Wednesday, October 25, 2017

Temukan Obatmu di Taman Djamoe Indonesia



Memiliki anak kecil, terkadang menjadi hambatan dalam sebuah keluarga untuk piknik. Kerepotan yang mungkin terbayangkan, membawa peralatan susu, membawa ganti baju dan diapers, dan lain sebagainya. Padahal saya dan istri sebagai orang tuanya, yang masih suka gaya hidup anak muda, masih belum bisa sedewasa itu – untuk tidak berpiknik.

Solusinya, piknik yang dekat-dekat saja. Dan yang edukatif sehingga anak kecil kita bisa belajar dari perjalanan yang kita lakukan.

**
“Piknik yang enak kemana, ya? Yang adem-adem aja”
Tanya istri saya beberapa waktu silam tatkala kami sedang sibuk masak di dapur. Kebetulan saat itu hari libur.
“Nggak banyak pilihan sih, kalau mau ke lereng Gunung, semacam Bandungan tentu kejauhan kasihan kita punya anak kecil” timpal saya.
“Hutan wisata Penggaron rekomended nggak ya?”
“Udah pernah kesana, tempatnya sepi. Kurang pas bawa anak kecil” Jawab saya. “Gimana kalau ke Taman Djamoe Indonesia?” sambung saya kemudian.
 
**
Jam sepuluh pagi, yang sebenarnya sudah menjelang siang, tetapi awan tampaknya sengaja menutup sinar matahari sehingga suasana masih terbilang teduh. Corolla tua kami membelok terparkir seorang diri di depan Taman Djamoe Indonesia, Bergas. Saya lihat suasananya sepi saja seperti dugaan kami. Memang, tempat ini biasanya ramai jika ada kunjungan dari sekolah sekolah atau instansi yang ingin mengerti tentang seluk beluk perjamuan dan tanaman obat. Padahal, sebagai masyarakat biasa nan awam seperti kami pun sebenarnya sangat layak untuk mengunjungi tempat ini.

Sapuan pandangan saya sekeliling, tampak para pegawai tengah bersiap-siap untuk menyambut kami, yang ternyata adalah tamu pertama pada hari itu.

“Silakan pak. Tiketnya sebelah sini” Sambut mbak-mbak penjaga loket masuk. “Jangan lupa isi buku tamu, ya pak”

Di hari biasa, kami harus merogoh kocek murah saja, hanya Rp. 7,500 per kepala. Sementara di hari libur tinggal tambah saja Rp. 2,500,-.

Museum dan Taman Jamu ini terletak tidak jauh dari Pasar Karangjati ke arah Bawen. Tepatnya di Jalan Soekarno Hatta Km 28, Bergas Kidul Kabupaten Semarang, seberang SMAN 1 Bergas. Jika dari Bawen, maka lokasi ini berada di kanan jalan setelah Pabrik Jamu Sido Muncul.
 
Adalah PT. Nyonya Meneer yang merupakan maestro perjamuan di Indonesia kala itu, membangun tempat ini. Selain sebagai tempat menampung koleksi pribadi Ibu Nyonya Meneer, di dalam ruangan museumnya juga memajang aneka pernak pernik peralatan jamu dari jaman dulu. Bahkan di dalam display display lemari di sana juga bisa dijumpai aneka contoh bahan jamu yang merupakan tanaman-tanaman obat yang telah dikeringkan.
 
Puas membaca riwayat dan melihat-lihat koleksi sang legenda, kami pun beranjak ke halaman belakang. Halaman belakang ini boleh dibilang adalah menu utama dari tempat wisata ini. Hamparan luas rumput hijau dengan ratusan jenis tanaman obat yang siap menyambut kami.

Di areal seluas kurang lebih 3 hektar tersebut, dilengkapi jalan beraspal untuk berkeliling. Sejauh mata memandang dan disekeliling kami hanya ada tanaman – tanaman obat. Namanya pun unik unik. Jangan takut bingung, sebab di masing-masing tanamannya ada namanya dan juga khasiatnya.

Beberapa contoh yang unik adalah tanaman soka yang menurut papan informasi khasiatnya adalah untuk menyembuhkan luka baru. Contohnya jika habis putus cinta, maka luka yang baru terasa itu akan mudah sembuh dengan memakan tanaman ini.
 
Kemudian adalah tanaman prasman yang menurut gambaran saya, adalah sebagai obat busung lapar. Lho kok bisa? Ya bisa karena tanaman ini bisa dimasak sayur kemudian disajikan secara prasmanan untuk makan. Laparnya sembuh, kan? Hehehe..

Dan satu lagi contoh yang tidak kalah unik adalah tanaman pacar tembok. Bisa jadi, ini merupakan obat yang manjur bagi jomblo akut. Kalau mentog tidak punya pacar, pacarin aja tembok rumah gebetannya.

**
Siang itu, anak kami Dayu yang baru beberapa minggu bisa berjalan tampak sangat sumringah dan senang bisa berjalan jalan diantara hijaunya tetanaman. Setiap kali melihat bunga, ia langsung memetiknya. Ia juga tertarik dengan beberapa patung kera yang ada di depan tempat spa. Siang itu, tempat spa ini tutup sehingga kami yang tidak niat untuk mencoba, menjadi semakin tidak niat.
 
Lebih ke belakang lagi, area taman jamu ini juga dilengkapi dengan ruang kaca yang di sana bisa kami temui beberapa spesies tanaman unik dan memerlukan perawatan khusus, namun tetap memiliki khasiat penting. Selanjutnya, juga ada sebuah menara gardu pandang yang dari atas, kami bisa melihat panorama indah sekeliling. Karena berada di dekat Gunung Ungaran, maka suasana di sini sangat sejuk, tenang dan damai.
 
Selain itu, disediakan pula beberapa gasebo yang bisa kita gunakan untuk beristirahat sembari menikmati bekal, bagi yang membawa bekal.

Puas berkeliling di taman, kami kemudian kembali ke depan dengan harapan bisa mencoba Es Krim Jamu. Namun sayang, siang itu es krim jamu sedang kosong. Hanya ada beberapa botol jamu di dalam show case. Sebagai tombo gelo, akhirnya kami membeli beberapa potong healthy yoghurt. Yang merupakan yoghurt buah-buahan yang diolah sedemikian rupa dengan tambahan jamu-jamuan sehingga siapapun yang mengkonsumsinya, dipastikan akan semakin sehat.
 
Nah, menurut berita, seiring dengan pailitnya perusahaan PT Nyonya Meneer, maka Taman Djamoe Indonesia (TDI) yang merupakan salah satu asetnya, kini dibeli oleh PT Sido Muncul yang kebetulan memiliki pabrik tidak jauh dari TDI.

Meskipun Nyonya Meneer sudah pailit, jasa-jasanya dalam industri jamu nasional tidak boleh kita lupakan begitu saja. Dan sebagai salah satu produk lokal, sudah selayaknya kita nguri-uri budaya minum jamu dan mengolah sendiri obat kita dari tanaman di sekitar kita. Yuk, temukan obatmu di Taman Djamoe Indonesia!

*Tips : Datanglah pagi hari atau sore hari, jangan lupa membawa lotion anti nyamuk.




4 comments:

  1. Sejujurnya Taman Djamoe Indonesia ini bagus ya buat wisata edukasi. Sayang kurang peminatnya. Tapi katanya bule-bule banyak yang mampir sini.
    Berarti TBI ini tetap buka ya, setelah dibeli Sido Muncul.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, selain edukatif, juga sejuk kok.. Adem gitu disana. Buat foto foto juga bagus..
      Betul, tetap buka.

      Delete
  2. wah ini menarik mas, langka kan ada Taman Djamoe yang mungkin sekalian berfungsi mirip museum kali ya mas. Harus mampir nih kl ke Semarang lagi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dong. Jangan heran kalau tempatnya sepi. Kalau mau rame, situ datang bawa rombongan bis ya :D

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...