Thursday, November 19, 2009

Rani dan Aku

Aku Hamid. Usiaku 20 tahun. Aku menghabiskan hari hariku sebagai salah satu staff di sebuah apotek di Magelang. Memang backgroundku bukan dari farmasi. Tapi sedikit ilmu jaringan komputer yang dulu aku pelajari di sekolah ternyata kini bisa jadi bekal buat kerjaanku. Ya, aku hanya mengurusi troubleshooting dan maintenance komputer di apotek itu. Kerjaanku terasa sudah cukup menyenangkan lah aku pikir.

Sudah lama sekali aku tak punya pacar. Sudah hampir 2 tahun ini. Selama ini aku masih pengen pacaran dengan cewek cewek SMA. Hahaha.. ya aku rasa mereka pasti masih jarang lah yang mau serius. Soalnya aku juga belum ke arah serius. Masih kepengen have fun. Tapi ternyata dari dulu hingga sekarang sama saja, meski banyak yang tak prospek dan tak follow up ternyata nggak ada satupun yang sreg. Huh payah.

Hingga suatu hari aku dikenalkan dengan salah seorang cewe, namanya Rani. Perkenalanku sama dia dulunya aku dikenalkan sama temenku. Yah, pertama sih sekedar buat temen smsan, tapi lama lama kepengen juga ketemu sama dia. Kira kira setelah dua minggu saling kontak lewat sms aku ketemu dia disuatu siang di hari minggu di sebuah tempat makan. Hari itu dia memakai jins hitam dan kaos putih. Rambutnya terurai lurus kira kira sepunggung. Pertama melihatnya aku berfikir bahwa dia kecil banget buat aku. Bisa dibilang terlalu kecil. Karena dia masih kelas satu SMA. Ha ha ha …

Ketemuanku waktu itu nggak begitu menyita pikiranku, dia hanyalah temen smsanku yang aku rasa terlalu kecil dan biasa buat aku. Dan waktu itu nggak kepikiran buat follow up dia. Sampai beberapa saat akhirnya aku nggak tahu malah kepikiran sama dia. Hari itu aku sengaja mengajak dia makan siang di sebuah tempat makan yang nyediain masakan jawa. Hm, dan bener juga, ternyata perasaanku akhir akhir ini yang sering kepikiran dia ternyata emang nggak salah. Aku hari itu jatuh cinta sama dia. Memang aku masih ingat bahwa dia nggak begitu special tapi perasaanku ini sudah mengalahkan semuanya.

Dari waktu ke waktu akhirnya aku lumayan deket sama dia, meskipun kedeketanku itu masih belum memungkinkan buat ngajakin dia pacaran. Lagian aku baru tahu kalo dia ternyata anak orang kaya. Aku bneran jadi sedikit minder. Beberapa kali aku online sama dia, sepertinya cukup menjadi bukti bahwa dia tu emang lumayan high profile. Agak aneh juga mengetahui kabar itu hingga ku putuskan buat menghentikan perasaanku. Karena aku tak punya nyali buat deketin dia lebih jauh.

***
Hari minggu yang lumayan cerah tapi ternyata cukup mendung disebelah barat langit. Minggu ini aku ingin sekali pergi ke kolam renang. Yah itung itung buat ngecilin perut yang mulai buncit. Plusnya yah mungkin bisa sedikit cuci mata dengan melihat kaki kaki cewek..
Lima menit sebelum aku sampai, ternyata ada sms dari Rani. Dia ngajakin aku jalan. Aku nggak tahu kenapa dia masih ingat sama aku, padahal dia sebenernya udah tak buang dari kehidupanku dan aku nggak mau inget dan jatuh cinta sama dia yang kedua kali. Aku sempat ragu dan terus aja masuk ke kolam renang tanpa memperdulikan smsnya. 10 menit kemudian ternyata smsnya di resend. Dan kali ini aku balas. Intinya dia pengen ngajak aku ketemuan di satu tempat tak jauh dari rumahnya. Setelah berfikir fikir sejenak, akhirnya aku memutuskan buat ketemu dia. Kangen juga rasanya.

Aku pulang, ganti baju dan nggak lupa bawain helm ‘cute’ punyaku yang selama ini sering tak bawain buat ngajak cewe cewe jalan. Di pertigaan itu aku nggak lihat Rani, dan setelah aku message, ternyata dia ada di dalem sebuah mobil Yaris warna merah. Wow! Memang aku pernah tahu dia punya SIM A yang terselip di dompetnya, dan di beberapa foto di profil situs jejaring pertemanan sosial memang aku pernah lihat gayanya di depan Yarisnya. Hahaha.. aku jadi mati gaya dan agak minder juga.

“Hai!” Sapanya pertama kali
“Hai! Duh, tak kirain kamu jalan dari rumah?!”
“enggak, soalnya mumpung nggak ada yang pake mobilnya, jadi aku bawa aja deh?! Mau jalan jalan sama aku?”
“tentu. Mau kemana?”
“Hm, ntahlah.. sambil kita pikir dijalan entar. Naik mobil aku aja ya?”
“duh, aku ngga bisa nyetir mobil Ran?! Kamu yang pegang ya?”
“oke wis! Make it easy!”
“kamu ngikutin aku dulu ya, motorku mau tak taruh tempat temen. Gimana?”
“boleh, nggak jauh kan?”
“enggak deket situ tu koq?!”
“oh.. yaudah”
Akhirnya aku berinisiatif buat nitipin motorku dirumah temenku yang kebetulan deket deket situ.

***

Aku duduk disebelahnya dan memperhatikan gaya pakaiannya. Sementara tangannya sibuk memegang setir dan beberapa kali mengoper persneling. Jalan raya Magelang- Palbapang memang kerap kali padat dihari hari minggu begini. Jadi boleh dibilang dia tidak bisa kalem mengemudinya. Hari itu dia pakai celana pendek, kira kira dua puluh centi di atas lututnya. pakai kaos putih dan gelang ungu di tangan kirinya. Safety belt yang dia pakai melewati tengah payudaranya yang lumayan berukuran sedang. Huh, sempet horny juga nih.
“baru kali ini kamu ngajak aku jalan. Tumben banget?” sapaku membuka percakapan setelah aku melingkarkan sabuk pengaman dan nyobain nyetel radio FM di mobilnya itu.
“hoo nih. Aku lagi bete”
“kenapa? Lagi ada masalah sama cowo kamu?” aku nggak tau dia punya cowo apa enggak sekarang. Terakhir sih, dia masih jomblo. Tapi koq ya kayaknya nggak mungkin cewek macem dia ngga punya cowo.
“cowo?! Enggak tuh. Lagi nggak punya malahan. Kamu gimana?”
“ah yang bener… hehe….”
“ih, apaan sih. Bneran nggak punya, suer?!”
“aku belum punya cewe Ran” aku menjawab singkat, aku nggak mau cerita sama dia soal gebetan gebetan yang semuanya nggak aku dapetin. Ntar daripada kebanyakan cerita malah dia tambah bete.
“aku capek kemaren habis tes kenaikan. Jadi ya sekarang aku ngajakin kamu pergi buat nemenin aku melepas penat. Hehe”
“halah! Aku dimanfaatin to ceritanya? Asem?!”
“ya enggak gitu maksudnya?!”
“lha kenapa koq kamu ngajak aku?”
“hm, ya nggak tau. Lagi pengen ketemu kamu aja kali ya?!”
“oh”
Aku mengaguminya dan sepertinya aku bakalan jatuh cinta lagi sama dia. Dijalan kami mengobrol banyak, kami mengobrol soal kabar sekolahnya, tentang hobinya bermain basket, tentang masakan masakan enak, dan hari itu dia mengajakku pergi ke pantai.

Jam satu siang, kami ada di pantai yang tidak begitu ramai. Tidak ada tiket masuk karena pantai itu masih alami. Kita hanya duduk duduk didepan mobil sambil beberapa kali melempar batu ke lautan lepas. Aku lihat dengkulnya yang bagus itu. Kakinya yang putih, kaosnya yang ketika sedikit telungkup maka akan kelihatan sedikit bagian belakang perutnya. Wah, anak kecil ini seksi juga kalo pake kaos kayak beginian.

“mau makan nggak?” setelah capek hanya duduk duduk dan cerita cerita yang nggak penting dia ngajakin aku makan.
“kayaknya masih kenyang deh?! Kamu laper?”
“hm, ya belum begitu sih, ntar aja ya sambil pulang?”
“iya, gampang. Kita mau kemana lagi? Udah hampir sejam ni kita disini. Sepi lagi?!”
“hm, pulang aja yuk? Sekalian cari makan di jalan”

Dengan sedikit malas kami kembali ke dalam mobilnya. Dia nggak langsung nyalain mesinnya, nggak tau nih anak?!
“kamu seneng nggak hari ini?” pertanyaan dia sedikit aneh
“ya lumayan sih?! Emang kenapa?”
“nggak papa?””kamu kenapa nggak cari cewe?”
“ya cari sih cari. Tapi belum ketemu yang pas deh kayaknya?! Ha ha ..”
“halah.. payah kamu.. kamu terakhir pacaran sama siapa sih?”
“duh, pertanyaan kamu kayak interogasi aja?!”
“ya maaf. Yaudah wes kalo kamu keberatan” sambil mulutnya sedikit cemberut.
“hahaha… ngambek ni……….?”
“enggak tu..” gayanya yang childish itu bener bener imut. Apalagi kalo kulihat lututnya yang kelihatan itu. Duh, aku jadi pengen. Ha ha ha ..
Akhirnya aku membuka sedikit ceritaku tentang pacaranku yang terakhir.
“hm, terakhir aku pacaran sama orang Semarang. Itu yang terakhir dan udah 2 tahun ini beneran nggak ketemu gantinya”
“hah? Lama banget?”
“ya gitu lah Ran…..”
“hmm, kamu ngapain aja hayo kalo pacaran?” pertanyaannya ini kayaknya sedikit memancing aku buat ngobrol yang enggak enggak. Ya mungkin walau cuman perasaanku aja.
“eh.. ehm, ya kalo aku sih biasa aja. Aku nggak mau macem macem. Standar aja sih ya… paling jalan jalan kemana, malam mingguan, makan bareng. Ya gitu gitu aja”
“sering lips kissing sama dia?”
“hush! Eh, pulang aja yuk.. udah agak sorean nih” aku sengaja nggak jawab pertanyaannya. Ujarku sambil berlagak ngeliatin jam tangan. Meski sebenernya aku tau ini jam berapa. Aku nggak mau terangsang sama dia. Ntar bisa repot.
“eh, jawab dulu to??”
Aku terdiam sesaat. Aku mikir mikir. Kayaknya lumayan ni kesempatan bisa buat ngrasain dia. duh, aku nggak tau malah sedikit horny sama dia.
“emang kenapa to?”
“ya Tanya aja.. aku blum pernah kayak gituan…………..” katanya yang berangsur melirih mengakhiri kalimatnya.
“ow… kamu pengen ya? Hayooo? Ngaku aja wes..”
“ih, apaan sih?! jawab dulu to…………”
“ehm.. kalo sering sih enggak… ya pas timing timing yang pas aja ..”
“enak ya?”
“iya doNk…” jawabku singkat. Aku beneran pengen dia jadi penasaran dan mau melakukannya denganku.
Dia diam sesaat dan mengambil hapenya dari dalam sakunya terus ditaruh di atas dashboard.
“Mau doNk diajarin sama kamu. Ha ha ha. …” kayaknya dia malu malu.
Aku deg degan banget. Mantan gebetanku ini terang terangan banget ngajakin ciuman!!
Aku membasahi bibirku dengan lidahku sesaat. Dan dia melihatku dengan seksama. Dia pun ngelakuin yang sama didepanku. Gerakan gerakan lidahnya membuatku tambah naik nafsu. Aku menolehkan tubuhku ke kanan dan dia kekiri. Jadi muka kami saling berhadapan. Aku sudah nafsu sama dia. Dia tak suruh menutup matanya
“tutup matamu ya?”
“enggak mau. Aku pengen liat”
Ha ha ha.. anak kecil ini lucu banget.
“yaudah sini..” tangan kiriku meluncur ke lehernya. Rambutnya lembut. Lehernya mulus. Sedangkan tangan kananku pegangan sama jok kursiku. Akhirnya aku cium dia. hanya kutempelkan saja. Ternyata dia diem aja. Kayaknya dia deg degan. Badannya agak bergetar dan aku merasakannya. Aku berusaha membuka mulutku. Dia masih diem aja dan aku jilat bibirnya. Hm, enak juga ni anak. Beberapa waktu kemudian. Mungkin dia bertingkah sesuai instingnya. Dia membuka mulutnya dan kita semakin seru. Sekarang dia merem dan kayaknya menikmati ciuman ini. Lidahku dan lidahnya bergerak gerak dan
Terdengar suara ringtone hapenya. Lalu kenikmatan ini berakhir sudah karena dia segera mengambil hapenya dan sejenak seperti ragu hendak mengangkat atau me reject nya. Ternyata dia mengangkatnya dan bicara sekitar setengah menit.
“siapa?” tanyaku
“mamahku… udah suruh pulang ni?”
“yaudah.. “ dia memelintir badannya ke arah kanan seperti orang pemanasan mau olahraga. “krtk krtk…”
“ha ha ha … pegel ya?”
“ he he he .. iya nih. Pulang dulu yuk?”
“ok..”
Setelah jalan kira kira lima menit dan tanpa bicara apa apa, aku menolehnya. Mungkin dia agak konsen nyetir. Mungkin dia buru buru pengen sampe rumah. Ternyata dia tau aku meliriknya dan dia hanya tersenyum kepadaku. Di jalan aku tidak berbicara banyak sama dia karena aku capek dan sempet beberapa menit ketiduran di mobilnya itu. Dan sampai di tempat temenku aku baru turun dan dia bilang terimakasih sama aku. Terimakasih buat ciumannya tadi mungkin. “ya sama sama.. I like it!”
“Like it too!” Jawabnya sambil ketawa “ he he he “
Oiya, sepanjang jalan itu kami nggak jadi makan. Mungkin dia udah lupa. Aku juga lupa. Kayaknya ciuman tadi bikin kita kenyang. Ha ha ha ha ha …

***
Sejak itu aku beneran jatuh cinta lagi sama dia. Duh, repot nih. Aku mulai memikirkannya lagi dan aku jadi ngrasa sering jadi orang romantis. Aku sering mengiriminya puisi puisi berbahasa inggris yang sering aku ambil dan aku modifikasi dari lagu lagu manca jadul gitu. Tapi sepertinya tanggapan dia biasa aja. Kayaknya deket lagi sama dia, jatuh cinta sama dia ini malah buat aku jadi nggak enak hati. Soalnya aku emang berfikiran kalo dia kayaknya engga jatuh cinta sama aku seperti perasaanku ini.
Waktu berlalu sampai suatu sore, aku lagi pulang kerja waktu itu kira kira jam 16.30an, aku lewat depan sekolah Rani. Di depan sekolahnya ada lapangan basket yang bila aku lewat situ pasti kelihatan anak anak yang lagi pada main basket. Aku belum pernah lihat Rani main basket di lapangan itu. Tapi menurut cerita Rani sih, dia katanya kadang main basket disitu. Aku memang suka sekali dengan gaya cewe yang main basket. Apalagi kalo dia tu cantik dan keren. Wah, aku beneran seneng. Aku bahkan punya foto Rani yang lagi pake kaos dan celana olahraga dan lagi bawa bola basket. Its her best photo I ever had gitu.
Sore itu berlalu dan aku sengaja melewati depan sekolahnya dan berharap aku akan melihat dia sedang bermain basket. Tapi setelah beberapa saat berjalan, dan sampailah aku di depan sekolahnya, ternyata nihil. Sore itu hanya ada beberapa anak laki laki yang maen basket. Dan aku berlalu begitu saja. Aku memacu motorku agak kencang karena kayaknya agak bete juga nggak bisa ngeliatin dia. hehehe..
Perjalanan dari kantorku untuk mencapai ke rumah butuh waktu sekitar 30 menit. Ada dua jalur yang bisa aku lewati yaitu jalur regular yang mana jalannya deket tapi sempit dan rawan macet. Sementara yang satu melalui Ibukota Kabupaten yang relatif sepi, namun agak sedikit jauh. Namun, aku seneng aja lewat situ. Soalnya aku bisa enjoy the traveling gitu. Kira kira lima menit setelah aku melewati depan sekolah Rani, sampailah aku di sebuah perempatan. Bangjo orang kebanyakan bilang. Aku berhenti sambil melihat timer di tiang lampu lalu lintas. Masih 58 detik lagi baru bisa lanjut. Ada sebuah sepeda motor spin warna item berhenti tepat di sebelahku. Hah! itu kan Rani. Aku merubah posisiku sedikit maju supaya aku bisa lihat wajahnya. Aku melihatnya dari arah kanannya. Hm cewek ini keren.. Dia memakai celana olahraga pendek, so, kaki mulusnya kelihatan. Kaos kakinya ngepres banget di mata kakinya. Sepatu putih, pake kaos dan kelihatan agak keringetan gitu, pake tas punggung, tanpa jaket, rambutnya di iket, dan helm yang lagi ngetrend itu. Helm yang harganya 0,25 juta. Hahaha.. warna nya putih, ada sticker ijo di bagian belakang helmnya. Tulisannya “ I’m a sex maniac” wush! Nakal banget ni sticker. Kacanya bening dan ternyata emang benar itu si Rani!
Sebelum sempat aku menyapanya, suara klakson mobil dibelakangku berbunyi nyaring, hingga lalu aku tancap gas dan ternyata Rani nggak tahu kalo yang tadi disebelahnya itu aku. Gaya dia naek motor agak lumayan kenceng. Dan akhirnya aku barengin. Aku buka kaca dan mencoba tersenyum kepadanya. Dan diapun akhirnya membalas senyumanku itu. Dan ternyata dia udah mau sampai ke jalan masuk ke rumahnya, sehingga dia ngambil belok kiri. Huh, aku beneran masih pengen ngelihat dia, dan akhirnya aku ikut belok kiri. Setelah sampai jalan gang akhirnya kita perlambat motor dan mulai ngobrol.
“hei, baru pulang hoo?”
“iya ni. Habis basket pasti kamu?”
“heeh… uh , seru banget wes tadi.. eh, mau kemana nih?”
“ya mau pulang..”
“emang lewat sini bisa?”
“hm……………boleh mampir kerumah kamu enggak? Udah lama kan kita nggak ngobrol ngobrol?”
“wuuuuuu… nggak boleh!”
“halah…”
“hehehe.. boleh boleh.. ayo aja”

Akhirnya aku sampai di rumahnya. Aku memarkir motorku dekat dengan motornya diparkir. Halaman rumahnya nggak begitu luas. Ada beberapa tanaman bunga disitu. Lalu aku dipersilakan masuk.
Aku melepas sepatuku dan kulihat dia masuk ke kamarnya dan nggak lama lalu keluar lagi Cuma masukin tas aja ni kayaknya. Dia lalu kebelakang mengambil satu botol air putih dan dua gelas.
“ni. Air putih ya?” sambil duduk disebelahku dan menaruh air itu.
“iya, gampang”
“gimana ni kabarnya?” Sapanya memulai perbincangan
“aku baik baik aja. Kamu?
“iya, aku juga….”

Akhirnya kami terlibat perbincangan yang cukup seru sampai sekitar lima belasan menit. Kami ngobrol soal pertandingan basketnya tadi. Dia begitu bersemangat buat cerita. Aku nglegani aja. Jadi teko tak dengerin aja.
Akhirnya dia selesai juga ngomongin soal basketnya tadi, dan dia bilang mau pipis sebentar. Hapenya masih ada di meja deket aku duduk. Kayaknya N*kia N series. Aku nggak tahu seri yang apa. Lalu, aku iseng ngambil hapenya itu. Wah ternyata di lock keypad pake code. Dan aku nyobain buat masukin kode tanggal lahirnya dan ternyata bener. Ha ha ha.. ternyata kode nya standar banget. Lalu aku liat di foto fotonya dia. hm, anak ini emang keren. Aku juga masih seneng ngeliatnya. Lalu ternyata Rani nggak keluar keluar juga. Dan aku iseng lagi mbuka mbukain folder di hapenya. Dan aku agak kaget, ternyata dia nyimpen film saru juga. Ada beberapa. Sepuluhan jumlahnya dan sebagian besar film film asia. Waduh, ternyata ni anak juga doyan kayak ginian. Hehehe kataku dalam hati. Berarti bener donk sticker di helm nya tadi. Emang dia maniak seks. Ha ha ha …
Akhirnya aku ngesend beberapa film yang aku belum pernah liat pake Bluetooth ke hapeku. Dan hapeku sama hapenya tak taruh meja aja. Astaga, ditengah tengah sending Rani keluar dan buru buru ngambil hapenya. Dan dia tahu kalo hapenya lagi ngesend file. Aku diem aja. Pura pura nggak tahu.
“hayo, kamu buka bukain hapeku to?”
“iya, hehe… habis kode kamu kurang aman tuh”
“emang kamu tau?”

“kalo aku nggak tahu ya aku nggak bakal bisa buka donk?!”
“hehe.. iya ya” kata katanya sambil agak berlagak cupu gitu.
“makanya lain kali diganti. Kalo tanggal lahir kan beberapa orang yang deket sama kamu pasti tahu lah”
“ow, iya juga ya.. oke deh. Eh, kamu ngesend apaan ikh?”
“ hehehe.. ya itu tu.. ternyata kamu doyan juga to kayak gituan?”
“hm, ya… sebenernya enggak. Tapi cuman iseng aja koq…”
“halah.. ngaku aja wes.,, nggak apa apa… wajar koq kalo kamu suka..”
“ya dikit,…. . ha ha ha “ ketawanya agak mencairkan suasana kita sore itu.
Aku nggak tahu kenapa dia nggak malu sama aku kalo ketahuan nyimpen file ‘payah’ di hapenya. Setelah selesai sending, aku merapatkan dudukku dekat dengannya. Lalu aku nyetel sebuah file ‘saru’ dan tak liatin aja sama dia.
“ih.. apa apan to?”
“hm, mau liat nggak? Bagus ni…”
Dia diem aja. Tapi sepertinya dia cukup tertarik ngliatinnya. Aku jadi horny banget sama dia. Dia memindah kaki kanannya menginjak kaki kirinya dan tingkah laku kakinya ini kayaknya karena dia nggak tenang mungkin dan mungkin juga horny. Hehe..
Aku melihat lututnya yang mulus. Aku pengen banget bisa memegangnya. Dan aku nggak mikir sopan enggak lagi. Aku taruh tanganku diatas lututnya yang kelihatan, maklum dia masih pake celana olahraga yang agak kendor. Dia diem aja, tapi tangannya memegang tanganku, mungkin dia menolak dan menghendaki tanganku pergi dari lututnya. Tapi tangannya diem aja. Jadi aku elus sedikit lututnya itu. Huh, …. Aku seneng banget. Kakinya mulus dan manis sekali kelihatannya. Putih dan halus. Aku beneran terangsang banget karena aku sedikit ngelus elus kakinya. Ternyata tangan dia pun enggak pergi juga dan tetep megangin tanganku, mungkin dia nggak pengen aku ngelus elus terlalu naik. Ha ha ha ..
“kamu nakal banget….” Katanya sambil melirikku agak nakal. Hapeku dimintanya dan lalu film tadi dia “pause” dan hapeku ditaruhnya diatas meja.
“hm, aku seneng bisa pegang kaki kamu”
“wuuuuuuuuu… dasar penggila kaki kamu! Hehehe”
“iya, kan kamu udah tau dari dulu”
“he eh”
“dirumah ada siapa aja?”
“ada aku sama adikku. Ortu lagi pergi mungkin bentar lagi pulang. Kenapa?”
“oh”
Aku nggak berani bilang sama dia terlau terus terang. Aku pengen nyerang dia pelan pelan aja. Aku lihat ruangan sekeliling. Kayaknya adikknya lagi dikamarnya.
“Ran, boleh aku pegang kaki kamu?”
“ih, nggilani………”
“ayo donk… aku pengen banget ni…”
Aku nggak nunggu dia njawab dan aku langsung meneruskan elusan kakiku. Mungkin dia risih banget. Tapi aku udah lepas kendali.
“tiduran donk, aku pengen pangku kakimu.. ayo donk Ran.. enak wes..”
Dia manut aja saat itu. Gila bener ni anak… hahaha…
Akhirnya dia tidur telentang dengan kepala bersandar pada sandaran samping sofa dan dua kakinya ada diatas pahaku. Moment yang paling extreme dalam hidupku. Baru kali ini ada cewe yang mau tak giniin…
Akhirnya aku elus elus kedua kakinya. Aku elus mulai dari lututnya sampai sekitar pergelangan kakinya. Kakinya beneran mulus dan aku seneng banget bisa mengelus kakinya sebebas ini. Beberapa kali aku lihat mukanya. Dia hanya senyum senyum aja. Hahaha… crazy banget!
Aku horny banget. Akhirnya tanpa bilang apa apa aku langsung mencium kakinya. Aku ciumi secara merata dari pergelangan kakinya sampai atas lututnya. begitu naik sedikit dari lututnya dia langsung memegang kepalaku. Dia nggak mau aku terlalu keterlaluan karena sebenernya ini udah keterlauan.
Sekitar 7 menit aku akhirnya lumayan puas menciumi kakinya. Lalu ku angkat badan Rani sampai posisinya hampir seperti aku pangku. Aku kepengen menciumnya. Aku cium lehernya dan aku gigit gigit kecil. Aku beneran gemes dan terangsang banget sama dia. Aku pikir dia juga udah agak horny. Akhirnya dia malah yang pertama kali mengarahkan bibirnya kearah bibirku. Dan kita pun berciuman dengan penuh emosi dan ekspresi. Tangan kananku sibuk mengelus elus bagian pahanya. Mulus banget. Dan tangan kiriku menjaga badannya supaya dia tetep posisi dalam setengah pelukanku.
Kita sama sama menikmati ciuman ini. Akhirnya setelah agak pegel, setelah kira kira 10 menit, ada suara adzan maghrib. Aku menghentikan perbuatan mesumku sama dia. Aku melepaskan bibirku pelan pelan. Masih sedikit lengket sama bibirnya. Setelah itu kita hanya saling menatap tanpa bicara apa apa. Aku lihat dia mengelap bibirnya dengan punggung tangan kanannya. Dan dia juga beberapa kali mengecap bibir dengan lidahnya.
“udah maghrib ni” kataku
“iya, minum dulu ni” kata dia sambil membenarkan celana pendek yang tadi kayaknya agak tak naikin biar aku bisa mengelus pahanya lebih bebas.
“iya” aku tuang air putih dua gelas dan aku kasihkan dia satu
“jangan bilang siapa siapa ya?”
“iya Ran”

Setelah aku minum, aku segera berpamitan sama dia hendak pulang. Aku nggak enak kalo kemaleman.
“Pulang dulu ya?” kataku mengakhiri kegiatanku sama dia
“iya. Hati hati ya!”
“he eh..”
Akhirnya aku ambil tasku dan hapeku yang tak taruh dimeja tadi, lalu buruan pakai sepatu dan ambil motor dan pulang.
Setelah menyalakan mesin motorku, aku tengok dia yang masih berdiri di depan pintu dan tersenyum sama aku. Dan aku lambaikan tanganku dan dia juga melakukan hal yang sama.
Aku pulang dan merasa puas sekali bisa menkmati kaki cewe sebebas ini! That’s a beautiful day!

2 comments:

  1. bohong kamu,mana pernah aku mencium kamu...pake horny - horny segala..otak ngeres!!makanya cari cewe jangan minumin obat puyer aja donk...
    rani.

    ReplyDelete
  2. @ atas

    Rani siapa ni? Rani kan banyak. Piss girl..

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...