya kunjungi dan saya inapi. Hehehe.. dari Bukittinggi ke Maninjau, jalanan relatif sempit dan mengingat hari sudah sore, kami harus hati-hati. Dan tibalah kami di jalanan menurun berkelak kelok yang disebut kelok ampek puluah ampek atau kelok 44. Dari atas, di setiap kelokan itulis secara berurutan kelok 44, kelok 43, kelok 42, dan seterusnya. Mumpung belum maghrib, kami mampir di sebuah warung pinggir jalan dan memesan mie rebus serta kopi, tentu saja untuk mengusir lelah. Sementara cuaca yang bersahabat, membuat kami bisa memandang danau Maninjau dari kejauhan. Suasana yang sangat cantik.
Sumber : lampungpro

Sesampainya di Maninjau kami segera mencari penginapan yang sudah kami telusuri beberapa waktu saat di perjalanan. Kami memilih sebuah penginapan yang dekat dengan danau dan meningat waktu sudah malam dan badan kami sudah sangat lelah, kami langsung beristirahat saja. Makan malam juga sudah.

#Hari Ketiga, Rabu
Pagi hari, kami bangun teramat pagi ketika embun embun masih menempel di dedaunan. Segar sekali suasana pagi di Maninjau. Sebuah dataran tinggi yang memiliki danau. Anak saya lari-larian di sekitar hotel dan mendapati pinggiran danau yang dikiranya adalah pantai. Lantas bermain air dan lupa bahwa sebenarnya dingin. Sembari menikmati sarapan yang ditelah disiapkan oleh penginapan, kami menemukan bahwa tidak jauh dari sini juga ada Museum Buya Hamka. Maka kamipun sembari perjalanan pulang dari Maninjau mampir sejenak untuk melihat lihat.

Museum ini adalah rumah Buya Hamka sejak lahir hingga sebelum ia pindah ke Padang Panjang. Bangunannya sebagaimana umumnya model minang, dengan ketinggian yang lebih tinggi dari jalan raya, dan menghadap ke Danau Maninjau. Isinya adalah benda-benda peninggalan Buya Hamka sekaligus riwayat hidupnya. Disana, kami bertemu dengan beberapa turis asing dari Malaysia dan Brunei Darussalam, yang tidak seperti turis asing.

Kami tidak punya waktu banyak karena jam 9 kami harus segera berangkat perjalanan jauh ke Solok Selatan. Ke tempat pakdhe saya. Saya sejauh ini belum pernah tahu rumahnya dan ini akan berspekulasi saja kesana.

Dalam perjalanan kami mampir sejenak saat mendekati Padang Panjang. Disana kami menemukan sebuah warung Bika Talago, yaitu sebuah kue yang dimasak menggunakan peralatan tanah liat, dengan kayu bakar sebagai bahan bakarnya. Kue ini bisa dibilang tradisional dan rasanya sungguh nikmat.
 
Bika Talago, sumber : goodiindonesianfood
Ternyata perjalanan sangat jauh. kami berangkat jam 9, sampai di sebuah jalan dengan tepian danau yang panjang yang ternyata adalah Danau Singkarak jam 1 siang kemudian beristirahat sembari menikmati indahnya pemandangan. Dari situ, kami ternyata masih menemukan dua buah danau kecil yang tidak kalah cantiknya, yaitu Danau Diateh dan Danau Dibawah. Disana juga terlihat plang tempat wisata yang bernama Kebun Teh Alahan Panjang, yang saya pernah dengar pernah dinyanyikan dalam sebuah lagu minang.
Sumber : Saribundo

Menjelang maghrib kami baru sampai di Solok Selatan. Oleh Mas Juki, anak menantu pakdhe saya yang asli Padang, kami dipersilakan segera istirahat dan dibuatkan kopi. Tentu setelah mandi dan beristirahat. Sementara anak kami sudah sangat lelah dan tidur terlelap, saya terlibat obrolan panjang dengan keluarga di Sumbar hingga larut malam. Solok Selatan, kota yang sepi dan menenangkan jiwa.

#Hari Keempat, Kamis

Paginya kami diantar oleh mas Juki mengunjungi sebuah lokasi wisata yang sedang dipromosikan pemerintah setempat. Rumah Saribu Gadang. Disini adalah sebuah kawasan dimana rumah-rumah gadang tua sedang berusaha di lestarikan, lengkap dengan peraturan adat untuk penghuninya. Benar-benar sebuah tempat yang sangat eksotis.
Sumber : Saribundo

Sebenarnya kami ingin berlama-lama disana, namun waktu sudah sangat mepet kami harus segera pulang ke Padang untuk mengejar penerbangan kembali ke Semarang. Perjalanan ini tidak lagi melewati Danau Singkarak, namun melewati jalan tembus ke Kota Padang. Sesuai dengan arahan google map. Perjalanan yang sepi dengan jalan-jalan khas Sumbar yang sempit dan cenderung sepi.

Akhirnya, begitu sampai kembali di Padang, kami langsung menuju Bandara dan menunggu pemilik mobil sejenak untuk kembali mengambil mobil rentalan. Dan akhirnya perjalanan impian ini pun selesai disini.

**
Sejauh saya browsing, saya belum menemukan adanya hotel Reddoorz di Sumatera Barat, namun saya berharap dalam waktu dekat, jaringan Reddoorz akan segera hadir disana, karena selama ini saya sering menginap di Reddoorz ketika harus bermalam baik urusan pekerjaan maupun pribadi di kota-kota di Jawa, dan saya kira Reddoorz adalah salah satu pelopor hotel budget yang telah banyak memuaskan konsumennya karena linen selalu bersih, kamar mandi selalu bersih, perlengkapan mandi lengkap, televisi selalu tersedia dan lancar, serta Wifi gratis. Semoga!


1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...