Tuesday, November 10, 2015

Ho Tjong An, Satu Aannemer Kreta Api Tionghoa (Kutipan Majalah Sin Po Tahun 1919)

Sekitar tiga bulan lalu, saya bersama komunitas tercinta Kota Toea Magelang (KTM) mengadakan jelajah spoor #4 yang merupakan kegiatan semi olahraga yaitu trekking antara Stasiun Bedono hingga Stasiun Ambarawa. Dalam perjalanan trekking empat jam tersebut kami melewati jalur-jalur gerigi yang legendaris dan jalur-jalur ekstrim yang kami lewati sejenak mengingatkan kami pada sosok Ho Tjong An. Siapa dia?



Dibawah ini telah saya ketik ulang dengan penyesuaian ejaan, sebuah artikel dari Surat Kabar Sin Po edisi tahun 1919 yang akan menyibak kehidupan sang pemborong beberapa jalur kereta kuno di Jawa. Salah satunya jalur antara Ambarawa – Secang yang kami trekkingi tersebut. Selain menguraikan berbagai kisah proyek kereta api, artikel berikut bagi saya juga sangat menginspirasi. Ho Tjong An mengajarkan kepada kita bahwa dengan semangat bekerja, maka akan tercapai sebuah kesuksesan. Dalam bekerja, kita akan berhadapan dengan banyak hal. Sikapilah dengan bijak dan cerdas. Juga, jangan lupa berbuat baik terhadap lingkungan dan sesama manusia. penasaran?



Satu Aannemer Kreta Api Tionghoa

Oleh : Liok An Tjoe



Tuan Ho Tjong An alias Kwik Tjong An ada satu antara penduduk Temanggung yang termasuk suda berusia tinggi, sekarang 78 taon. Tetapi di dalem ini usia ia masi urus sendiri ia punya Toko Besi Thay Thjiang di sabelah pasar, dibantu oleh brapa penggawenya.


Jika jam 8 sore toko suda tutup, tuan Ho itung pendapetan dari penjualan itu hari, masukan buku, balesin surat-surat atawa minta pesen barang. Ini semua pekerjaan ia tanganin sendiri, maka kadangkali sampe tengah malem semua urusan baru rampung, en tuh pagi-pagi orang ketemuken ia suda bangun.


Ia ada mempunyai kesukaan bekerja, kesehatannya masi bagus sekali, malah tidak jarang ia pergi ke desa sendiri buat beli tembako atawa lagi pinjeman.


Tatkala baru ini saya dateng di Temanggung dan kunjungin tuan Ho Tjong An, saya ketemuken ia sedang hadepin meja tulisnya sembari baca Sin Po Chinnese Editie, yang itu pagi ia baru terima.


Sebagai umumnya Tionghoa totok, Tuan Ho ada taro banyak perhatian pada nasibnya kita punya tanah air di ini ketika. Yang membikin saya heran di dalem itu usia ia masi bisa membaca surat kabar dengan tanpa gunakan kacamata! Suaranya masi teges betul dan seorang yang senantiasa gembira dan hangat. Ia ada satu all round auto didact atawa seorang yang didalem segala hal bisa bekerja sendiri tergolong orang-orang luar biasa.


Mari disini saya tuturkan ia punya hikayat buat menjadi satu kaca bahwa kapercayaan pada diri sendiri, kejujuran dan keuletan ada ambil bagian penting didalam orang punya nasib.



Mengembara ke Semarang



Tuan Ho Tjong An terlahir di Tungkwan, Canton pada taon 1841. Waktu ia berumur 7 taon ayahnya meninggal maka ia lantas ikut pada Boo-kunya. Sesuda brangkat besar, ia membantu lakuken pakerjaan tani pada itu famili. Berhubung dengan banyaknya pekerjaan yang mesti diurus, tuan Ho melaenkan bisa kunjungin rumah sekola brapa bulan saja. Cuma kapan ada sempet ia minta sobat-sobatnya yang mengerti tulis kasi ajar.  

Ia bantuin familinya bekerja sampe berusia 27 taon. Kemudian ia terbit ingetan akan mengembara ke laen negri. Begitulah dengan seorang diri ia menuju ke Semarang, dimana ia lantas bekerja pada satu mebelmaker sebagai tukang kayu. Ia bekerja dengan sunggu hati, maka bosnya merasa senang atas pekerjaannya.


Tuan Ho gunakan motto Djin Boe Sin Poet Lip. Atawa jika orang tida dapetkan kapercayaan tida akan bisa berdiri. Kapan berjanji pada orang didalem segala hal, ia tida pernah patah janji atawa mangkir, maka orang-orang yang berurusan padanya merasa puas.


Kapercayaan yang ia dapet dari bosnya bertambah lama bertambah besar. Sesuda merasa punyaken tenaga berdiri sendiri, Tuan Ho lantas buka mebelmakerij. Lantaran tabiatnya yang jujur, cepet sekali ia dapetkan banyak langganan, diantara merika itu sebagian ada orang-orang Eropean.


Sesuda berdiam di Semarang brapa taon lamanya ia lantas menikah pada satu nona dari family Kang di Kebon Cina. Lambat laun, perusahaannya Tuan Ho Tjong An bertambah besar. Lalu ia luaskan pakerjaannya dengan lakuken pemborongan pendirian rumah-rumah di Kota Semarang. Pekerjaan ini ada menyenangken juga hasilnya. Sementara orang-orang yang berurusan padanya pun merasa puas.



Bekerja Buat Irigasi dan Dikunjungin Perampok



Sebelon Tuan Ho Tjong An bertindak di kalangan pekerjaan lebih besar yaitu ia lakuken pekerjaan aannemer (pemborong) jalanan kreta api, lebih dulu ia pegang pemborongan irrigasi di bilangan Demak dalem taon 1897. Satu taon lamanya pekerjaan ini ia pegang dengan kesudahan yang memuaskan pada pembesar yang tersangkut. Maka tatkala di bilangan Bojonegoro kembali dilakuken pekerjaan untuk bikin waduk-waduk dan pintu-pintu air oleh ahli irrigasi ia diwajibkan urus lagi itu usaha.


Pekerjaan ini kali ada lebih besar dari yang duluan maka kuli-kuli yang dipake sampe sejumlah lima ratus. Supaya bisa lakukan penilikan dengan betul, Tuan Ho sewa satu rumah di Desa Bulun dimana ia tinggal berlima terdiri dari mereka yang masi bersangkutan family dan jadi pembantu-pembantunya. Kadang-kadang saja ia kembali ke Semarang buat urus pekerjaan-pekerjaan lain. Tuan Ho Tjong An bilang buat bisa urus pekerjaan besar, ada perlu dengan bantuannya orang-orang yang kita boleh andelkan dan setia, kerna tenaganya satu orang niscaya tida bisa tilik seantero jurusan.


Pada itu jaman dimana perhubungan jalan masi sukar sementara perkara perampokan pun sering terjadi ada perlu sekali orang berlaku ati-ati terutama jika mengenakan urusan uang. Lantaran amat berabe, kapan mesti bawa peti besi dari Semarang ke bilangan Bojonegoro apalagi satu waktu tempat tinggal itu pun mesti pindah pula ke desa yang lebih deket dimana ia harus urus pekerjaannya. Maka sebagai tempat simpan uang Tuan Ho gali satu lubang di bagian atasnya ditutup oleh balai-balai tempat tidur. Buat tempat simpen uang tembaga dan sedikit uang perak ada ditaro di dalem satu peti kayu, yang diletakken di samping tempat tidur.


Pada satu malem pondoknya Tuan Ho telah disatronin ileh kawanan perampok yang terdiri dari 13 orang, dikepalaken oleh satu haji. Mereka dateng dengan bawa macem-macem senjata dan mengancem akan gunakan kekerasan jika tida dikasi uang. Ia orang mengerti bahwa di dalem pondok itu ada disimpen banyak duit. Dengan sabar Tuan Ho bilang bahwa ia melaenkan satu penggawe saja, Tawken (bos) nya sedang pergi ke Semarang. Maka itu malem di situ tida ada banyak uang. Ia unjuk itu peti kayu dan silahken ambil.


Ini peti yang terisi uang tembaga dan sedikit uang perak mestinya aken dipake bayaran kuli besok paginya mempunyai jumlah f 150. Lalu diangkut. Besoknya Tuang Ho laporken ini kejadian pada polisi. Atas kecakepannya polisi di Bojonegoro itu kawanan perampokan tida lama dapet dibekuk. Pengadilan lanraad di itu tempat telah hukum pemuka dari itu kawanan lima taon lamanya, yang laen-laen dari satu sampe dua taon.


Pekerjaan itu tatkala ampir selese, Tuan Ho suda pegang pula pekerjaan bikin jembatan-jembatan di Solo-vallel. Lebih luas dan lebih besar pula pekerjaan yang ia urus belakangan ini. Tetapi seperti yang suda kejadian, pun ini kewajiban ia suda lakuken dengan betul dan memuaskan para pembesar yang tersangkut.



Jadi Aannemer Kreta Api



Pada taon 1899 buat pertama kali Tuan Ho Tjong An trima pekerjaan borong pekerjaan buka tanah untuk jalanan kreta api yang itu tempo mau dipasang oleh S.J.S jurusan Rembang – Blora – Cepu. Bagian jurusan Blora – Cepu Tuan Ho pegang buat harga f 50.000. Kuli yang dipake setiap harinya ada di bates antara 1500 sampe 2000 orang. Kemudian diteruskan pula antara Blora – Rembang buat harga f 45.000. Pekerjaan buka jalanan kreta api ini ada jau lebih sukar dari pekerjaan irrigasi, sebab mesti buka-buka utan-utan dan kadang-kadang kebentrok dengan kepercayaan-kepercayaan dari penduduk pribumi, seperti batu-batu besar yang dianggep angker, pohon pohon yang di percaya ada menjadi tempat kediamannya setan dan laen-laen lagi.


Ia tida boleh menantangin itu kepercayaan, sebab kapan demikian ada kans kuli-kuli itu tida mau bekerja, lantaran takut. Maka ia pun kudu ikutin itu kepercayaan, yang bikin slametan, sedekah dan laen-laen lagi. Kadangkali menanggap wayang, agar kuli-kuli tida sangsi pula dan percaya itu penunggu-penunggu utan atawa setan-setan suda diusir pergi tida bakal mengganggu mereka pula. Buat bikin slametan dan laen-laen keperluan lagi, satu waktu menelan onkost sampe beberapa puluh rupiah, sebab mesti potong kerbo, kambing, ayam, dan laen-laen lagi, untuk kasi makan pada itu ratusan kuli. Tetapi Tuan Ho tida mau pandang itu onkost kecil-kecil, ia turutin kepercayaan mereka agar pekerjaannya tida jadi terhalang.


Begitu pekerjaan itu selese Tuan Ho suda borong pula pekerjaan membuka jalanan kreta api antara Willem I – Secang dan Secang – Parakan. Grendverzet ada 143.000 m3. Pekerjaan ini ada amat luas, maka Tuan Ho merasa perlu buat pindaken rumah tangganya ke Temanggung, dimana ia tinggal sampe sekarang ini. Tetapi pada jaman itu belon ada kreta api yang hubungkan Semarang dan daerah Kedu, maka Tuan Ho terpaksa naek kreta yang ditarik oleh empat kuda menuju ke Salatiga, dari situ terus ke Ambarawa, kemudian ke Secang dan terus ke Temanggung. Kuda-kuda itu saban sampe di kota besar kudu diganti yang masi seger. Diwaktu menanjak Tempuran, kuda-kuda itu diganti dengan sapi, sebab tanjakan itu ada terlalu tinggi dan menikung – nikung. Seperti pembaca tau jalanan kreta api yang dilintasin ini tempat ada gunakan gigi-gigi, tandradbaan, sampe panjangnya berapa KM, dan mesti jalan kliwat pelahan, seolah-olah merayap.


Jalanan kreta api pada itu tempo yang suda ada adalah jurusan Semarang – Solo. Onkost kendaraan masi kliwat mahal, antara Semarang – Temanggung, kudu diletaken di dalam tempo dua hari, menginep satu malam di Ambarawa lantaran jalanan masi amat jelek, dan onkost buat itu orang harus bayar f 60 (lima puluh rupiah), belon teritung persen kutsir dan knecht.


Jika orang mau pake cara yang lebih hemat,jalan naek pedati atawa serupa grobak yang ditarik oleh dua kuda, atawa tandu yang dipikul oleh empat kuli, tetapi ini macem kendaraan ada jauh lebih lambat. Sampe ke Salatiga suda memakan tempo lebih dari setengah hari, hingga orang kudu menginap. Dengan gunakan tandu perjalanan Semarang – Salatiga menelan tempo satu hari.


Grondverzet (pembukaaan lahan) yang ia mesti bikin antara Ambarawa – Secang, Tuan Ho Tjong An terima buat harga f 390.000, kerna bukan sedikit jurang yang mesti diuruk dan gunung yang mesti dipotong agar tida kliwat menanjak. Kuli yang dipake setiap harinya tida kurang dari 3000 orang. Kemudian pekerjaan ini ia sambung buat buka tanah yang hubungken antara Magelang – Secang dan Secang – Parakan yang ia borong buat harga f 350.000.


Pekerjaan ini ia bikin dalam tempo kurang lebih 3 taon dan selese pada taon 1903. Waktu lakuken pemeriksaan berhubung dengan pekerjaannya di bilangan Ambarawa, Tuan Ho Tjong An pernah alami satu kecelakaan. Tatkala ia pegang les kendarannya, sang kuda binal. Tuan Ho telah jatoh dan sakit berat. Ia luka di bagian dalem badan. Ada menjadi ia punya kesukaan buat pegang les sendiri di waktu bikin pemeriksaan, dengan demikian tuan Ho Tjong An anggep ia tida usa tergantung pada laen orang; segala waktu ia bisa bikin perjalanan sendiri, tida perlu tunggu kusir.


Tuan Ho telah sembuh lagi dengan pertolongannya tabib The Kiem Sia. Sampe sekarang ia pun taro kepercayaan besar atas mustajabnya obat-obatan Tionghoa.


Melihat perdagangan Lisong (serutu) itu ketika ada baek sekali pasarnya, Tuan Ho lantas bikin sigaren fabriek di Temanggung dengan undang tukang-tukang dari Manila (Filipina) sejumlah 40 orang. Tetapi ini usaha telah gagal sebab, itu tukang-tukang dari Manila tida cocok segala-galanya dengan kebiasaan orang disini. Maka sesuda bekerja brapa bulan lamanya di Temanggung, mereka dikirim pula ke tanah airnya, buat mana Tuan Ho Tjong An menanggung kerugian lebih dari sepuluh ribu rupiah kerna perusahaan itu lantas dibrentikan, sementara semua material dijual dengan rugi.



Usahaken Laen-Laen Pekerjaan



Pada taon 1907 Tuan Ho Jong An trima borongan pekerjaan bikin grondverzet dari S.C.S. Pekerjaan ini ia lakukan kurang lebih dua taon lamanya dengan dapet pujian bagus dari maskapai tersebut. Tatkala pada taon 1912 di Semarang dilakuken persediaan untuk bikin Kolonial Tentoonstelling di Telogo Bayem atawa yang sekarang dikenal dengan nama Pietersijthoflaan, yang termasuk Candi Baru, Tuan Ho Tjong An kembali dapet pegang pekerjaan buat buka ini tempat jadi satu lapangan, dengan adaken juga jalanan-jalanan besar dengan harga f 60.000. Tempo ini pekerjaan selese pada taon 1913, Tuan C. Wielenga atau bouwkundige yang diwajibken bikin penilikan buat itu pekerjaan, telah beriken satu verklaring (penilaian) bagus pada Tuan Ho Tjong An punya kecakepan bekerja.


Berhubung dengan makmurnya Kota Semarang pada itu tempo, ia lantas buka satu toko di Pekojan dengan pake merk Thong Thay Kongsie, kapitaal f 60.000, terutama dagangken barang dari besi. Begitu toko ini dibuka Tuan Ho dapet pula borong pekerjaan jalanan kreta api di Teluk Betung. Sebagai pengurus dari Toko Thong Thay ia lantas angkat salah satu familinya, sementara ia lalu melawat ke Teluk Betung. Tetapi baru kurang lebih satu taon lamanya ia urus itu pekerjaan, peperangan Eropa telah terbit. Berhubung dengan berbagai kesukaran untuk dapetkan material di itu ketika, maka berapa bulan kemudian, atas mufakatnya kedua pihak, itu pekerjaan ditunda. Di dalam laporannya sertifikat chef dari exploitative dari Stats Spoorwegen di Zuid-Sumatra, yang memake tanggal 25 November 1914, selaenya beriken pujian buat pekerjaan yang Tuan Ho Tjong An suda lakuken, juga, ia ada menerangken bawa di dalem tempo kurang lebih 15 bulan lamanya, dengan begitu sedikit tenaga, Tuan Ho sudah potong pohon-pohon, buka lapangan, bikin rata terrain. Angka-angka dibawah ini yang saya cabut dari dalem sertifikat ada menunjukkan ia punya kecakepan bekerja;



84.000 m2 boschkappen en schoonmaken terrain

525.000 m3 grondverzet

3.200 m3 metselwerk a kunstwerk

3.000 m2 beharding van wegen



Berhubung dengan kenaekan harga segala barang pada itu tempo, toko Thoeng Thay punya persediaan besi-besi telah dapetkan harga kliwat bagus. Di dalem tempo satu taon lebih telah citak keuntungan bersih tida kurang dari 200.000 rupiah. Uang keutungan ini oleh Tuan Ho tida ditarik tapi ditambahken pada kapitaalnya toko Thoeng Thay.

Pada akhir dari taon 1915 kongsi kreta api N.I.S yang telah kenal baek pekerjaan aannemer Ho Tjong An telah serahken pula pekerjaan berdiriken rumah-rumah di Gergaji – Semarang buat personel. Di taon 1916 ia terima pakerjaan borong perkerjaan bikin kali Pasanggrahan dari S.C.S.


Melihat pasar lisong atawa serutu kasi harapan bagus, meski yang pertama kali suda gagal, tuan Ho tida jadi mundur, ia berdiriken pula fabriek serutu yang kedua kalinya dengan pake merk Tjong An Ho. Ternyata di dalem percobaan yang kedua kali ia telah berhasil. Hal ini saya nanti tuturkan lebih jau di bagian sebelah bawah.


Melihat fabrieknya lisong dapatken kemajuan tuan Ho lalu buka toko tembako di Patekonan, Batavia, yaitu pada akhir taon 1916 dengan pake merk Kwong Yik. Tetapi lantaran orang yang diangkat jadi pengurus kurang cakep, maka satu dua taon kemudian ini toko terpaksa ditutup. Buat gantinya ia buka pula satu toko tembako di Sukabumi.


Rupanya pekerjaan buka perusahaan toko tembako bagi tuan Ho kurang cocok. Belon berapa bulan itu toko dibuka, atawa toko itu suda ditimpa bahaya kebakaran. Lantaran itu toko tida dipertanggungkan pada asuransi, ia telah menanggung kerugian sekitar f 12.000.


Pada taon 1917 ia buka perusahaan meubelmaker di Temanggung. Barang-barang pembikinannya, sebagai perabot rumah tangga dan laen-laen lagi ia kirim ke kota-kota yang berdeketan, sebagi Magelang, Jogja, Solo dan laen-laen tempat lagi. Di dalem taon 1919 ia buka perusahaan steenbakker. Ini perusahaan ia kasi anaknya yang paling besar, tuan Ho Siauw Ing buat urus. Ia bikin batu-mateng (bata) dan genteng. Belakangan, tatkala tuan Ho Siauw Ing pindah ke Semarang lantaran tida ada yang urus, sementara tuan Ho Tjong An kekurangan tenaga buat tilik sendiri itu steenbakkerij, maka itu perusahaan terpaksa dibrentikan.


Di dalem banyak pekerjaan Tuan Ho Siauw Ing telah kasi unjuk, ia pada satu pemuda yang bisa bekerja; ia telah dapetkan perajaran di H.B.S Semarang. Sayang, di dalem usia yang masi muda sekali telah menutup mata. Di dalem itu taon 1919 juga Tuan Ho terima borongan pekerjaan buka jalanan kreta api antara Babat-Tuban-Merak-Perak, yang ia bikin rampung di dalem taon 1920. Grondverzet di ini bilangan ada 500.000 M3. Tuan J. Knol afdelings-ingenieur dari N.I.S adamenerangken di dalem verklaring, bahwa pekerjaan yang dilakuken oleh Tuan Ho ada sanget menyenangken baginya.


Di dalem itu taon juga,toko besi Thong Thay di Pekojan Semarang terpaksa dipindahkan ke Temanggung, lantaran merosotnya harga barang yang hebat sekali dan di laen fihak dikenaken O.W belasting sangat berat. Di Temanggung itu toko ditukar merknya jadi Thay Tjiang sehingga sekarang ini. Keuntungan yang toko Thay Tjiang dapatkan di waktu perang Eropa, telah abis setelah harga barang terus merosot.


Di dalem taon 1923 tuan Ho Tjong An buka perusahaan empang di Tanjung Priok dengan kapitaal f 40.000 pake merk Fi On Kongsie. Tapi ini kongsi pun tida bisa berdiri lama, kerna ikan-ikan bandeng yang dipiara di itu empang senantiasa dapatken gangguan banjir. Sesuda ini kongsi pemiaraan ikan ditutup, tuan Ho buka drukkerij di Pintu Besar, Batavia dengan pake merk Ching Hua In Soe Kwn. Sebagai juga itu perusahaan empang, ini drukkerij buat tuan Ho rupanya pun tidak cocok. Orang yang diwajibken urus itu pekerjaan kurang cakep, makatelah menanggung kerugian. Satu taon belakangan itu drukkerij ia kasi over pada laen orang dengan menanggung rugi lebih dari 6000 rupiah.



Sigaren Fabriek Tjong An Ho



Sejak puluan taon dulu Temanggung ada menjadi Jawa punya satu-satunya gudang tembako. Maka di ini kota pun ada berdiri fabriek-fabriek lisong Djeman belasan taon yang lalu adalah fabriek serutu The Djie Ko dan The Soen Tian yang terkenal sampe Jawa Kulon dan Seberang. Sekarang di itu kota pun masi terdapat beberapa fabriek lisong tetapi yang paling besar melaenkan ada dua saja. Yaitu pertama fabriek lisong kepunyaan Tuan Ho TJong An dan yang laen kepunyaan Tuan The Kiem Hok.


Penggawe dari sigaren fabriek Tjong An Ho lebih dari 300 orang perempuan dan lelaki. Tida jarang fabriek ini bekerja malem,terutapa kapan bulan puasa. Fabriek ini telah dapatken kemajuan pesat setelah berada di bawah pengurusannya Tuan Ho Thiam Hok,anak ketiga dari Tuan Ho Tjong An. Siapa telah mulai pegang ini perusahaan sejak taon 1934, seabisnya kembali dari Tiongkok.


Tuan Ho Thiam Hok pulang ke tanah aer sesudahnya tamat belajar di dalem T.H.H.K Temanggung pada taon 1923 dan masuk di Ling Nan Universiteit di Canton. Tiga taon lamanya ia belajar di Ling Nan,kemudian ia pindah ke Chi Nan Ta Hsioh di Shang Hai. Ia ada kawan sekolah dari tuan-tuan Tan Tin Ho dan P.Z Chen yang oleh surat-surat kabar Tionghoa digelarin Bing Thay Thouw, dua speller dari Loh Hua.Tim yang terkenal.


Sebelum kongsi Aniem melaerken perusahaannya sampe di Temanggung, yang baru terjadi pada taon dulu, fabriek lisong Tjong An Ho lebih dulu sudah pasang instalasilistrik sendiri supaya menggampangken jika bekerja malem, Rajang daun tembako dan lain-lain. Ruangan fabriek sekarang diperluaskan dan perusahaan itu termasuk satu antara industry yang penting buat daerah Temanggung dan daerahnya. Lisong dari sigaren fabriek Tjong An Ho ada tersebar di seluruh Jawa sampe seberang.



Suka berbuat kebaikan



Sebagaimana umumnya orang Tionghoa kuno, Tuan Ho Tjong An ada tjin tjay. Ia suka beriken pertolongan pada kenalan kenalan atawa sanak familinya yang berada di dalem keadaan susah. Banyak diantara kenalannya yang sukar dapetken penghidupan di sini telah dikirim pulang ke Tiongkok atas ia punya ongkos.


Waktu saya kunjungin Temanggung dan singgah tempat kediamannya, saya dapetken tida kurang dari 12 tetamu yang suda lama berdiam di rumahnya tuan Ho, sebab mereka belon dapetken pekerjaan. Mereka berdiamdi rumah yang ditinggalin oleh tuan rumah, terpisah dari toko. Derma-derma buat Tiongkok selalu tunjang dengan senang.


Segala pekerjaan guna amal tuan Ho senantiasa terbuka kantongnya. Ia tidak pernah mengomel guna sokong pekerjaan-pekerjaan baek, sebab ia anggep segala pekerjaan yang berguna bagi sesamanya ada pantes sekali dilakuken oleh orang-orang yang bisa member pertolongan.



Pujian-pujian yang ia dapatken



Di atas saya telah sebutken saja berapa pekerjaan besar yang Tuan Ho Tjong An pernah lakuken. Masi banyak pula pekerjaan yang pernah ia urus seperti bikin rumah-rumah tinggal dan gudang-gudang di Semarang, Temanggung, Magelang,Jogja dan laen-laen tempat dengan menyenangken pada orang –orang yang berurusan padanya. Bikin betul jembatan-jembatan seperti di Kali Salaman dan laen-laen tempat pula. Jika saya mesti buat satu persatu ada terlalu banyak.


Satu bundle surat-surat tua dan surat-surat pujian dari orang-orang yang ternama seperti tuan P. van Vreeswijk, Chef van den Anjeg van den Semarang Joana Stoomtram Mij, dari tuan J. Neeberg adj, insinyur dari N.I.S Mij, dari tuan R. Engelberts Boukwindie dari N.I.S dari tuan L. Mengelaar Meertens, Sectiachef van den Annleg S.C.S dan laen-laen lagi. Yang kebanyakan dibikin diatas segel dar a f 150 ada diserahken pada saya buat dipreksa.


Juga bukan sedikit pengalaman ia telah dapatken sejak ia lakukan itu berbagai-bagai perusahaan tetapi kiranya cukup dengan apa yang saya suda tulis diatas. Jika saya mesti menulis pula yang laen-laen, nanti jadi terlalu panjang. Dari lukisan diatas ada ternyata bahwa Tuan Ho Tjong An meski melaenkan seorang tani biasa, yang tidak dapatken pengataoan dalem sekolah, jangan kata sekola tinggi,  tetapi telah bisa lakukan pekerjaan besar, ya satu pekerjaan yang satu student belon tentu bisa tempuh.


Jika saya inget tuan Ho Tjong An, di mata saya lantas terbayang kita punya laluhur di jaman dulu yang telah buang banyak tenaga di ini kepulauan dan berjasa tidak sedikit guna kemakmurannya ini daerah.


Sebelum saya tutup ini tulisan, ada baek juga jika saya tambahken di sini, cara bagaimana tuan Ho Tjonbg An yang tidak dapatken pelajaran dari rumah sekolah, bisa tanganin itu pekerjaan-pekerjaan besar dan belon sekali meleset atawa bikin kapiran satu urusan yang ia trima. Itulah menandakan ia punya kepandaian bekerja.


Orang niscaya merasa kagum seorang yang tidak mengerti ilmu itung tinggi atawa wiskunde brani borong pekerjaan buka jalanan kreta api. Sebelon ia trima itu pekerjaan, lebih dulu ia preksa itu tempat tempat yang mesti dibuka, kemudian bikin peta-peta, barulah diitung berapa banyak tenaga ia mesti pake buat buka itu jalanan dan dalem tempo brapa lama mesti selese. Dari banyaknya pengalaman, ia bisa taksir dengan betul, belon pernah jadi gagal. Maka tempat-tempat yang mesti dibuka itu selalu bisa rampung di dalem ketika yang suda ditentuken dengan member perasaan puas pada kongsi-kongsi yang ia beriken kepercayaan padanya.



Diketik ulang oleh Hamid Anwar dengan penyesuaian tata ejaan. Tata bahasa disamakan dengan aslinya. Sumber kutipan Majalah Sin Po edisi tahun 1919 koleksi Komunitas Kota Toea Magelang


Dan berikut ini adalah sekedar foto-foto hasil acara jelajah tersebut. Beberapa foto adalah hasil komparasi dengan foto lawas. Selamat menikmati :D



Stasiun Bedono



Lobi Stasiun Bedono

Stasiun Bedono tampak muka

Awal dan akhir dari rel gerigi di dekat Stasiun Bedono.Konstruksi gediri adalah berbentuk tabung yang dapat berputar. Jika gerigi loko menyentuh rel gerigi untuk pertama kali, maka gerigi pada rel akan berputar lembut karena selalu diberi pelumas berupa gemuk. Hal ini untuk mengurangi gaya gesek antara rel dengan gerigi loko.

Masyarakat sekitar memanfaatkan rel gerigi untuk jalan lori. Roda lori terbuat dari laker bekas sehingga dapat bergesekan dengan bagian dalam rel gerigi.
Jalur lengkung dekat Bedono sekitar 1930-an, koleksi Kitlv
Jalur lengkung dekat Bedono 2015
Tampak belakang perbukitan Bedono,1930an koleksi Kitlv
Kondisi 2015. Titik pemotret kurang persis. Bukit Bedono tertutup awan

Salah satu kecanggihan dari rumus Archimedes yang diaplikasikan untuk mengalirkan sungai yang tingginya lebih dari rel, tanpa menghalangi rel. Ciamik :D

Salah satu lokasi rel yang terancam ambles karena sering tergenang air

Rel yang dianggap tempat sampah oleh warga sekitar

Rel-rel lengkung yang melintas di daerah Kelurahan, Jambu

Nek kon do foto we do gage-gage!

Akhir rel gerigi mendekati Stasiun Jambu

Jembatan dekat Stasiun Jambu

Kondisi rel dekat Stasiun Jambu
Stasiun Jambu kuno, koleksi Kitlv
Stasiun Jambu, Kini 2015

Loket kuno di Stasiun Jambu

Beberapa rel masih tampak tahun produksinya. Rata-rata adalah pesanan NIS dengan tahun 1902-1903. Selain itu ada juga pesanan S.S (Staats Spoorwegen) dan juga S.J.S (Semarang Joanna Stoomtram Maatsjappic) dan yang diatas adalah yang tertua yang sempat saya lihat. Bertahun 1894 dan merupakan pesanan atau buatan UNION.


Untuk liputan lengkap kegiatan Djeladjah Djaloer Spoor #4 bersama KTM, silakan kunjungi blog teman-teman saya berikut ini:
1. Halim Santoso : disini 
2. Prima Utama : disini 



2 comments:

  1. Oesaha jang bagoes, bung. Saia sampe batja dengan saksama dan serious sekali ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha.. terbawa ceritanya, kan... Bahasanya unik sih aku seneng :D wkwkw

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...