Jalan Raya Barat, Januari 2013
Kamu duduk di depanku. Beberapa makanan
sudah siap kita santap. Kulihat sekilas di bawah meja sana. Sandal jepitmu yang
tidak seperti sandal jepit wanita, ah itu dia. Kakimu yang sudah lama ini tidak
pernah kulihat lagi. Ya, aku memang suka itu. Hanya sedikit, hanya sekitaran
mata kaki sampai ujung kaki. Kaki yang bersih. Dan juga beberapa bagian di
sekitaran siku tanganmu.
Sore itu kita ketemu setelah beberapa
waktu aku hanya sanggup menahan rindu. Sembari memulai minum orange squash,
pelan pelan ku coba mengurai ada apa di otak ini sehingga aku tak kuasa untuk
terlalu lama mengalihkan perhatianku.
“bapak ibu sehat?” tanyaku dengan
sedikit pelan
“ya, alhamdulillah”..
Dia memang seperti ini. Sembari melihat
meja sebelah, mulutnya terus membicarakan hal – hal yang rasionalistis, tanpa
memandang ke arah mataku, katakanlah memandang dahiku, kecuali sedikit saja.
Aku datang bukan untuk sebuah cinta. Cinta
itu sudah aku lempar jauh meski kadang tiba tiba benang bersambut dan seakan
akan ingin kutarik lagi cinta itu meski sulit dan benang itu tentu mudah putus.
Aku datang untuk menjalani proses ini. Proses yang membutuhkan waktu dan
membutuhkan hati yang benar benar harus hancur sampai dapat dibentuk kembali. Katakanlah
ini terlalu sadis, ya.. inilah aku seorang ekstrovert.
Aku bisa membaca hatimu baru beberapa
minggu terakhir ini. Dan, didepanku, kamu bicara dengan sangat tajam, fokus,
dan dalam. Itulah kamu yang sebenarnya. Ah, sayang sekali, alasan itu hanya
menambah daftar urutan kebaikanmu.
Kuakhiri pertemuan kita hari itu dengan
percaya diri. Aku bisa! Kewajibanku sudah selesai dan sekarang aku wajib untuk
melanjutkan perjalanan hidup. Melewati jalan pertama romansa kita, dan sekarang
(mungkin) untuk terakhir kali adalah sebuah pilihan pahit yang harus ditelan
dalam dalam seperti obat yang menyembuhkan. Aku memulainya dengan permainan,
aku hanyut, aku jatuh dalam, terlalu dalam ke hatimu.
Aku sadar untuk melepasnya, hanya dengan
satu syarat kala itu. Syarat yang terlalu indah untuk pecundang seperti aku. Dan
aku mendapatkannya. Yaa.. semestinya itu cukup. Tidak hanya cukup. Bahkan sangat
sangat lebih dari cukup. Harusnya, aku kembali menata pijakan tangga ini dengan
pikiran itu.
“selamaat pagiii….”
Aku membaca message nya disetiap pagi. Sebuah
pesan berjuta semangat yang selama ini aku dambakan.
Kalau bukan kamu, orang lain pun bisa :)
Kost, Januari 2013
nice post kang,,jajal ngeblog ben gaul iki kang,,slam kenal New Bie
ReplyDelete@Tiyang Magelang : Oke, terimakasih atas kunjungan dan komentarnya ya
ReplyDelete