Tuesday, April 7, 2015

Twaalf Uur Van Semarang, Film Tentang Sosial Budaya di Semarang


Twaalf Uur Van Semarang

Halaman Balai Kota Semarang siang ini panas sekali (Sabtu 28/3/2015). Beberapa menit sebelum pukul 10 pagi saya sudah merapatkan smash di deretan tempat parkir. Baru ini saya masuk ke kompleks Balai Kota di Jl. Pemuda itu. Bangunannya khas dan indah.. 

Tidak lama, saya segera bergegas ke gedung Pusat Informasi Publik (PIP) yang ada di sayap kiri kompleks. Dari sebuah papan informasi, diketahui salah satu ruangan di gedung itu merupakan studio mini. Waini tempatnya! Ucap saya dalam hati. 

Siang ini saya hendak menghadiri acara screening film Twaalf Uur Van Semarang. Film apa itu? Dari judulnya sudah ketahuan kalau ini film bakalan bercerita tentang masa-masa Belanda di Semarang. Kelihatannya menarik, bukan? Saya mengetahui informasi pemutaran film ini dari Halim Santoso, salah seorang rekan saya yang me retweet dari @lopenSMG. Lopen Semarang sendiri merupakan salah satu penggagas ide film itu.

Setelah mengisi daftar hadir pada petugas, saya disambut Muhammad Yogi Fajri, yang sebenarnya tadi malam saya add facebooknya :D. Dia merupakan produser film ini men, juga koordinator komunitas Lopen yang kalau di Kota Toea Magelang, biasa kita panggil Gubernur.

Detik jam tangan mengarah pukul setengah 11 siang, tapi tanda-tanda film belum juga akan dimulai. Saya menghabiskan waktu sembari mengobrol dengan dua pemuda dari Banyumanik diruang tunggu.

**
Ruang studio mini berada di lantai dua dengan konfigurasi seat sejumlah 8 x 4 shaf. Kursi merah dengan automatis lipat, dengan screen standar ukuran sedang, dan proyektor merk Panasonic. Setelah beberapakali memutar trailer, film pun dimulai.

Widih.. keren juga ternyata film buatan kawan-kawan Lopen ini. Film ini dibuat sekitar 4 bulan belakangan dan menggandeng beberapa pihak seperti Kedutaan Besar Belanda, Yayasan Widya Mitra, dan beberapa sponsor pendukung. 

Film itu merupakam sebuah antologi yang mengambil sisi-sisi budaya, sosial dan sejarah di Kota Semarang. Setting waktunya dari pukul 6 sore hingga 6 pagi, sesuai dengan judulnya 12 jam di Semarang. Beberapa spot menarik Semarang terbidik dengan bagus dalam beberapa scene. Menurut para penggagas film, kota Semarang memiliki keindahan justru pada saat malam hari. Dimana saat warga terlelap, sebagian warga banyak yang beraktivitas dari pengolahan kuliner yang diceritakan dalam sebuah perjalanan kubis, kemudian disambung dengan kisah hidup pemuda bernama Jaka yang menggantungkan hidup bekerja sebagai kuli di pelabuhan di sela-sela jam kuliahnya.

Selain itu tidak lupa beberapa cerita lain dengan mengambil unsur budaya yaitu pertunjukan gambang Semarang, dan unsur sejarah dengan cerita nostalgia seorang Belanda yang dahulu pernah tinggal  di Semarang.

Salah satu cerita drama menarik adalah perjalanan dua orang pemuda untuk menonton pertunjukan Gambang Semarang. Mereka dihadapkan pada permasalahan rumit disepanjang perjalanan. Dialek juga umpatan mereka terasa Nyemarang banget! Bahkan tidak lupa, angkot disebut dengan Daihatsu :D Berhasilkah mereka menonton pertunjukan?

***
Film bagus ini rencananya akan roadshow dibeberapa kota. Setelah diputar di E-Plaza dan Balaikota Semarang, selanjutnya akan menuju Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Untuk informasi lebih lanjut silakan follow @lopenSMG.

Salam heritage!

3 comments:

  1. Beneran keren ya?
    Wuih, jadi kepingin liat..

    ReplyDelete
  2. Karya anak muda yang perlu didukung dan harus dilirik yah...
    Paling suka dengan endingnya yang berinti Semarang yang dulu memang lebih indah dari sekarang ^^

    ReplyDelete
  3. @Ain Mungil : Iya.. ini film keren. Harus ditonton. :D
    @ HalimSan : Betul koh.. wah, jadi berharap blusukan Solo juga ikut bikin film :D

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...